TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Stroke /
cedera cerebrovaskuler ialah gangguan neurologik tiba-tiba yg terjadi dampak pembatasan
/ terhentinya aliran darah lewat system suplai arteri otak (Sylvia A Price,
2006)
Sroke Non Hemorajik adalah sindroma klenis yang
awalnya timbul mendatar, progresi cepat berupa depisit neurologis fokal /
global yang berlangsung 24 jam lebih atau langsung menimbulkan kematian yang di
sebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non staumatik (Arif Masjoer, 2007).
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya
iskemia akibat emboli dan thrombosis selebral biasanya terjadi setelah lama
beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi pendarahan.
Namun, terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder (Arif Mutaqin, 2008).
Dengan demikian stroke dapat didefinisikan adanya
tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal
(atau global) dengan gejala- gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan
bukan oleh karena trauma kapitis. Patologis ini menyebabkan perdarahan dari
sebuah robekan yang terjadi pada dinding pembuluh atau kerusakan sirkulasi
serebral oleh oklusi parsial atau seluruh lumen pembuluh darah dengan pengaruh
yang bersifat sementara atau permanen.
B.Etiologi
Menurut
Smeltzer (2001) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian
yaitu :
a. Trombosis
cerebral
Thrombosit ini terjadi pada
pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak
yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti disekitarnya.Keadaan yang dapat
menyebabkan thrombosit cerebral :
-
Atherosklerosis/arterioskerosis
adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya ketentuan atau elastisitas
pembuluh darah
-
Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah
bertambah kental, peningkatan viskositas hematokrit meningkat dapat melambatkan
aliran darah serebral
b. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh
darah otak oleh darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari
thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli
tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik.
c. Haemortologi
Perdarahan intrakranial atau intra serebral
termasuk perdarahan dalam ruang sub arachnoid/kedalam jaringan otak sendiri.
Ini terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh
darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat
mengakibatkan penekanan, pengerasan dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan
sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark
otak, oedema dan mungkin hemiasi otak.
d. Hypoksia
Umum
- Hipertensi
yang parah
- Cardiac
pulmonary arrest
- CO
turun akibat aritmia
e. Hypoksia
setempat
- Spasme
arteri serebral yang disertai perdarahan sub aradinoid
- Vasokontriksi
arteri otak disertai sakit kepala migran.
C.
Manifestasi
Klinis
Menurut Suzzane C.
Smelzzer, dkk, (2001, hlm. 2133-2134) menjelaskan ada enam tanda dan gejala
dari stroke non hemoragik yang mana tergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah
mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah
aliran darah kolateral. Adapun gejala Stroke non hemoragik adalah:
a. Kehilangan motorik: stroke adalah penyakit neuron atas
dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter. Gangguan kontrol volunter pada
salah satu sisi tubuh dapat menunjukan kerusakan pada neuron atas pada sisi
yang belawanan dari otak. Disfungsi neuron paling umum adalah hemiplegi
(paralisis pada salah satu sisi tubuh) karena lesi pada sisi otak yang
berlawanan dan hemiparises (kelemahan salah satu sisi tubuh)
b. Kehilangan komunikasi: fungsi otak lain yang yang
dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab
afasia paling umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh
hal berikut :
1) Disatria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan
bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang
bertanggung jawab menghasilkan bicara.
2)
Disfasia atau afasia (kehilangan bicara), yang
terutama ekspresif atau reseptif.
3)
Apraksia, ketidakmampuan untuk melakukan
tindakan yang dipelajari sebelumnya.
c.
Defisit lapang pandang, sisi visual yang terkena
berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis yaitu kesulitan menilai jarak, tidak
menyadari orang atau objek ditempat kehilangan penglihatan
d. Defisit sensori, terjadi pada sisi berlawanan dari
lesi yaitu kehilangan kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian
tubuh.
e.
Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik,
bila kerusakan pada lobus frontal, mempelajari kapasitas, memori atau fungsi
intelektual mungkin terganggu. Disfungsi ini dapat ditunjukan dalam lapang
perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa dan kurang motivasi.
f. Disfungsi kandung kemih, setelah stroke pasien mungkin
mengalami inkontenensia urinarius karena kerusakan kontrol motoric
Faktor
resiko pada stroke :
Menurut Smeltzer
C. Suzanne, 2002 faktor resiko pada stroke antara lain :
a.
Hipertensi
- Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
- Kolesterol tinggi
- Obesitas
- Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
- Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
- Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan kadar estrogen tinggi)
- Penyalahgunaan obat (kokain)
- Konsumsi alkohol
D.
Patofisiologi
Otak sangat tergantung pada O2 dan
tidak mempunyai cadangan O2. bila terjadi
anoksia
seperti pada CVA, metabolisme diotak mengalamiperubahan, kematian sel
dan kerusakan permanen dapat terjadi
dalam 3-10 menit. Tiap kondisi yang
menyebabkan perubahan perfusi diotak
akan menimbulkan Hipoksia/ Anoksia.
Hipoksia menyebabkan Iskemi otak.
Iskemi otak dalam waktu lama menyebabkan
sel mati permanen dan berakibat
terjadi infark otak disertai edema otak. Thrombosis
merupakan penyebab umum dari CVA dan
yang paling sering menyebabkan
Thrombosisi otak adlah
Aterosklerosis. Thrombosis sering timbul pada PD besar
disertai kerusakan dinding pembuluh
darah pada tempat sumbatan. Emboli sering
kali bersumber dari jantung, dan
biasanya emboli mengenai PD kecil dan dijumpai
pada titik Bifurkasi dimana pembuluh
menyempit. (Long : 1996)
Ketika tekanan darah sistemik
meningkat, pembuluh serebral akan
berkonstriksi. Derajat konstriksi
tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi
selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun
akan menyebabkan hialinisasi pada
lapisan otot pembuluh serebral. Akibatnya,
diameter lumen pembuluh darah
tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya
karena pembuluh serebral tidak dapat
berdilatasi atau berkonstriksi dengan leluasa
untuk mengatasi fluktuasi dari
tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan
tekanan darah sistemik maka tekanan
perfusi ke jaringan otak tidak adekuat. Hal ini
akan mengakibatkan iskemik serebral.
(http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052002/pus-1.htm)
Iskemik pada stroke disebabkan oleh
terbatasnya atau aliran darah terhenti.
Penurunan aliran darah berarti terjadi
penurunan fungsi neuron.(www.strokeforum.com )
E.
Pemeriksaan Diagnostik
1.
Rontgen kepala dan
medulla spinalis
2.
Elektro encephalografi
3.
Lumbal fungsi
4.
Angiografi
5.
Computerized tomografi
scaning (CT scan)
6.
Magnetik Resonance
Imaging (MRI)
F. Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan
medis
1) Pengobatan konservatif meliputi:
a.
Diuretika: Untuk menurunkan edema serebral, yang
mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.
b.
Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis
dan embolisasi dari tempat lain dalam kardiovaskuler.
c.
Anti trombosit: dapat diresepkan karena
trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan
embolisasi.
2) Pengobatan pembedahan
a.
Endosteroktomi karotis membentuk kembali arteri
karotis, yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
b.
Revaskularisasi terutama merupakan tindakan
pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh klien TIA
2.
Penatalaksanaan
keperawatan
a. Breathing
Harus
dijaga agar jalan nafas bebas dan bahwa fungsi paru-paru cukup baik. Pengobatan
dengan oksigen hanya perlu bila kadar oksigen darah berkurang.
b. Brain
Oedem
otak dan kejang-kejang harus dicegah dan diatasi. Bila terjadi
oedem otak, dapat dilihat dari keadaan penderita yang mengantuk,
adanya bradikardi atau dengan pemeriksaan funduskopi, dapat diberikan manitol.
Untuk mengatasi kejang-kejang yang timbul dapat diberikan Diphenylhydantoin
atau Carbamazepin.
c. Blood
Tekanan
Darah dijaga agar tetap agar cukup tinggi untuk mengalirkan darah ke otak.
Pengobatan hipertensi pada fase akut dapat mengurangi tekanan perfusi yang justru
akan menambah iskemik lagi. Kadar Hb dan glukosa harus dijaga cukup
baik untuk metabolisme otak. Pemberian infus gluosa harus dicegah karena akan
menambah terjadinya asidosis di daerah infark yang ini akan mempermudah
terjadinya oedem. Keseimbangan elektrolit harus dijaga.
d. Bowel
Defekasi
dan nutrisi harus diperhatikan. Hindari terjadinya obstipasi karena akan
membuat pasien gelisah. Nutrisi harus cukup. Bila perlu diberikan nasogastric
tube.
e. Bladder
Miksi
dan balance cairan harus diperhatikan . Jangan sampai terjadi retentio urine
Pemasangan kateter jika terjadi inkontenensia.
G. Komplikasi
Komplikasi stroke meliputi
hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral dan luasnya area cidera
(Suzzane C. Smelzzer, dkk, 2001)
a.
Hipoksia serebral
Otak bergantung pada ketersedian oksigen yang
dikirimkan ke jaringan.
b. Penurunan darah serebral
Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah,
curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral.
c.
Luasnya area cidera
Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark
miokard atau fibralsi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik.
Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan
menurunkan aliran darah serebral. Distritmia dapat mengakibatkan curah jantung
tidak konsisten dan penghentian thrombus lokal.
H.
Pathway

I. Fokus Pengkajian
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.W DENGAN STROKE NON HAEMORAGIC
DI RUANG ICU RSUD BREBES
Nama
mahasiswa :
NIM :
Tanggal
pengkajian : 13 Juni 2016
Pukul
: 14.15 wib
A. IDENTITAS PASIEN
Inisial Pasien : Ny.W
Usia :
60 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Alamat :
Diagnosa Medis : Stroke Haemoragik
No RM : 691141
Penanggung Jawab
Inisial nama : Tn. P
Usia :
38 th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Alamat :
Hub dengan pasien : Anak kandung
B. PENGKAJIAN
1. Wawancara
a. Keluhan utama :
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa bicara sejak dua
hari yang lalu, tangan dan kaki kanan susah digerakkan, kemarin tiba-tiba jatuh
(pasien sulit ditanya/informasi didapat dari keluarga)
b. Riwayat penyakit sekarang
Saat ini pasien menderita hipertensi yang tidak kunjung
sembuh dan menyebabkan pasien terjatuh sehingga pasien dibawa ke rumah sakit.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pasien menderita hipertensi.
d. Riwayat penyakit keluarga
Ayah pasien menderita penyakit darah tinggi,yang
menyebabakan dia meninggal.
e. Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani yang setiap hari terpapar zat
kimia dari insektisida yang digunakan.
f. Riwayat geografi
Pasien tinggal di lingkungan yang
dekat dengan persawahan
g. Riwayat alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi
h. Kebiasaan sosial
Dalam pola hidup pasien jarang mengkonsumsi makanan cepat
saji maupun mengkonsumsi alkohol
i. Kebiasaan merokok
Pasien tidak merokok.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1.
Keadaan umum : Lemah / E2 M2 Vafasia
2.
Keluhan nyeri :
3.
B1 (Breathing) pernafasan
Inspeksi :sesak nafas
Palpasi : -
Perkusi : -
Auskultasi :wheezing
Respiratory rate : 30 x/menit
Oksigenasi : nasal kanul
4. B2 (Blood) kardiovaskuler
Inspeksi :-
Palpasi :-
Perkusi :-
Auskultasi : jantung normal/reguler
Heart rate : 90 x/menit
Irama nadi : teratur
Kualitas nadi : cepat
Akral : hangat
JVP :
130/90 mmHg
EKG :
sinus tachikardi
5. B3 (Brain) persyarafan
Tingkat kesadaran :sopor
GCS :
E2 M2 Vafasia
Reaksi pupil : -
Reflek patologi : -
6. B4 (Bladder) perkemihan
Distensi VU :tidak tegang
Urine : 600ml dalam 12 jam
Warna urine : kuning
Alat bantu : terpasang DC
7. B5 (Bowel) pencernaan
Inspeksi : pasien lemah, terpasang NGT
Auskultasi : peristaltic berlebih
Palpasi : tidak ada kelainan pada lien maupun hepar
Perkusi : kembung
Kondisi mulut : menceng ke kanan
BAB (frekuensi,konsistensi) : keras
Alat bantu : -
8. B6 (Bone) musculoskeletal
Kekuatan otot : 4/5
ROM :
tak terarah
Hemiplegi/parase : dextra
Turgor : jelek
Kelainan vertebra : -
Fraktur : -
D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan radiologi :
Pemeriksaan CT Scan Kepala Tanpa Kontras :
Tampak lesi hipodens luas di lobus
temporalis dan parietalis sinistra, serta ganglia basalis sinistra dengan
perifokal udema luas hingga menyempitkan ventrikel lateralis sinistra, tak
tampak lateralisasi
Kesan :
Infark akut luas lobus temporalis
sinistra, parietalis sinistra, dan ganglia basalis sinistra
Penyempitan V lateralis sinistra
Udema cerebri
Tak tampak lateralisasi
2. EKG tanggal : sinus tachikardi tanggal 13 juni 2016
3. AGD tanggal :13 juni 2016
|
Pemeriksaan
|
Hasil
|
Nilai Rujukan
|
|
Ureum
|
H
67 . 00 mg/dL
|
19
. 00 – 50 . 00
|
|
Creatinin
|
0
. 70 mg/dL
|
0
. 60 – 1 . 10
|
|
Natrium
darah
|
152
. 5 mg/dL
|
105
– 155
|
|
Kalium
darah
|
L
3 . 3 mg/dL
|
3
. 6 – 5 . 5
|
|
Klorida
darah
|
H
115 . 0 mg/dL
|
95
– 105
|
|
Neutrofil
|
H 93 . 9
|
50 – 70
|
|
Limfosit
|
L 2 . 4
|
20 – 40
|
|
Monosit
|
3 . 6
|
2 – 8
|
|
Eusinofil
|
L 0 . 0
|
0 – 1
|
|
Haemoglobin
|
L 12 . 3
|
13 . 0 – 16 . 0
|
|
Leukosit
|
H 15 . 43
|
4 . 0 – 10 . 00
|
|
Eritrosit
|
4 . 18
|
4 . 00 – 5 . 50
|
|
Hematokrit
|
L 37 . 4
|
40 . 0 – 48 . 0
|
|
MCV
|
89 . 5
|
91 . 0 – 96 . 0
|
|
MCH
|
29 . 4
|
27 . 0 – 31 . 0
|
|
MCHC
|
22 . 9
|
32 . 0 – 37 . 0
|
|
Trombosit
|
L 117
|
150 – 400
|
|
Kolesterol total
|
166
|
<200
|
|
Trigliserida
|
H 278
|
<200
|
|
Protein total
|
L 5 . 7
|
6 . 6 – 8 . 6
|
|
Albumin
|
H 1 . 21
|
3 . 8 – 5 . 1
|
|
Rasio alb/glob
|
1 . 0
|
>=1
|
|
Globulin
|
2 . 8
|
|
E. PROGRAM TERAPI
|
Inisial pasien : Ny.W
|
||||
|
Nama obat
|
Dosis
|
Cara pemberian
|
Waktu pemberian
|
Fungsi
|
|
Citicolin
Ranitidin
Lapibal
Ceftriaxon
Dexametason
Omeprasole
Paracetamol
Aspilet
Vitamin Bc
|
2x1 ampul
2x1 ampul
1x1 ampul
2x2gram
3x1 ampul
2x1 ampul
3x500 gram
1x1
1x1
|
IV
IV
IV
IV
IV
Oral
Oral
Oral
|
10.00 dan 22.00
10.00 dan 22.00
10,00
06.00 dan 18.00
05.00 13.00 21.00
06.00 dan 18.00
06.00 12.00 18.00
06.00
06.00
|
Anti peptikum
Vitamin
Antibiotik
Anti inflamasi
Anti peptikum
Antipiretik
Analgetik
Vitamin
|
F. ANALISA DATA
|
No
|
Tanggal, jam
|
Data
|
Problem
|
Etiologi
|
|
1.
|
13 juni
2016
14:30 WIB
|
DS : Menurut keluarga pasien tidak
dapat bicara
DO :
- Gangguan status mental
- Perubahan perilaku
- Perubahan respon motoric
- Perubahan reaksi pupil
- - Kesulitan
menelan
- - Kelemahan
atau paralisis ekstrermitas
- -
Abnormalitas bicara
|
Perfusi jaringaan cerebral tidak
efektif
|
O2 otak menurun
|
|
2.
|
13 juni
2016
14:30 WIB
|
-
DS : -
-
DO :
-
- Sesak nafas
-
- Wheezing
-
- Pasien tidak sadar
-
(sopor E2 M2 Vafasia)
|
Pola
nafas tidak efektif
|
Disfungsi neuromuskuler
|
|
3.
|
13 juni l2016
14:30 WIB
|
DS :
-
- Menurut keterangan keluarga, pasien tidak mampu melakukan
aktivitas
· - Menurut keterangan keluarga tangan
kanan pasien tidak dapat digerakkan
DO :
-
- Pasien tampak lemah
· TD: 130/90mmHg
Nadi: 90 x/menit
Suhu: 37,3o
C
RR: 30 x/menit
· - Aktivitas
pasien dibantu oleh keluarga atau perawat
· - Tangan kanan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan
· - Kekuatan otot 4/5.
· - Terpasang infus RL 20 tpm
· - Terpasang Dower Cateter
-
|
Gangguan
mobilitas fisik
|
Kelemahan anggota gerak
|
|
4.
|
13 juni l2016
14:30 WIB
|
DS : Menurut keluarga pasien tidak
bisa mengunyah dan menelan
DO :
-
- Pasien lemah
-
- Turgor jelek
|
Ketidakseimbangan nutrisi:kurang dari kebutuhantubuh
|
Ketidakmampuan menelan makanan
|
G.
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perfusi jaringan tidak efektif
berhubungan dengan O2 otak yang menurun
2.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
3.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
4.Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan
makanan
H.
INTERVENSI
|
No
|
Diagnosa keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Perfusi
jaringan tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
Ketidakseimbangan nutrisi
berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien
|
-
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan gangguan perfusi jaringan tercapai secara optimal dengan kriteria
hasil :
-
- Fungsi sensori dan motoric membaik
-
-Terjadi peningkatan tingkat kesadaran
-
Setelah
dilakukan tindakan perawatan, diharapkan pola nafas pasien efektif dengan
kriteria hasil :
- Menunjukkan
jalan nafas yang paten ( tidak merasa tercekik, irama nafas normal, frekuensi
nafas normal,tidak ada suara nafas tambahan
- Tanda-tanda
vital dalam batas normal
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien tidak mengalami gangguan mobilitas
fisik dengan
kriteria hasil:
· - Pasien mampu melakukan aktivitas
mandiri
· - Pasien mampu mempertahankan /meningkatkan kemampuan otot
S
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi terpenuhi dengan kriteria
hasil :
-
- Terjadi keadekuatan tingkat gizi
-
- Turgor baik
-
- Nilai laboratorium ( albumin ) yang dianjurkan 4
|
-
Peripheral sensation management
-
- Pantau TTV tiap jam dan catat hasilnya
-
- Kaji respon motorik terhadap perintah
sederhana
-
- Pantau status neurologis
secarateratur
-
- Dorong latihan kaki aktif/ pasif
-
- Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Respiratori
Status Management
- - Pertahankan jalan nafas yang paten
- - Observasi tanda-tanda
hipoventilasi
- - Berikan terapi O2
- - Dengarkan adanya kelainan
suara tambahan
- - Monitor vital sign
Exercise
therapy : ambulation
- Kaji
kemampuan secara fungsional
2. - Monitor tanda vital
3. - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Ajarkan pasien untuk latihan rentang gerak aktif pada
ekstermitas yang sehat
5. - Beri topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk
mencegah pembengkakan
6. - Bantu melatih pasien untuk melakukan latihan sendi yang disarankan
7. - Libatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8. - Kolaborasi pemberian obat dengan dokter
G
Nutrition
management:
-
- Kaji adanya alergi makanan
-
- Bantu makan
sesuai dengan kebutuhan klien
-
- Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian
-
- Beri makanan sesuai diet
-
- Kolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai
laboratorium
|
I.
IMPLEMENTASI
|
No Dx
|
Hari, tanggal, jam
|
Implementasi
|
Respon
|
|
1
2
3.
4
|
Senin 13-05-2016
15:30 WIB
15:45 WIB
15:50 WIB
Senin
13-05-2016
18:00 WIB
18:15 WIB
18:20 WIB
Senin
13-05-2016
18:30 WIB
18:20 WIB
18:35 WIB
18:40 WIB
18:45 WIB
Senin 13-05-2016
18:45 WIB
18:50 WIB
18:55 WIB
|
- Memantau TTV tiap jam dan
mencatat hasilnya
-
- Mengkaji respon motorik
terhadap perintah sederhana
-
-
- Memantau status neurologis
secarateratur
-
- Berkolaborasi tentang pemberian obat
-
-ceftriaxon 2 gr
-
-omeprazol 1 gr
- Mempertahankan jalan nafas yang paten
- - Mengobservasi tanda-tanda
hipoventilasi dan memberikan
- e terapi O2 3L/menit
- - Mendengarkan adanya kelainan
suara tambahan
- - Memonitor vital sign
- Mengkaji kemampuan secara fungsional
3. - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada
ekstermitas yang sehat
5. - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk
mencegah pembengkakan dan
melibatkan keluarga untuk membantu
pasien latihan gerak
8.
– - Memberi makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui
NGT
-
- Memberikan makanan sesuai diet
-
- Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai
laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)
|
-
DO : S : 36ÂșC N : 90X/m
-
T : 130/90mmHG
-
DS ; - Pasien hanya diam
-
-
DO
; Pasien hanya diam
-
DS
: -
-
-
DO- pasien hanya diam
-
DS : -
-
DO : - obat masuk lewat ngt dan
-
tidak terjadi
alergi
DS : -
DO : terpasang alat bantu nafas
DS ; -
DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
DS : -
-
-
DO : suara nafas teratur
-
DS : -
-
DO : T : 130/90mmHG
S : 36Âșc N : 90X/m
-
DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
-
DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu
DO ;pasien tidak berespon
DS ; -
DS ; -keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
DO ;-Memasukkan
makanan dan obat lewat NGT dan : pasien diam saja
-
|
|
No Dx
|
Hari, tanggal, jam
|
Implementasi
|
Respon
|
|
1
2
3.
4
|
Selasa 14-05-2016
15:30 WIB
15:45 WIB
15:50 WIB
Selasa
13-05-2016
18:00 WIB
18:15 WIB
18:20 WIB
Selasa
13-05-2016
18:30 WIB
18:20 WIB
18:35 WIB
18:40 WIB
18:45 WIB
Selasa
13-05-2016
18:45 WIB
18:50 WIB
18:55 WIB
|
- Memantau TTV tiap jam dan
mencatat hasilnya
-
- Mengkaji respon motorik
terhadap perintah sederhana
-
-
- Memantau status neurologis
secarateratur
-
- Berkolaborasi tentang pemberian obat
-
-ceftriaxon 2 gr
-
-omeprazol 1 gr
- Mempertahankan jalan nafas yang paten
- - Mengobservasi tanda-tanda
hipoventilasi dan memberikan
- e terapi O2 3L/menit
- - Mendengarkan adanya kelainan
suara tambahan
- - Memonitor vital sign
- Mengkaji kemampuan secara fungsional
3. - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada
ekstermitas yang sehat
5. - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk
mencegah pembengkakan dan
melibatkan keluarga untuk membantu
pasien latihan gerak
8.
– - Memberi makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui
NGT
-
- Memberikan makanan sesuai diet
-
- Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai
laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)
|
-
DO : S : 36ÂșC N : 90X/m
-
T : 130/90mmHG
-
DS ; - Pasien hanya diam
-
-
DO
; Pasien hanya diam
-
DS
: -
-
-
DO- pasien hanya diam
-
DS : -
-
DO : - obat masuk lewat ngt dan
-
tidak
terjadi alergi
DS : -
DO : terpasang alat bantu nafas
DS ; -
DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
DS : -
-
-
DO : suara nafas teratur
-
DS : -
-
DO : T : 130/90mmHG
S : 36Âșc N : 90X/m
-
DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
-
DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu
DO ;pasien tidak berespon
DS ; -
DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
DO
;-Memasukkan makanan dan obat lewat
NGT dan : pasien diam saja
-
|
|
No Dx
|
Hari, tanggal, jam
|
Implementasi
|
Respon
|
|
1
2
3.
4
|
Rabu 15-05-2016
15:30 WIB
15:45 WIB
15:50 WIB
Rabu
15-05-2016
18:00 WIB
18:15 WIB
18:20 WIB
Rabu
13-05-2016
18:30 WIB
18:20 WIB
18:35 WIB
18:40 WIB
18:45 WIB
Rabu
13-05-2016
18:45 WIB
18:50 WIB
18:55 WIB
|
- Memantau TTV tiap jam dan
mencatat hasilnya
-
- Mengkaji respon motorik
terhadap perintah sederhana
-
-
- Memantau status neurologis
secarateratur
-
- Berkolaborasi tentang pemberian obat
-
-ceftriaxon 2 gr
-
-omeprazol 1 gr
- Mempertahankan jalan nafas yang paten
- - Mengobservasi tanda-tanda
hipoventilasi dan memberikan
- e terapi O2 3L/menit
- - Mendengarkan adanya kelainan
suara tambahan
- - Memonitor vital sign
- Mengkaji kemampuan secara fungsional
3. - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada
ekstermitas yang sehat
5. - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk
mencegah pembengkakan dan
melibatkan keluarga untuk membantu
pasien latihan gerak
8.
– - Memberi makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui
NGT
-
- Memberikan makanan sesuai diet
-
-
- Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai
laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)
|
-
DO : S : 36ÂșC N : 90X/m
-
T : 130/90mmHG
-
DS ; - Pasien hanya diam
-
-
DO
; Pasien hanya diam
-
DS
: -
-
-
DO- pasien hanya diam
-
DS : -
-
DO : - obat masuk lewat ngt dan
-
tidak
terjadi alergi
DS : -
DO : terpasang alat bantu nafas
DS ; -
DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
DS : -
-
-
DO : suara nafas teratur
-
DS : -
-
-
DO : T : 130/90mmHG
S : 36Âșc N : 90X/m
-
DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
-
DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu
DO ;pasien tidak berespon
DS ; -
DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon
DO
;-Memasukkan makanan dan obat lewat
NGT dan : pasien diam saja
-
|
J.
EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF
|
No
DX
|
Hari, tanggal, jam
|
Diagnosa keperawatan
|
SOAP
|
TTD
|
|
1
2
3
4
|
Senin, 13-05-2016.
19:00 WIB
Senin,13-05-2016.
19:00 WIB
Senin,13-05-2016.
19:00 WIB
Senin,13-05-
2016.
19:00 WIb
|
Perfusi jaringan yang tidak
efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi
nutrien
|
S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi
-
- Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-
- Kaji respon motorik terhadap perintah
sederhana
-
- Pantau status neurologis
secarateratur
-
- Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian
obat
S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
- Pasien hanya
diam
- 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- - Pertahankan jalan nafas yang paten
- - Observasi tanda-tanda
hipoventilasi
- - Berikan terapi O2
- - Monitor vital sign
S :-
O : - Pasien hanya diam
- Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
- Monitor tanda vital
3. - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Beri topang
ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6 - Libatkan
keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8. - Kolaborasi pemberian obat dengan
dokter
S : -
O :
pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Bantu makan sesuai dengan kebutuhan klien
-
- Beri makanan
sesuai diet
-
- Kolaborasi
dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium
|
|
|
No
DX
|
Hari, tanggal, jam
|
Diagnosa keperawatan
|
SOAP
|
TTD
|
|
1
2
3
4
|
Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB
Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB
Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB
Selasa,13-05-
2016.
19:00 WIb
|
Perfusi jaringan yang tidak
efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi
nutrien
|
S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi
-
- Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-
- Kaji respon motorik terhadap perintah
sederhana
-
- Pantau status neurologis
secarateratur
-
- Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian
obat
S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
- Pasien hanya
diam
- 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- - Pertahankan jalan nafas yang paten
- - Observasi tanda-tanda
hipoventilasi
- - Berikan terapi O2
- - Monitor vital sign
S :-
O : - Pasien hanya diam
- Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
- Monitor tanda vital
3. - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Beri topang
ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6 - Libatkan
keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8. - Kolaborasi pemberian obat dengan
dokter
S : -
O :
pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Bantu makan sesuai dengan kebutuhan klien
-
- Beri makanan
sesuai diet
-
- Kolaborasi
dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium
|
|
|
No
DX
|
Hari, tanggal, jam
|
Diagnosa keperawatan
|
SOAP
|
TTD
|
|
1
2
3
4
|
Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB
Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB
Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB
Rabu,15-05-
2016.
19:00 WIb
|
Perfusi jaringan yang tidak
efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi
nutrien
|
S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi
-
- Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-
- Kaji respon motorik terhadap perintah
sederhana
-
- Pantau status neurologis
secarateratur
-
- Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian
obat
S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
- Pasien hanya
diam
- 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- - Pertahankan jalan nafas yang paten
- - Observasi tanda-tanda
hipoventilasi
- - Berikan terapi O2
- - Monitor vital sign
S :-
O : - Pasien hanya diam
- Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
- Monitor tanda vital
3. - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4. - Beri topang
ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6 - Libatkan
keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8. - Kolaborasi pemberian obat dengan
dokter
S : -
O :
pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Bantu makan sesuai dengan kebutuhan klien
-
- Beri makanan
sesuai diet
-
- Kolaborasi
dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
Johnson,
M., et all. 2002. Nursing Outcomes
Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A
dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey,
C.J., et all. 2002. Nursing Interventions
Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Muttaqin, Arif.
2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika
NANDA,
2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Santosa,
Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Smeltzer, dkk. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara,
Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar