Sabtu, 10 Desember 2016

DIAGNOSA KARDIOVASKULAR DAN PERNAFASAN


Kardiovaskuler

INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.        Pantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas, durasi), catat setiap respon verbal/non verbal, perubahan hemo-dinamik

2.        Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan perhatian yang tulus kepada klien.
3.        Bantu melakukan teknik relaksasi (napas dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)
4.        Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi:
§            Antiangina seperti nitogliserin (Nitro-Bid, Nitrostat, Nitro-Dur)


§            Beta-Bloker seperti atenolol (Tenormin), pindolol (Visken), propanolol (Inderal)

§            Analgetik seperti morfin, meperidin (Demerol)



§            Penyekat saluran kalsium seperti verapamil (Calan), diltiazem (Prokardia).
1.        Nyeri adalah pengalaman subyektif yang tampil dalam variasi respon verbal non verbal yang juga bersifat individual sehingga perlu digambarkan secara rinci untuk menetukan intervensi yang tepat.
2.        Menurunkan rangsang eksternal yang dapat memperburuk keadaan nyeri yang terjadi.
3.        Membantu menurunkan persepsi-respon nyeri dengan memanipulasi adaptasi fisiologis tubuh terhadap nyeri.


§         Nitrat mengontrol nyeri melalui efek vasodilatasi koroner yang meningkatkan sirkulasi koroner dan perfusi miokard.
§         Agen yang dapat mengontrol nyeri melalui efek hambatan rangsang simpatis.(Kontra-indikasi: kontraksi miokard yang buruk)
§         Morfin atau narkotik lain dapat dipakai untuk menurunkan nyeri hebat pada fase akut atau nyeri berulang yang tak dapat dihilangkan dengan nitrogliserin.
§         Bekerja melalui efek vasodilatasi yang dapat meningkatkan sirkulasi koroner dan kolateral, menurunkan preload dan kebu-tuhan oksigen miokard. Beberapa di antaranya bekerja sebagai antiaritmia.







Intervensi Keperawatan
Rasional
1.        Pantau HR, irama, dan perubahan TD sebelum, selama dan sesudah aktivitas sesuai indikasi.
2.        Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas


3.        Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal.






4.        Batasi pengunjung sesuai dengan keadaan klinis klien.



5.        Bantu aktivitas sesuai dengan keadaan klien dan jelaskan pola peningkatan aktivitas bertahap.
6.        Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi pasca serangan IMA.
1.      Menentukan respon klien terhadap aktivitas.

2.      Menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan risiko komplikasi.
3.      Manuver Valsava seperti menahan napas, menunduk, batuk keras dan mengedan dapat mengakibatkan bradikardia, penurunan curah jantung yang kemudian disusul dengan takikardia dan peningkatan tekanan darah.
4.      Keterlibatan dalam pembicaraan panjang dapat melelahkan klien tetapi kunjungan orang penting dalam suasana tenang bersifat terapeutik.
5.      Mencegah aktivitas berlebihan; sesuai dengan kemampuan kerja jantung.
6.      Menggalang kerjasama tim kesehatan dalam proses penyembuhan klien.

Intervensi Keperawatan
Rasional
1.      Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan klien





2.      Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan marah, cemas/takut terhadap situasi krisis yang dialaminya.


3.      Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.



4.      Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas/sedativa sesuai indikasi (Diazepam/Valium, Flurazepam/Dal-mane, Lorazepam/Ativan).
1.     Klien mungkin tidak menunjukkan keluhan secara langsung tetapi kecemasan dapat dinilai dari perilaku verbal dan non verbal yang dapat menunjukkan adanya kegelisahan, kemarahan, penolakan dan sebagainya.
2.     Respon klien terhadap situasi IMA bervariasi, dapat berupa cemas/takut terhadap ancaman kematian, cemas terhadap ancaman kehilangan pekerjaan, perubahan peran sosial dan sebagainya.
3.     Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.
4.     Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.
Intervensi Keperawatan
Rasional
1.       Pantau TD, HR dan DN, periksa dalam keadaan baring, duduk dan berdiri (bila memungkinkan)









2.       Auskultasi adanya S3, S4 dan adanya murmur.








3.       Auskultasi bunyi napas.


4.       Berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dikunyah.


5.       Kolaborasi pemberian oksigen sesuai kebutuhan klien

6.       Pertahankan patensi IV-lines/heparin-lok sesuai indikasi.

7.       Bantu pemasangan/pertahankan paten-si pacu jantung bila digunakan.
1.       Hipotensi dapat terjadi sebagai akibat dari disfungsi ventrikel, hipoperfusi miokard dan rangsang vagal. Sebaliknya, hipertensi juga banyak terjadi yang mungkin berhubungan dengan nyeri, cemas, peningkatan katekolamin dan atau masalah vaskuler sebelumnya. Hipotensi ortostatik berhubungan dengan komplikasi GJK. Penurunanan curah jantung ditunjukkan oleh denyut nadi yang lemah dan HR yang meningkat.
2.       S3 dihubungkan dengan GJK, regurgitasi mitral, peningkatan kerja ventrikel kiri yang disertai infark yang berat. S4 mungkin berhubungan dengan iskemia miokardia, kekakuan ventrikel dan hipertensi. Murmur menunjukkan gangguan aliran darah normal dalam jantung seperti pada kelainan katup, kerusakan septum atau vibrasi otot papilar.
3.       Krekels menunjukkan kongesti paru yang mungkin terjadi karena penurunan fungsi miokard.
4.       Makan dalam volume yang besar dapat meningkatkan kerja miokard dan memicu rangsang vagal yang mengakibatkan terjadinya bradikardia.
5.       Meningkatkan suplai oksigen untuk kebutuhan miokard dan menurunkan iskemia.
6.       Jalur IV yang paten penting untuk pemberian obat darurat bila terjadi disritmia atau nyeri dada berulang.
7.       Pacu jantung mungkin merupakan tindakan dukungan sementara selama fase akut atau mungkin diperlukan secara permanen pada infark luas/kerusakan sistem konduksi.

INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.       Pantau perubahan kesadaran/keadaan mental yang tiba-tiba seperti bingung, letargi, gelisah, syok.

2.       Pantau tanda-tanda sianosis, kulit dingin/lembab dan catat kekuatan nadi perifer.

3.       Pantau fungsi pernapasan (frekuensi, kedalaman, kerja otot aksesori, bunyi napas)


4.       Pantau fungsi gastrointestinal (anorksia, penurunan bising usus, mual-muntah, distensi abdomen dan konstipasi)
5.       Pantau asupan caiaran dan haluaran urine, catat berat jenis.




6.       Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (gas darah, BUN, kretinin, elektrolit)
7.       Kolaborasi pemberian agen terapeutik yang diperlukan:
-        Hepari / Natrium Warfarin (Couma-din)





-        Simetidin (Tagamet), Ranitidin (Zantac), Antasida.


§                       -    Trombolitik (t-PA, Streptokinase)
1.       Perfusi serebral sangat dipengaruhi oleh curah jantung di samping kadar elektrolit dan variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik.
2.       Penurunan curah jantung menyebabkan vasokonstriksi sistemik yang dibuktikan oleh penurunan perfusi perifer (kulit) dan penurunan denyut nadi.
3.       Kegagalan pompa jantung dapat menimbulkan distres pernapasan. Di samping itu dispnea tiba-tiba atau berlanjut menunjukkan komplokasi tromboemboli paru.
4.       Penurunan sirkulasi ke mesentrium dapat menimbulkan disfungsi gastrointestinal

5.       Asupan cairan yang tidak adekuat dapat menurunkan volume sirkulasi yang berdampak negatif terhadap perfusi dan fungsi ginjal dan organ lainnya. BJ urine merupakan indikator status hidrsi dan fungsi ginjal.
6.       Penting sebagai indikator perfusi/fungsi organ.


§         Heparin dosis rendah mungkin diberikan mungkin diberikan secara profilaksis pada klien yang berisiko tinggi seperti fibrilasi atrial, kegemukan, anerisma ventrikel atau riwayat tromboplebitis. Coumadin merupakan antikoagulan jangka panjang.
§         Menurunkan/menetralkan asam lambung, mencegah ketidaknyamanan akibat iritasi gaster khususnya karena adanya penurunan sirkulasi mukosa.
§         Pada infark luas atau IM baru, trombolitik merupakan pilihan utama (dalam 6 jam pertama serangan IMA) untuk memecahkan bekuan dan memperbaiki perfusi miokard.



INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.       Auskultasi bunyi napas terhadap adanya krekels.
2.       Pantau adanya DVJ dan edema anasarka
3.       Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan setiap hari bila tidak kontraindikasi.




4.       Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas toleransi kardiovaskuler.
5.       Kolaborasi pemberian diet rendah natrium.
6.       Kolaborasi pemberian diuretik sesuia indikasi (Furosemid/Lasix, Hidralazin/ Apresoline, Spironlakton/ Hidronolak-ton/Aldactone)
7.       Pantau kadar kalium sesuai indikasi.
1.       Indikasi terjadinya edema paru sekunder akibat dekompensasi jantung.
2.       Dicurigai adanya GJK atau kelebihan volume cairan (overhidrasi)
3.       Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air dan penurunan haluaran urine. Keseimbangan cairan positif yang ditunjang gejala lain (peningkatan BB yang tiba-tiba) menunjukkan kelebihan volume cairan/gagal jantung.
4.       Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi tetap disesuaikan dengan adanya dekompensasi jantung.
5.       Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi.
6.       Diuretik mungkin diperlukan untuk mengoreksi kelebihan volume cairan.


7.       Hipokalemia dapat terjadi pada terapi diuretik yang juga meningkatkan pengeluaran kalium.





INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.       Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar klien.
2.       Berikan informasi dalam berbagai variasi proses pembelajaran. (Tanya jawab, leaflet instruksi ringkas, aktivitas kelompok)
3.       Berikan penekanan penjelasan tentang faktor risiko, pembatasan diet/aktivitas, obat dan gejala yang memerlukan perhatian cepat/darurat.

4.       Peringatkan untuk menghindari aktivitas isometrik, manuver Valsava dan aktivitas yang memerlukan tangan diposisikan di atas kepala.

5.       Jelaskan program peningkatan aktivitas bertahap (Contoh: duduk, berdiri, jalan, kerja ringan, kerja sedang)
1.       Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.

2.       Meningkatkan penyerapan materi pembelajaran.


3.       Memberikan informasi terlalu luas tidak lebih bermanfaat daripada penjelasan ringkas dengan penekanan pada hal-hal penting yang signifikan bagi kesehatan klien.
4.       Aktivitas ini sangat meningkatkan beban kerja miokard dan meningkatkan kebutuhan oksigen serta dapat merugikan kontraktilitas yang dapat memicu serangan ulang.
5.       Meningkatkan aktivitas secara bertahap meningkatkan kekuatan dan mencegah aktivitas yang berlebihan. Di samping itu juga dapat meningkatkan sirkulasi kolateral dan memungkinkan kembalinya pola hidup normal.






ASKEP GANGGUAN PERNAFASAN

A.    PENDAHULUAN
Respirasi merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan (penafasan dalam) dan yang terjadi di dalam paru-paru (pernafasan luar). Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri melangsungkan proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbon dioksida dan air dihilangkan (Pearce, 2008).
System respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang merupakan parameter kesehatan manusia. Jika salah satu system respirasi terganggu maka secara system lain yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat menimbulkan terganggunya proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

1.      KONSEP-KONSEP KUNCI
a.       Sistem Pernafasan
b.      Mekanisme Pernafasan
c.       Proses  Asuhan Keperawatan pada Gangguan Pernafasan
2.      PETUNJUK
a.       Pelajarai materi BAB V mengenai Pengertian Metode dengan tekun dan disiplin!
b.      Penyajian setiap bab meliputi: judul bab dan konsep-konsep kunci, petunjuk, kerangka isi, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus, paparan materi, tugas dan latihan, rangkuman dan soal-soal akhir bab yang disertai dengan kunci jawaban.
c.       Dalam uraian materi terdapat test sambil jalan. Test ini dapat menjadi tuntunan pembaca dalam memahami uraian bahan ajar bagian demi bagian.
d.      Kerjakan soal-soal latihan dan soal akhir bab dngan tekun dan disiplin!
e.      Bacalah sumber-sumber pendukung untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan anda.
f.       Ikuti turutan penyajian setiap bab tahap demi tahap.
g.      Selamat belajar, semoga sukses.
3.      TUJUAN PEMBELAJARAN
a.      Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah proses pembelajaran ini diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system respirasi secara benar.
b.      Tujuaan Pembelajaran Khusus
1)      Memahami pengakajian pada klien dengan gangguan sistem respirasi.
2)      Memahami diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan sistem respirasi.
3)  Memahami intervensi dan implementasi pada klien dengan gangguan sistem respirasi.
4)      Memahami evaluasi pada klien dengan gangguan sistem respirasi.
A.    PENYAJIAN MATERI
1.      Sistem Pernafasan
Secara garis besar pernapasan dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
a.      Pernapasan dalam (internal)
Pertukaran gas antara organel sel (mitokondria) dan medium cairnya. Hal tersebut menggambarkan proses metabolism intraseluler yang meliputi konsumsi O2 (digunakan untuk oksidasi bahan nutrisi) dan pengeluaran CO2 (terdapat dalam sitoplasma) sampai menghasilkan energy.
b.      Pernapasan luar (eksternal)
Absorpsi O2 dan pembuangan CO2 dari tubuh secara keseluruhan ke lingkungan luar. Urutan proses pernapasan eksternal adalah:
1)      Pertukaran udara luar ke dalam alveoli melalui aksi mekanik pernapasan yaitu melalui proses ventilasi.
2)      Pertukaran O2 dan CO2 yang terjadi di antara alveolus dan darah pada pembuluh kapiler paru-paru melalui proses difusi.
3)      Pengangkutan O2 dan CO2 oleh system peredaran darah dari paru-paru ke jaringan dan sebaliknya yang disebut proses transportasi.
4)      Pertukaran O2 dan CO2 darah dalam pembuluh darah kapilerjaringan dengan sel-sel jaringan melalui proses difusi.
Saluran pernapasan digolongkan menjadi dua berdasarkan letaknya, yaitu :
a.      Saluran nafas bagian atas
Pada bagian ini memiliki fungsi utama yaitu :
1)  Air conduction (penyalur udara) sebagai saluran yang meneruskan udara menuju saluran napas bagian bawah untuk pertukaran gas.
2)      Protection (perlindungan) sebagai pelindung saluran napas bagian bawah agar terhindar dari masuknya benda asing.
3)Warming, filtrasi,dan humidifikasi sebagai bagian yang menghangatkan, manyaring, dan member kelembapan udara yang dihirup.
b.      Saluran nafas bagian bawah
Secara umum terbagi menjadi dua komponen ditinjau dari fungsinya yaitu:
1)Saluran udara konduktif, yang biasa disebut sebagai percabangan trakheobronkhialis yang terdiri atas trakea, bronkus, dan bronkiolus.
2)      Saluran respiratorius terminal, yang biasa disebut dengan acini yang berfungsi sebagai penyalur (konduksi) gas masuk dan keluar dari saluran respiratorius terminal yang merupakan tempat pertukaran gas yang sesungguhnya.

2.      Mekanisme Pernafasan
Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk metabolisme tubuh diperlukan usaha keras pernafasan yang tergantung pada:
a.      Tekanan intrapleural
Dinding dada merupakan suatu kompartemen tertutup melingkupi paru. Dalamkeadaan normal paru seakan melekat pada dinding dada, hal ini disebabkan karenaada perbedaan tekanan atau selisih tekanan atmosfir ( 760 mmHg) dan tekanan intrapleural (755 mmHg). Sewaktu inspirasi diafrgama berkontraksi, volume rongga dada meningkat, tekanan intra pleural dan intra alveolar turun dibawah tekanan atmosfir sehingga udara masuk Sedangkan waktu ekspirasi volum rongga dada mengecil mengakibatkan tekanan intra pleural dan tekanan intra alveolar meningkat diatas atmosfir sehingga udara mengalir keluar.
1)      Compliance
Hubungan antara perubahan tekanan dengan perubahan volume dan aliran dikenal sebagai compliance. Ada dua bentuk compliance yaitu:
a)      Static compliance, perubahan volum paru persatuan perubahan tekanan saluran nafas (airway pressure) sewaktu paru tidak bergerak. Pada orang dewasa muda normal : 100 ml/cm H2O
b)     Effective Compliance: (tidal volume/peak pressure) selama fase pernafasan. Normal ±50 ml/cm H2O
Penurunan compliance akan mengakibatkan meningkatnya usaha nafas. Compliance dapat menurun disebabkan oleh:
a)      Pulmonary stiffes : atelektasis, pneumonia, edema paru, fibrosis paru
b)      Space occupying prosess: effuse pleura, pneumothorak
c)      Chestwall undistensibility: kifoskoliosis, obesitas, distensi abdomen
2)      Airway resistance (tahanan saluran nafas)
Resistensi saluran napas adalah oposisi terhadap mengalir disebabkan oleh kekuatan gesekan. Hal ini didefinisikan sebagai rasio dari tekanan mengemudi dengan laju aliran udara. Perlawanan mengalir di saluran udara tergantung pada apakah aliran adalah laminar atau turbulen, pada dimensi jalan napas, dan pada viskositas gas.
Untuk aliran laminar, resistensi cukup rendah. Artinya, tekanan mengemudi relatif kecil dibutuhkan untuk menghasilkan laju aliran tertentu. Perlawanan selama arus laminer dapat dihitung melalui penataan ulang Hukum Poiseuille ini:
Variabel yang paling penting di sini adalah jari-jari, yang, berdasarkan elevasi dengan kekuatan keempat, memiliki dampak luar biasa pada perlawanan.Jadi, jika diameter tabung adalah dua kali lipat, ketahanan akan turun dengan faktor enam belas.
Untuk aliran turbulen, resistensi relatif besar. Artinya, dibandingkan dengan aliran laminar, tekanan mengemudi jauh lebih besar akan diperlukan untuk menghasilkan laju alir yang sama. Karena hubungan tekanan-aliran berhenti menjadi linier selama aliran turbulen, tidak ada persamaan untuk menghitung rapi ada hambatannya.
3.      Proses Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan untuk  pemecahan masalah yang memampukan perawat untuk mengatur dan memberikan asuhan keperawatan (Potter & Perry, 2005). Bandman dan Bandman (1995) menguraikan seluruh proses keperawatan sebagai suatu rangkai hubungan cara-hasil (means-ends). Cara adalah keakuratan perawat dalam mengkaji, mendiagnosis, menangani klien, dan hasil adalah peningkatan fungsi dan kesejahteraan klien.
Dalam proses keperawatan terdapat 5 tahapan yaitu:
a.      Pengkajian
Pada dasarnya tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data objektif dan subjektif dari klien.Adapun data yang terkumpul mencakup klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau kebudayaan. (Mc Farland & mc Farlane, 1997)
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengkajian antara lain:
1)      Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, social kultural, dan spiritual yang bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2)      Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1994)
3)      Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4)      Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien. Fase proses keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari sumber primer (klien) dan sumber sekunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan analisis data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan (Bandman dan Bandman, 1995). Metode pengumpulan data meliputi berikut ini :
1)            Melakukan wawancara.
2)            Riwayat kesehatan/keperawatan.
3)            Pemeriksaan fisik.
4)            Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
Secara umum pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan gangguan pernafasan dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1)            Biodata Pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan).
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.
2)            Riwayat Kesehatan
Meliputi :
a)      Keluhan Utama
Keluhan Utama meliputi keluhan saat masuk rumah sakit dan keluhan saat pengkajian. Keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Pain, Quality, Regio, Skala, dan Time)
b)     Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang perlu diketahui untuk menegakan diagnose.
c)      Riwayat Penyakit Terdahulu
Yang sering ditanyakan disini antara lain adalah apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Dan khusus untuk gangguan pernafasan dapat ditanyakan kebiasaan merokok pasien.
d)     Riwayat Penyakit Keluarga
Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru ada tiga hal yaitu:
a)        Penyakit infeksi
Khususnya tuberkulosis paru ditularkan melalui satu orang ke orang lain. Manfaat menanyakan riwayat kontak dengan orang terinfeksi akan dapat diketahui sumber penularannya.
b)      Kelainan alergi
      Contohnya: Asma Bronkial
c)      Pasien Bronkitis Kronis
3)            Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Pengkajian bio-psiko-sosial-spiritual meliputi kajian tentang aspek kebiasaan hidup pasien yang secara signifikan berpengaruh terhadap fungsi respirasi. Beberapa kondisi respiratori timbul akibat stres. Penyakit pernapasan kronis dapat menyebabkan perubahan dalam peran keluarga dan hubungan dengan orang lain, isolasi sosial, masalah keuangan, pekerjaan, atau ketidakmampuan. Dengan mendiskusikan mekanisme pengobatan, perawat dapat mengkaji reaksi pasien terhadap masalah stres bio-psiko-sosial-spiritual dan mencari jalan keluar.
Yang umum dikaji adalah empat belas kebutuhan menurut Virginia Handerson, yaitu Bernafas, Makan dan Minum, Eliminasi, Gerak dan Aktifitas, Istirahat Tidur, Kebersihan Diri,Pengaturan Suhu Tubuh, Rasa Aman, Rasa Nyaman, Pengetahuan, Prestasi dan Produktifitas, Rekreasi, Sosialisasi dan Komunikasi, dan Spiritual.
4)            Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara Inspeksi, Palpasi< Perkusi, dan Auskultasi.
a)      Inspeksi
Prosedur inspeksi yang dilakukan oleh perawat adalah:
                                                      i.            Pemeriksaan dada dimulai dari dada posterior dan pasien harus dalam keadaan duduk.
                                                              ii.            Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
                                                                   iii.            Tindakan dilakukan dari atas sampai ke bawah.
                                                                   iv.            Inspeksi dada posterior terhadap warna kulit dan kondisinya (skar, lesi dan massa) dan gangguan tulang belakang (kifosis, skoliosis dan lordosis).
                                                   v.            Catat jumlah (frekuensi napas), irama (reguler/irreguler), kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
                                                                   vi.            Observasi tipe pernapasan seperti: pernapasan hidung atau pernapasan diafragma serta penggunaan otot bantu pernapasan dan retraksi intercostae.
                                                                          vii.            Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). Rasio pada fase ini normalnya adalah 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan napas dan sering ditemukan pada pasien dengan Chronic Airflow Limititation (CAL) / Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
                                                                    viii.            Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/transversal (T). Rasio normal berkisar antara 1:2 sampai 5:7, tergantung dari kondisi cairan tubuh pasien.
                                                                        ix.            Kelainan pada bentuk dada adalah:
1.      Barrel chest
Timbul akibat terjadinya over inflation paru-paru. Terdapat peningkatan diameter AP:T (1:1), sering terjadi pada pasien emfisemia.
2.      Funnel chest (pectus excavatum)
Timbul jika terjadi depresi pada bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan’s syndrome atau akibat kecelakaan kerja.
3.      Pigeon chest (pectus carinatum)
Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum yang mengakibatkan terjadi peningkatan diameter AP. Terjadi pada pasien dengan kifoskoliosis berat.
4.      Kyphoscoliosis (kifoskoliosis)
Terlihat dengan adanya elevasi scapula yang akan mengganggu pergerakan paru-paru. Kelainan ini dapat timbul pada pasien dengan osteoporosis dan kelainan musculoskeletal lain yang mempengaruhi toraks. Kifosis adalah meningkatnya kelengkungan normal columna vertebrae thoracalis menyebabkan pasien tampak bongkok. Sedangkan skoliosis adalah melengkungnya vertebrae thoracalis ke samping, disertai rotasi vertebrae.
                                                                        ix.            Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru-paru atau pleura.
                                                                         x.            Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan napas.
b)     Palpasi
Palpasi dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan mengetahui vocal/tactile premitus (vibrasi). Palpasi toraks berguna untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti massa, lesi, dan bengak. Perlu dikaji juga kelembutan kulit terutama jika pasien mengeluh nyeri.Perhatikan adanya getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara (vocal premitus).
c)      Perkusi
Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada di sekitarnya, dan pengembangan (ekskursi) diafragma. Jenis suara perkusi ada dua jenis yaitu:
                                                                     i.            Suara perkusi normal
1.Resonan (sonor): dihasilkan pada jaringan paru-paru dan normalnya bergaung dan bersuara rendah.
2.      Dullness: dihasilkan di atas bagian jantung atau paru-paru
3.   Tympany: dihasilkan di atas perut yang berisi udara umumnya bersifat musical.
                                                                       ii.            Suara perkusi abnormal
1.  Hiperresonan: bergaung lebih rendah dibandingkan dengan resonan dan timbul pada bagian paru-paru yang abnormal berisi udara.
2.      Flatness: nadanya lebih tinggi dari dullness dan dapat didengar pada perkusi daerah paha, dimana seluruh areanya berisi jaringan.


d)     Auskultasi
Auskultasi merupakan pengkajian yang sangat bermakna mencangkup mendengar suara napas normal dan suara tambahan (abnormal).Suara napas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan napas dari laring ke alveoli dan bersifat bersih.
                                                                     i.            Jenis suara napas normal adalah:
1.  Bronchial: sering juga disebut tubular sound karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdngar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi dan tidak ada jeda di antara kedua fase tersebut (E > I). Normal terdengar di atas trachea atau daerah lekuk suprasternal.
2.     Bronkovesikular: merupakan gabungan dari suara napas bronkhial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dengan intensitas sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi (E = I). Suara ini terdengar di daerah dada dimana bronkus tertutupoleh dinding dada.
3.Vesikular: terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan (E < I).
                                                                      ii.            Jenis suara napas tambahan adalah:
1.Wheezing: terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring, musical, suara terus-menerus yang disebabkan aliran udara melalui jalan napas yang menyempit.
2.   Ronchi: terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, dan suara mengorok terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan produksi sputum.
3.     Pleural fiction rub: terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara kasar, berciut, dan suara seperti gesekan akibat dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali pasien mengalami nyeri saat bernapas dalam.
4.      Crackles, dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a.     Fine crackles: setiap fase lebih sering terdengar saat inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah-patah akibat udara melewati daerah yang lembab di alveoli atau bronkhiolus. Suara seperti rambut yang digesekkan.
b.      Coarse crackles: lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara lemah, kasar, suara gesekan terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan napas yang besar. Mungkin akan berubah ketika pasien batuk.
5)            Data Penunjang
Data Penunjang merupakan data tambahan yang di dapat dari hasil pemeriksaan penunjang seperti:
1.   Penilaian ventilasi dan oksigenasi : uji fungsi paru, pemeriksaan gas darah arteri, oksimetri serta pemeriksaan darah lengkap.
2.      Tes struktur sistem pernafasan : sinar-x dada , bronkoskopi , scan paru
3.Deteksi abnormalitas sel dan infeksi saluran pernafasan: kultur kerongkongan, sputum , uji kulit, torakentesis.

b.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif untuk membuat diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan spesifik, perawat menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk menetapkan prioritas diagnosa dengan membuat peringkat dalam urutan kepentingannya.Prioritas ditegakkan untuk mengidentifikasi urutan intervensi keperawatan ketika klien mempunyai masalah atau perubahan multiple (Carpenito, 1995).
Proses diagnosa keperawatan dibagi menjadi kelompok interpretasi dan menjamin keakuratan diagnosa dari proses keperawatan itu sendiri. Perumusan pernyataan diagnosa keperawatan memiliki beberapa syarat yaitu mempunyai pengetahuan yang dapat membedakan antara sesuatu yang aktual, risiko, dan potensial dalam diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
a)      Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Yaitu ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi saluran pernapasan guna mempertahankan jalan napas yang bersih.
Tanda-tandanya :
1)      Bunyi napas yang abnormal
2)      Batuk produktif atau non produktif
3)      Cianosis
4)      Dispnea
5)      Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
1)      Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
2)      Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
3)      Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
4)      Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
5)      Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
6)      Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
7)      Immobilisasi
8)      Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi
b)     Ketidakefektifan Pola Nafas
Ketidakefektifan pola nafas merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan ventilasi yang adekuat, actual atau potensial, karena perubahan pola nafas.
Tanda-tandanya :
1)      Dispnea
2)      Peningkatan kecepatan pernapasan
3)      Napas dangkal atau lambat
4)      Retraksi dada
5)      Pembesaran jari (clubbing finger)
6)      Pernapasan melalui mulut
7)      Penambahan diameter antero-posterior
8)      Cianosis, flail chest, ortopnea
9)      Vomitus
10)  Ekspansi paru tidak simetris

Kemungkinan faktor penyebab :
1)      Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
2)      Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
3)      Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
4)      CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
5)      Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
6)      Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau oedema
7)      Penimbunan CO2 akibat penyakit paru
c)      Gangguan Pertukaran Gas
Tanda-tandanya :
1)      Dispnea,
2)      Abnormal gas darah arteri
3)      Hipoksia
4)      Gelisah
5)      Takikardia
6)      Sianosis
7)      Hipoksemia
8)      Tingkat kedalaman irama pernafasan abnormal

Kemungkinan penyebab :
1)      Penumpukan cairan dalam paru
2)      Gangguan pasokan oksigen
3)      Obstruksi saluran pernapasan
4)      Bronkhospasme
5)      Edema paru
6)      Pembedahan paru

c.       Intervensi
No
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
Tujuan/ Kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1
Kebersihan jalan napas     tidak   efektif berhubungan dengan …….. ditandai dengan …………. 
Setelah diberikan asuhan keperawatan ……………x24 jam diharapkan bersihan jalan napas klien efektif dengan kriteria hasil :
  -Menunjukan pembersihan jalan napas yang efektif , yang dibuktikan oleh pencegahan aspirasi,; status pernapasan : kepatenan jalan napas,; dan status pernapasan: ventilasi tidak terganggu.
  -Menunjukan status pernapasan : kepatenan jalan napas , yang dibuktikan oleh indicator:
    -Kemudahan     bernapas
   -Frekuensi dan irama pernapasan baik
    -Pergerakan sputum keluar dari jalan napas
    -Pergerakan sumbatan keluar  dari jalan napas
Intervensi NIC
1).Pemantauan pernapasan pasien , mengumpulkan dan menganalisis data pasien ( tanda vital )
2).Manajemen jalan napas 
3).Berikan udara/oksigen
4).Pengaturan posisi, mengubah posisi pasien




5).Lakukan dan bantu dalam terapi nebulizer


6).Instrusikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam
7).Pengisapan jalan napas ( suction )

8).Kolaborasi pemberian obat

1).Untuk memastikan kepatenan  jalan napas   dan pertukaran gas yang adekuat
2).Memfasilitasi kepatenan jalan napas
3)Membantu jalan napas
4).Untuk memfasilitasi kesejahteraan fisiologis dan psikososial, serta memudahkan mengeluarkan skeret
5).Mengencerkan secret , mempermudah pernapasan

6).Memudahkan pengeluaran sekret
7).Untuk menghilangkan secret

8).Untuk perawatan paru
2
Pola napas tidak efektif    berhubungan dengan ………….. ditandai dengan ……….
Setelah diberikan asuhan keperawatan ……………x24 jam diharapkan pola napas klien efektif dengan kriteria hasil :
Hasil NOC

-Menunjukan pola pernapasan efektif , yang dibuktikan oleh status pernapasan ; status pentilasi pernapasan tidak terganggu , kepatenan jalan napas, tidak ada penyimpangan tanda vital dari rentang normal.
-Perubahan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu  yang dibuktikan oleh :
    a. kedalaman inspirasi dan kemudahan nafas
   b. ekspansi dada simetris
-Menunjukan tidak ada gangguan status pernapasan ;
    a.penggunaan otot aksesorius
   b. suara napas tambahan
   c. pendek napas
Intervensi NIC

1).Manajemen jalan napas

2).Pemantauan tanda vital

3).Pantau pola pernapasan , auskultasi suara napas



4).Ajarkan teknik relaksasi

5).Ajarkan teknik batuk efektif
6).Berikan terapi nebulizer ultrasonik dan udara atau oksigen

7).Atur posisi pasien           ( fowler)
8).Kolaborasi pemberian obat

1).memfasilitasi kepatenan jalan napas
2).Untuk menentukan dan mencegah komplikasi
3).Mengetahui tindakan selanjutnya yang akan dilakukan serta mengetahui adanya suara tambahan
4).Untuk memperbaiki pola pernapasan
5).Mengeluarkan sekret
6).Untuk membantu pola pernapasan

7).Mengoptimalkan pernapasan
8).Mengoptimalkan pola pernapasan
3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan…… ditandai dengan ….
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ….x 24 jam
Gangguan pertukaran
pasien teratasi dengan
kriteria hasi:

NOC:
-Mendemonstrasikan peningkatan
ventilasi dan oksigenasi
yang adekuat

-Memelihara kebersihan paru paru
dan bebas dari tanda
tanda distress
pernafasan

-Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursedlips)

-Tanda tanda vital
dalam rentang normal

-AGD dalam batas
Normal

-Status neurologis
dalam batas normal
Intervensi NIC
1.  Kaji pola pernapasan pasien Monitor TTV.

2.Posisikan pasien untuk memaksimalkan
Ventilasi


3.Keluarkan sekret dengan batuk atau
Suction

4.Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan

5.Monitor respirasi dan status O2

6.Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot tambahan,
retraksi otot .

7.Monitor suara nafas, seperti dengkur, Monitor pola nafas 

8.Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan

9.Kolaborasi pemberian obat

1.Mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
2.Memaksimalkan ventilasi

3.Mengoptimalkan pernapasan

4.Melakukan tindakan selanjutnya
5.Mengoptimalkan jalan napas
6.Mengetahui adanya keabnormalan pada pernapasan untuk mengoptimalkan tindakan
7. Melakukan tindakan selanjutnya

8. Mendengarkan bunyi pernapasan

9. Mengoptimalkan pengobatan yang diberikan
d.      Implementasi
Dilaksanakan berdasarkan intervensi keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya.
e.       Evaluasi
Evaluasi dilakukan berdasarkan tujian dan outcome



Tidak ada komentar:

Posting Komentar