Sabtu, 10 Desember 2016

ASKEP STROKE GADAR




TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Stroke / cedera cerebrovaskuler ialah gangguan neurologik tiba-tiba yg terjadi dampak pembatasan / terhentinya aliran darah lewat system suplai arteri otak (Sylvia A Price, 2006)
Sroke Non Hemorajik adalah sindroma klenis yang awalnya timbul mendatar, progresi cepat berupa depisit neurologis fokal / global yang berlangsung 24 jam lebih atau langsung menimbulkan kematian yang di sebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non staumatik (Arif Masjoer, 2007).
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli dan thrombosis selebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi pendarahan. Namun, terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul        edema sekunder (Arif Mutaqin, 2008).
Dengan demikian stroke dapat didefinisikan adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala- gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis. Patologis ini menyebabkan perdarahan dari sebuah robekan yang terjadi pada dinding pembuluh atau kerusakan sirkulasi serebral oleh oklusi parsial atau seluruh lumen pembuluh darah dengan pengaruh yang bersifat sementara atau permanen.
B.Etiologi
Menurut Smeltzer (2001) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian yaitu :
a.       Trombosis cerebral
Thrombosit ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti disekitarnya.Keadaan yang dapat menyebabkan thrombosit cerebral :
-           Atherosklerosis/arterioskerosis
adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya ketentuan atau elastisitas pembuluh darah
-           Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas hematokrit meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral
b.      Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik.
c.       Haemortologi
Perdarahan intrakranial atau intra serebral termasuk perdarahan dalam ruang sub arachnoid/kedalam jaringan otak sendiri. Ini terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pengerasan dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark otak, oedema dan mungkin hemiasi otak.
d.      Hypoksia Umum
- Hipertensi yang parah
- Cardiac pulmonary arrest
- CO turun akibat aritmia
e.       Hypoksia setempat
- Spasme arteri serebral yang disertai perdarahan sub aradinoid
- Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migran.

C.    Manifestasi Klinis
Menurut Suzzane C. Smelzzer, dkk, (2001, hlm. 2133-2134) menjelaskan ada enam tanda dan gejala dari stroke non hemoragik yang mana tergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran darah kolateral. Adapun gejala Stroke non hemoragik adalah:
a.    Kehilangan motorik: stroke adalah penyakit neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter. Gangguan kontrol volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukan kerusakan pada neuron atas pada sisi yang belawanan dari otak. Disfungsi neuron paling umum adalah hemiplegi (paralisis pada salah satu sisi tubuh) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan dan hemiparises (kelemahan salah satu sisi tubuh)
b.      Kehilangan komunikasi: fungsi otak lain yang yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut :
1)      Disatria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab menghasilkan bicara.
2)      Disfasia atau afasia (kehilangan bicara), yang terutama ekspresif atau reseptif.
3)      Apraksia, ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya.
c.       Defisit lapang pandang, sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis yaitu kesulitan menilai jarak, tidak menyadari orang atau objek ditempat kehilangan penglihatan
d.      Defisit sensori, terjadi pada sisi berlawanan dari lesi yaitu kehilangan kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh.
e.       Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, bila kerusakan pada lobus frontal, mempelajari kapasitas, memori atau fungsi intelektual mungkin terganggu. Disfungsi ini dapat ditunjukan dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa dan kurang motivasi.
f.   Disfungsi kandung kemih, setelah stroke pasien mungkin mengalami inkontenensia urinarius karena kerusakan kontrol motoric
Faktor resiko pada stroke :
Menurut Smeltzer C. Suzanne, 2002 faktor resiko pada stroke antara lain :
a.       Hipertensi
    1. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
    2. Kolesterol tinggi
    3. Obesitas
    4. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
    5. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
    6. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan kadar estrogen tinggi)
    7. Penyalahgunaan obat (kokain)
    8. Konsumsi alkohol
D.    Patofisiologi
Otak sangat tergantung pada O2 dan tidak mempunyai cadangan O2. bila terjadi
anoksia seperti pada CVA, metabolisme diotak mengalamiperubahan, kematian sel                 
dan kerusakan permanen dapat terjadi dalam 3-10 menit. Tiap kondisi yang
menyebabkan perubahan perfusi diotak akan menimbulkan Hipoksia/ Anoksia.
Hipoksia menyebabkan Iskemi otak. Iskemi otak dalam waktu lama menyebabkan
sel mati permanen dan berakibat terjadi infark otak disertai edema otak. Thrombosis
merupakan penyebab umum dari CVA dan yang paling sering menyebabkan
Thrombosisi otak adlah Aterosklerosis. Thrombosis sering timbul pada PD besar
disertai kerusakan dinding pembuluh darah pada tempat sumbatan. Emboli sering
kali bersumber dari jantung, dan biasanya emboli mengenai PD kecil dan dijumpai
pada titik Bifurkasi dimana pembuluh menyempit. (Long : 1996)
Ketika tekanan darah sistemik meningkat, pembuluh serebral akan
berkonstriksi. Derajat konstriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila
tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun
akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh serebral. Akibatnya,
diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya
karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau berkonstriksi dengan leluasa
untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan
tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat. Hal ini
akan mengakibatkan iskemik serebral. (http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052002/pus-1.htm)
Iskemik pada stroke disebabkan oleh terbatasnya atau aliran darah terhenti.
Penurunan aliran darah berarti terjadi penurunan fungsi neuron.(www.strokeforum.com )

E.     Pemeriksaan Diagnostik
1.      Rontgen kepala dan medulla spinalis
2.      Elektro encephalografi
3.      Lumbal fungsi
4.      Angiografi
5.      Computerized tomografi scaning (CT scan)
6.      Magnetik Resonance Imaging (MRI)

F.      Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan medis
1)      Pengobatan konservatif meliputi:
a.       Diuretika: Untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.
b.      Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi dari tempat lain dalam kardiovaskuler.
c.       Anti trombosit: dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.
2)      Pengobatan pembedahan
a.       Endosteroktomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
b.      Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh klien TIA
2.      Penatalaksanaan keperawatan
a.       Breathing
       Harus dijaga agar jalan nafas bebas dan bahwa fungsi paru-paru cukup baik. Pengobatan dengan oksigen hanya perlu bila kadar oksigen darah berkurang.
b.      Brain
       Oedem otak dan kejang-kejang harus dicegah dan diatasi. Bila terjadi oedem  otak, dapat dilihat dari keadaan penderita yang mengantuk, adanya bradikardi atau dengan pemeriksaan funduskopi, dapat diberikan manitol. Untuk mengatasi kejang-kejang yang timbul dapat diberikan Diphenylhydantoin atau Carbamazepin.
c.       Blood
       Tekanan Darah dijaga agar tetap agar cukup tinggi untuk mengalirkan darah ke otak. Pengobatan hipertensi pada fase akut dapat mengurangi tekanan perfusi yang justru akan menambah iskemik lagi. Kadar Hb dan glukosa harus dijaga cukup baik untuk metabolisme otak. Pemberian infus gluosa harus dicegah karena akan menambah terjadinya asidosis di daerah infark yang ini akan mempermudah terjadinya  oedem. Keseimbangan elektrolit harus dijaga.
d.      Bowel
       Defekasi dan nutrisi harus diperhatikan. Hindari terjadinya obstipasi karena akan membuat pasien gelisah. Nutrisi harus cukup. Bila perlu diberikan nasogastric tube.

e.       Bladder
       Miksi dan balance cairan harus diperhatikan . Jangan sampai terjadi retentio urine Pemasangan kateter jika terjadi inkontenensia.

G.    Komplikasi
Komplikasi stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral dan luasnya area cidera (Suzzane C. Smelzzer, dkk, 2001)
a.       Hipoksia serebral
Otak bergantung pada ketersedian oksigen yang dikirimkan ke jaringan.
b.      Penurunan darah serebral
Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral.
c.       Luasnya area cidera
Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau fibralsi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan menurunkan aliran darah serebral. Distritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian thrombus lokal.


















H.    Pathway





I.       Fokus Pengkajian

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.W  DENGAN STROKE NON HAEMORAGIC
DI RUANG ICU RSUD BREBES

Nama mahasiswa        :
 NIM                           :

Tanggal pengkajian     : 13 Juni  2016
Pukul                           : 14.15 wib
A.    IDENTITAS PASIEN
Inisial Pasien               : Ny.W
Usia                             : 60 Tahun
Jenis kelamin               : Perempuan
Pendidikan                  : SD
Pekerjaan                     : Petani
Agama                         : Islam
Alamat                                    :
Diagnosa Medis          : Stroke Haemoragik
No RM                        : 691141
Penanggung Jawab    
Inisial nama                 : Tn. P
Usia                             : 38 th
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Pendidikan                  : SD
Pekerjaan                     : Petani
Agama                         : Islam
Alamat                                    :
Hub dengan pasien     : Anak kandung


B. PENGKAJIAN
1. Wawancara
a. Keluhan utama :
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa bicara sejak dua hari yang lalu, tangan dan kaki kanan susah digerakkan, kemarin tiba-tiba jatuh (pasien sulit ditanya/informasi didapat dari keluarga)
b. Riwayat penyakit sekarang
Saat ini pasien menderita hipertensi yang tidak kunjung sembuh dan menyebabkan pasien terjatuh sehingga pasien dibawa ke rumah sakit.
c. Riwayat penyakit dahulu
                        Pasien menderita hipertensi.
d. Riwayat penyakit keluarga
Ayah pasien menderita penyakit darah tinggi,yang menyebabakan dia meninggal.
e. Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani yang setiap hari terpapar zat kimia dari insektisida yang digunakan.
f. Riwayat geografi
                        Pasien tinggal di lingkungan yang dekat dengan persawahan
g. Riwayat alergi
                        Pasien tidak memiliki riwayat alergi
h. Kebiasaan sosial
Dalam pola hidup pasien jarang mengkonsumsi makanan cepat saji maupun mengkonsumsi alkohol
i. Kebiasaan merokok
                        Pasien tidak merokok.
C. PEMERIKSAAN FISIK
                  1. Keadaan umum     :  Lemah / E2 M2 Vafasia
                  2. Keluhan nyeri        :
                  3. B1 (Breathing) pernafasan
                        Inspeksi                       :sesak nafas
                  Palpasi             : -
                  Perkusi                        : -
                  Auskultasi                   :wheezing
                  Respiratory rate           : 30 x/menit
                  Oksigenasi                   : nasal kanul

           
4. B2 (Blood) kardiovaskuler
                  Inspeksi                       :-
                  Palpasi                         :-
                  Perkusi                        :-
                  Auskultasi                   : jantung normal/reguler
                  Heart rate                    : 90 x/menit
                  Irama nadi                   : teratur
                  Kualitas nadi   : cepat
                  Akral               : hangat
                  JVP                             : 130/90 mmHg
                  EKG                : sinus tachikardi
                  5. B3 (Brain) persyarafan
                  Tingkat kesadaran       :sopor
                  GCS                : E2 M2 Vafasia
                  Reaksi pupil    : -
                  Reflek patologi           : -
                  6. B4 (Bladder) perkemihan
                  Distensi VU    :tidak tegang
                  Urine               : 600ml dalam 12 jam
                  Warna urine     : kuning
                  Alat bantu                   : terpasang DC
                  7. B5 (Bowel) pencernaan
                  Inspeksi                       : pasien lemah, terpasang NGT
                  Auskultasi                   : peristaltic berlebih
                  Palpasi                         : tidak ada kelainan pada lien maupun hepar
                  Perkusi                        : kembung
                  Kondisi mulut             : menceng ke kanan
                  BAB (frekuensi,konsistensi) : keras
                  Alat bantu                   : -
                  8. B6 (Bone) musculoskeletal
                  Kekuatan otot             : 4/5
                  ROM               : tak terarah
                  Hemiplegi/parase         : dextra
                  Turgor                         : jelek
                  Kelainan vertebra        : -
Fraktur                        : -

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
                  1. Pemeriksaan radiologi :
                    Pemeriksaan CT Scan Kepala Tanpa Kontras :
                  Tampak lesi hipodens luas di lobus temporalis dan parietalis sinistra, serta ganglia basalis sinistra dengan perifokal udema luas hingga menyempitkan ventrikel lateralis sinistra, tak tampak lateralisasi
                  Kesan :
                  Infark akut luas lobus temporalis sinistra, parietalis sinistra, dan ganglia basalis sinistra
                  Penyempitan V lateralis sinistra
                  Udema cerebri
                  Tak tampak lateralisasi
                  2. EKG tanggal           : sinus tachikardi tanggal 13 juni  2016
                  3. AGD tanggal          :13 juni  2016
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Ureum
H 67 . 00 mg/dL
19 . 00 – 50 . 00
Creatinin
0 . 70 mg/dL
0 . 60 – 1 . 10
Natrium darah
152 . 5 mg/dL
105 – 155
Kalium darah
L 3 . 3 mg/dL
3 . 6 – 5 . 5
Klorida darah
H 115 . 0 mg/dL
95 – 105
Neutrofil
H 93 . 9
50 – 70
Limfosit
L 2 . 4
20 – 40
Monosit
3 . 6
2 – 8
Eusinofil
L 0 . 0
0 – 1
Haemoglobin
L 12 . 3
13 . 0 – 16 . 0
Leukosit
H 15 . 43
4 . 0 – 10 . 00
Eritrosit
4 . 18
4 . 00 – 5 . 50
Hematokrit
L 37 . 4
40 . 0 – 48 . 0
MCV
89 . 5
91 . 0 – 96 . 0
MCH
29 . 4
27 . 0 – 31 . 0
MCHC
22 . 9
32 . 0 – 37 . 0
Trombosit
L 117
150 – 400
Kolesterol total
166
<200
Trigliserida
H 278
<200
Protein total
L 5 . 7
6 . 6 – 8 . 6
Albumin
H 1 . 21
3 . 8 – 5 . 1
Rasio alb/glob
1 . 0
>=1
Globulin
2 . 8

























E. PROGRAM TERAPI
     
Inisial pasien : Ny.W
Nama obat
Dosis
Cara pemberian
Waktu pemberian
Fungsi
Citicolin

Ranitidin
Lapibal
Ceftriaxon
Dexametason
Omeprasole
Paracetamol
Aspilet
Vitamin Bc
2x1 ampul

2x1 ampul
1x1 ampul
2x2gram
3x1 ampul
2x1 ampul
3x500 gram
1x1
1x1
IV

IV
IV
IV
IV
Oral
Oral
Oral
10.00 dan 22.00

10.00 dan 22.00
10,00
06.00 dan 18.00
05.00 13.00 21.00
06.00 dan 18.00
06.00 12.00 18.00
06.00
06.00     
Anti peptikum

Vitamin
Antibiotik
Anti inflamasi
Anti peptikum
Antipiretik
Analgetik
Vitamin
     


















F. ANALISA DATA
     
No
Tanggal, jam
Data
Problem
Etiologi
1.
13 juni 2016
14:30 WIB
DS : Menurut keluarga pasien tidak dapat bicara
DO :
- Gangguan status mental
- Perubahan perilaku
- Perubahan respon motoric
- Perubahan reaksi pupil
-   - Kesulitan menelan
-   - Kelemahan atau paralisis   ekstrermitas
-     - Abnormalitas bicara


Perfusi jaringaan cerebral tidak efektif
O2 otak menurun
2.
13 juni 2016
14:30 WIB
-          DS : -
-          DO :
-          - Sesak nafas
-          - Wheezing
-          - Pasien tidak sadar
-          (sopor E2 M2 Vafasia)
Pola nafas tidak efektif
Disfungsi neuromuskuler
3.
13 juni l2016
14:30 WIB
DS :
-          - Menurut keterangan keluarga, pasien tidak mampu melakukan aktivitas
·    - Menurut keterangan keluarga tangan kanan pasien tidak dapat digerakkan
DO :
-          - Pasien tampak lemah
·    TD: 130/90mmHg
Nadi: 90 x/menit
Suhu: 37,3o C
RR: 30 x/menit
·    -  Aktivitas pasien dibantu oleh keluarga atau perawat
·     - Tangan kanan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan
·    -  Kekuatan otot 4/5.
·     - Terpasang infus RL 20 tpm
·     - Terpasang Dower Cateter


-           
Gangguan mobilitas fisik

Kelemahan anggota gerak
4.
13 juni l2016
14:30 WIB

DS : Menurut keluarga pasien tidak bisa mengunyah dan menelan
DO :
-          - Pasien lemah
-          - Turgor jelek
Ketidakseimbangan nutrisi:kurang dari kebutuhantubuh



Ketidakmampuan menelan makanan


G. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
      1. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun
      2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
      3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak
      4.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan


























      H. INTERVENSI                                                                     
     
No
Diagnosa keperawatan
NOC
NIC
1.












2.












3.






















4.











Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun









Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler










Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak




















Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien





-          Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan perfusi jaringan tercapai secara optimal dengan kriteria hasil :
-          - Fungsi sensori dan motoric membaik
-          -Terjadi peningkatan tingkat kesadaran
-           


Setelah dilakukan tindakan perawatan, diharapkan pola nafas pasien efektif dengan kriteria hasil :
- Menunjukkan jalan nafas yang paten ( tidak merasa tercekik, irama nafas normal, frekuensi nafas normal,tidak ada suara nafas tambahan
- Tanda-tanda vital dalam batas normal

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien tidak mengalami gangguan mobilitas fisik dengan kriteria hasil:
·   - Pasien mampu melakukan aktivitas mandiri
·    - Pasien mampu mempertahankan /meningkatkan kemampuan otot








S


Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil :
-          - Terjadi keadekuatan tingkat gizi
-          - Turgor baik
-          - Nilai laboratorium ( albumin ) yang dianjurkan 4


-          Peripheral sensation management
-          - Pantau TTV tiap jam dan catat hasilnya
-          - Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          - Pantau status neurologis secarateratur 
-          - Dorong latihan kaki aktif/ pasif 
-          - Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

Respiratori Status Management
-         - Pertahankan jalan nafas yang paten
-         - Observasi tanda-tanda hipoventilasi
-         - Berikan terapi O2
-         - Dengarkan adanya  kelainan suara tambahan
-         - Monitor vital sign


Exercise therapy : ambulation
- Kaji kemampuan secara fungsional
2.   - Monitor tanda vital
3.   - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4.   - Ajarkan pasien untuk latihan rentang gerak aktif pada ekstermitas yang sehat
5.   - Beri topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6.   - Bantu melatih pasien untuk melakukan latihan sendi yang disarankan
7.   - Libatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.   - Kolaborasi pemberian obat dengan dokter

G
Nutrition management:
-          - Kaji adanya alergi makanan
-          - Bantu  makan sesuai dengan kebutuhan klien
-          - Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian
-          - Beri makanan sesuai diet
-          - Kolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium



I. IMPLEMENTASI
     
No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1










2     











3.

















4









Senin 13-05-2016
15:30 WIB


15:45 WIB


15:50 WIB



Senin 13-05-2016
18:00 WIB



18:15 WIB


18:20 WIB



Senin 13-05-2016
18:30 WIB


18:20 WIB


18:35 WIB


18:40 WIB


18:45 WIB




Senin 13-05-2016
18:45 WIB




18:50 WIB




18:55 WIB
- Memantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya


-          - Mengkaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-           
-          - Memantau status neurologis secarateratur 


-          - Berkolaborasi tentang pemberian obat
-          -ceftriaxon 2 gr
-          -omeprazol 1 gr

- Mempertahankan jalan nafas yang paten

-        - Mengobservasi tanda-tanda hipoventilasi dan memberikan
- e     terapi O2 3L/menit

-         - Mendengarkan adanya  kelainan suara tambahan

-         - Memonitor vital sign


- Mengkaji kemampuan secara fungsional

3.   - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam

4.   - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada ekstermitas yang sehat


5.   - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan dan
     melibatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.
  - Memberi  makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui NGT
-          - Memberikan makanan sesuai diet
-          - Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)


-          DO : S : 36ÂșC N : 90X/m      
-          T : 130/90mmHG
-          DS ; - Pasien hanya diam
-           
-          DO ; Pasien hanya diam
-          DS : -

-           
-          DO- pasien hanya diam
-          DS : -


-          DO : - obat masuk lewat ngt dan
-           tidak terjadi alergi
DS : -


DO : terpasang alat bantu nafas
DS ;  -

DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
T : 100/70mmHG
DS : -
-           
-          DO : suara nafas teratur
-          DS : -


-          DO : T : 130/90mmHG
          S : 36Âșc N : 90X/m

-          DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon

-          DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu

DO ;pasien tidak berespon
DS ; -




DS ; -keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon






DO ;-Memasukkan makanan dan obat  lewat NGT         dan                      : pasien diam saja
-           



No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1










2     











3.

















4









Selasa 14-05-2016
15:30 WIB


15:45 WIB


15:50 WIB



Selasa 13-05-2016
18:00 WIB



18:15 WIB


18:20 WIB



Selasa 13-05-2016
18:30 WIB


18:20 WIB


18:35 WIB


18:40 WIB


18:45 WIB




Selasa 13-05-2016
18:45 WIB




18:50 WIB




18:55 WIB
- Memantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya


-          - Mengkaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-           
-          - Memantau status neurologis secarateratur 


-          - Berkolaborasi tentang pemberian obat
-          -ceftriaxon 2 gr
-          -omeprazol 1 gr

- Mempertahankan jalan nafas yang paten

-        - Mengobservasi tanda-tanda hipoventilasi dan memberikan
- e     terapi O2 3L/menit

-         - Mendengarkan adanya  kelainan suara tambahan

-         - Memonitor vital sign


- Mengkaji kemampuan secara fungsional

3.   - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam

4.   - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada ekstermitas yang sehat


5.   - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan dan
     melibatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.
  - Memberi  makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui NGT
-          - Memberikan makanan sesuai diet
-          - Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)


-          DO : S : 36ÂșC N : 90X/m      
-          T : 130/90mmHG
-          DS ; - Pasien hanya diam
-           
-          DO ; Pasien hanya diam
-          DS : -

-           
-          DO- pasien hanya diam
-          DS : -


-          DO : - obat masuk lewat ngt dan
-                      tidak terjadi alergi
DS : -


DO : terpasang alat bantu nafas
DS ;  -

DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
          T : 100/70mmHG
DS : -
-           
-          DO : suara nafas teratur
-          DS : -


-          DO : T : 130/90mmHG
          S : 36Âșc N : 90X/m

-          DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon

-          DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu

DO ;pasien tidak berespon
DS ; -



DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon






DO ;-Memasukkan makanan dan obat  lewat NGT         dan                      : pasien diam saja
-           






           
No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1










2     











3.
















4









Rabu 15-05-2016
15:30 WIB


15:45 WIB


15:50 WIB



Rabu 15-05-2016
18:00 WIB



18:15 WIB


18:20 WIB



Rabu 13-05-2016
18:30 WIB

18:20 WIB


18:35 WIB


18:40 WIB


18:45 WIB




Rabu 13-05-2016
18:45 WIB




18:50 WIB





18:55 WIB
- Memantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya


-          - Mengkaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-           
-          - Memantau status neurologis secarateratur 


-          - Berkolaborasi tentang pemberian obat
-          -ceftriaxon 2 gr
-          -omeprazol 1 gr

- Mempertahankan jalan nafas yang paten

-        - Mengobservasi tanda-tanda hipoventilasi dan memberikan
- e     terapi O2 3L/menit

-         - Mendengarkan adanya  kelainan suara tambahan
-         - Memonitor vital sign


- Mengkaji kemampuan secara fungsional

3.   - Mengubah posisi minimal tiap 2 jam

4.   - Mengajarkan pasien untuk latihan rentang gerak pasif pada ekstermitas yang sehat


5.   - Memberi topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan dan
     melibatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.
  - Memberi  makan sesuai dengan kebutuhan klien melalui NGT
-          - Memberikan makanan sesuai diet
-           
-          - Berkolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium (nilai albumin yang dianjurkan 4)


-          DO : S : 36ÂșC N : 90X/m      
-          T : 130/90mmHG
-          DS ; - Pasien hanya diam
-           
-          DO ; Pasien hanya diam
-          DS : -

-           
-          DO- pasien hanya diam
-          DS : -


-          DO : - obat masuk lewat ngt dan
-                      tidak terjadi alergi
DS : -


DO : terpasang alat bantu nafas
DS ;  -

DO : S : 36ÂșC N : 80X/m
          T : 100/70mmHG
DS : -
-           
-          DO : suara nafas teratur
-          DS : -
-           
-          DO : T : 130/90mmHG
          S : 36Âșc N : 90X/m

-          DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon

-          DO : - Pasien hanya diam
DS : - keluarga mau membantu

DO ;pasien tidak berespon
DS ; -



DS ; - keluarga mau membantu
DO : pasien tidak berespon






DO ;-Memasukkan makanan dan obat  lewat NGT         dan                      : pasien diam saja
-           





J. EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF

No
DX
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1












2















3















4















Senin, 13-05-2016.
19:00 WIB










Senin,13-05-2016.
19:00 WIB













Senin,13-05-2016.
19:00 WIB













Senin,13-05- 2016.
19:00 WIb









Perfusi jaringan yang tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun









Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler













Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak













Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien



S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P  : Lanjutkan intervensi
-          - Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-          - Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          - Pantau status neurologis secarateratur 
-          - Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat

S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
      T : 100/70mmHG
      - Pasien hanya diam
      - 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
-                 Pertahankan jalan nafas yang paten
-         - Observasi tanda-tanda hipoventilasi
-                Berikan terapi O2
-             - Monitor vital sign



S :-
O : - Pasien hanya diam
      - Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
     - Monitor tanda vital
3.            - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4.  -  Beri topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6        - Libatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.           - Kolaborasi pemberian obat dengan dokter

S : -
O : pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
     - Bantu  makan sesuai dengan kebutuhan klien
-               - Beri makanan sesuai diet
-               - Kolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium





No
DX
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1












2















3















4















Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB










Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB













Selasa,14-05-2016.
19:00 WIB













Selasa,13-05- 2016.
19:00 WIb









Perfusi jaringan yang tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun









Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler













Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak













Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien












S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P  : Lanjutkan intervensi
-          - Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-          - Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          - Pantau status neurologis secarateratur 
-          - Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat

S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
      T : 100/70mmHG
      - Pasien hanya diam
      - 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
-                 Pertahankan jalan nafas yang paten
-         - Observasi tanda-tanda hipoventilasi
-                Berikan terapi O2
-             - Monitor vital sign



S :-
O : - Pasien hanya diam
      - Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
     - Monitor tanda vital
3.            - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4.  -  Beri topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6        - Libatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.           - Kolaborasi pemberian obat dengan dokter


S : -
O : pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
     - Bantu  makan sesuai dengan kebutuhan klien
-               - Beri makanan sesuai diet
-               - Kolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium




No
DX
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1












2















3















4















Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB










Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB













Rabu,15-05-2016.
19:00 WIB













Rabu,15-05- 2016.
19:00 WIb









Perfusi jaringan yang tidak efektif berhubungan dengan O2 otak yang menurun









Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler













Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak













Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien












S :-
O : Pasien hanya diam
A : Masalah belum teratasi
P  : Lanjutkan intervensi
-          - Pantau TTV tiap jam dan mencatat hasilnya
-          - Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          - Pantau status neurologis secarateratur 
-          - Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat

S :-
O : S : 36ÂșC N : 80X/m
      T : 100/70mmHG
      - Pasien hanya diam
      - 30 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
-                 Pertahankan jalan nafas yang paten
-         - Observasi tanda-tanda hipoventilasi
-                Berikan terapi O2
-             - Monitor vital sign



S :-
O : - Pasien hanya diam
      - Keluarga mau membantu
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi
     - Monitor tanda vital
3.            - Ubah posisi minimal tiap 2 jam
4.  -  Beri topang ekstermitas pasien dengan bantal untuk mencegah pembengkakan
6        - Libatkan keluarga untuk membantu pasien latihan gerak
8.           - Kolaborasi pemberian obat dengan dokter


S : -
O : pasien tidak berespon
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
     - Bantu  makan sesuai dengan kebutuhan klien
-               - Beri makanan sesuai diet
-               - Kolaborasi dengan dokter untuk mengetahui nilai laboratorium


                                        




                                         DAFTAR PUSTAKA

Johnson, M., et all. 2002Nursing Outcomes Classification (NOC) Second EditionNew JerseyUpper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., et all2002Nursing Interventions Classification (NIC) Second EditionNew JerseyUpper Saddle River
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika
Smeltzer, dkk. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar