Sabtu, 10 Desember 2016

ASKEP TB PARU GADAR



ASUHAN KEPERAWATAN TN.A DENGAN TUBERCULOSIS PARU DI RUANG IGD RSUD KABUPATEN BREBES

A.    DEFINISI
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru yang secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita kepada orang lain (Santa, dkk, 2009).
B.     ETIOLOGI
Penyebab dari penyakit tuberculosis paru adalah kuman (bakteri) yang hanya dapat dilihat dengan miroskop, yaitu mycobacterium tuberculosis. Microbakteri adalah bakteri aerob, berbentuk batu yang membentuk spora

C.     MANIFESTASI KLINIS
a.       Gejala Umum
·         Batuk terus menerus dan berdahak 3 (tiga) minggu atau lebih. Merupakan proses infeksi yang dilakukan Mycobacterium Tuberkulosis yang menyebabkan  lesi  pada  jaringan  parenkim  paru. 
b.       Gejala lain yang sering dijumpai :
·         Dahak bercampur darah : Darah berasal dari perdarahan dari saluran napas bawah, sedangkan dahak adalah hasil dari membran submukosa yang terus memproduksi sputum untuk berusaha mengeluarkan benda saing.
·         Batuk darah : Terjadi akibat perdarahan dari saluran napas bawah, akibat iritasi karena proses batuk dan infeksi Mycobacterium Tuberkulosis.
·         Sesak napas dan nyeri dada : Sesak napas diakibatkan karena berkurangnya luas lapang paru akibat terinfeksi Mycobacterium Tuberkulosis, serta akibat terakumulasinya sekret pada saluran pernapasan. Nyeri dada timbul akibat lesi yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, serta nyeri dada juga dapat mengakibatkan sesak napas.
·         Badan lemah,  nafsu makan menurun,  berat badan  menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walau tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan. Merupakan gejala yang berurutan terjadi, akibat batuk yang terus menerus mengakibatkan kelemahan, serta nafsu makan berkurang, sehingga berat badan juga menurun, karena kelelahan serta infeksi mengakibatkan kurang enak badan dan demam meriang, karena metabolisme tinggi akibat pasien berusaha bernapas cepat mengakibatkan berkeringat pada malam hari.(Departemen Kesehatan  Republik Indonesia, 2006)

D.    PATOFISIOLOGI
                Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
            Tuberkulosis adalh penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas (lambat)
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Gohn dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Gohn  respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat akan terulang kembali ke bagian lain dari paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular dan tersebar ke organ-organ tubuh.  

E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  
Diagnosis TB  menurut Depkes (2006):
Ø  Diagnosis TB paru
·         Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
·         Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
·         Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
·         Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.
·         Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.
Ø    Diagnosis TB ekstra paru.
·         Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya.
·         Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.
Ø  Diagnosis TB  menurut Asril Bahar (2001):
·         Pemeriksaan Radiologi : Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru.
·         Pemeriksaan Laboratorium Darah : Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik. Pada saat tuberkulosis baru mulai sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi.
·         Sputum : Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan.
·         Tes Tuberkulin : Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosae, M. Bovis, vaksinasi BCG dan Myobacteria patogen lainnya.

F.      PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan Pengobatan : Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
·         Prinsip pengobatan : Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:             
·         OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
·         Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
·         Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Tahap awal (intensif) : Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
·         Tahap Lanjutan : Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan
·         Jenis, sifat dan dosis OAT

Jenis OAT

Sifat

Dosis yang direkomendasikan mg/kg
Harian
3xseminggu
Isoniazid (H)
Bakterisid
5
(4-6)
10
(8-12)
Rifampicin (R)
Bakterisid
10
(8-12)
10
(8-12)
Pyrazinamide (Z)
Bakterisid
25
(20-30)
35
(30-40)
Streptomycin (S)
Bakterisid
15
(12-18)
15
(12-18)
Ethambutol (E)
Bakteriostatik
15
(15-20)
30
(20-35)

·         Paduan OAT yang digunakan di Indonesia : Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:
§  Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
§  Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
§  Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
Paket Kombipak : Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
·      Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
·         KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.
Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

G.    KOMPLIKASI
Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes RI, 2005)  :
a.      Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
b.      Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
c.    Bronkiektasis ( pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d.      Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
e.        Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan sebagainya
f.       Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
































H.    PATHWAY

Infeksi bakteri tuberkilosis
 


bb
o   Batuk

Infeksi primer
Sembuh dengan focus ghonkgggggggghonghon
Sembuh
Bakteri dorman
Bakteri muncul beberapa tahun kemudian
Infeksi pasca primer
Reaksi infeksi/inflamasi, kavitas dan merusak parenkim paru
Sembuh dengan fibrotik
·         Produksi secret meningkat
·         Pecahnya pembuluh darah
Kerusakan membrane alveolar  kapiler merusak paru, atelaktasis
Perubahan cairan intra pleura
Reaksi sistemis
·         Batuk
Produktif
·         Batuk darah
Sesak nafas
Ekspansi thorak
Sesak nafas ,cyanosis, penggunaan otot bantu nafas
Anoreksia, mual BB    menurun
lemah
Ketidakefektifan    bersihan  jalan    nafas
Gangguan                 pertukaran gas
Pola nafas              tidak efektif
Perubahan pemenuhan    nutrisi kurang    dari                        kebutuhan tubuh
Intoleran               aktivitas
 


ASUHAN KEPERAWATAN TN. A DENGAN TB PARU DIRUANG IGD
RSUD KABUPATEN BREBES

NamaMahasiswa         :
NIM                            :
TanggalPengkajian      :
Pukul                           :
A.    PENGKAJIAN

No RM : 082928
Nama        : TN. A        Agama      : Islam
Pekerjaan  :Petani

Diagnosamedis: TB Paru
JenisKelamin       : L
Status Perkawinan :Kawin
SumberInformasi : TN. M

Umur: 35Th
Pendidikan : SMA
Alamat:

RESPON : Verbal
TRIAGE  : Kuning

GENERAL IMPRESSION
PRIMER SURVEY
KeluhanUtama :Sesaknafas, batuk-batuk ±2 minggu




MekanismeCedera : -




Orientasi (Tempat, Waktu, Orang) : BaikTidakBaik

AIRWAY
DiagnosaKeperawatan :
Inefektif airway berhubungandenganobstruksijalannafas





JalanNafas : Paten Tidak Paten


Onstruksi    : LidahCairan
 
Benda AsingSpasme

SuaraNafas : Snoring Gurgling
 
Stridor

Keluhan Lain : -
KriteriaHasil :
Respiratory status ; Airway patency dengankriteriahasil ;
-          Mendemonstrasikanbatukefektifdansuaranafas yang bersih, tidkadasianosisdan dyspnea ( mampumengeluarkan sputum, mampubernafasdenganmudah, tidakada pursed lips )
-          Menunjukkanjalannafas yang paten (klientidakmerasatercekik, iramanafas, frekuensipernafasandalamrentang normal, tidakadasuara abnormal)
-          Mampumengidentifikasikandanmencegah factor yang dapatmenghambatjalannafas

Intervensi :
Airway suction
1.      Bersihkanjalannafas
2.      Manajemen airway ; headtilt-chin lift/jaw thrust
3.      Lakukan suction
4.      Pasangoro/naso pharyngeal airway
5.      Berikanposisi yang nyaman (semifowler)
6.      Berikan O2 denganmenggunakan nasal

BREATHING
DiagnosaKeperawatan :
1.      Inefektifpolanafasberhubungandengankelelahanototpernafasan

Gerakan dada : Simetris Asimetris
 
Irama Nafas : Cepat Dangkal

Normal


Bunyi Nafas : Vesikuler Wheezing

Ronchi
 
Pola Nafas : Teratur Tidak Teratur
 
Retraksi otot dada : Ada Tidak ada

Cuping Hidung :        Ada         Tidak ada

Sesak Nafas :        Ada          Tidak ada

RR : 30 x/menit

Keluhan Lain : -

KriteriaHasil :
Respiratory Status ; Gas exchange
Respiratory Status ; Ventilation
Vital sign ; Status
Intervensi :
1.      Observasifrekuensi, irama, dankedalamanpernafasan
2.      Observasitanda-tanda distress pernafasan : penggunaanotot bantu, retraksi dada dancupinghidung
3.      Berikanposisisemifowler/ fowler
4.      Pemberianterapioksigen..liter/menit, via
5.      Bantuandengan Bag Valve Mask
6.      Terapiinhalasi (nebulizer)
7.      Persiapan ventilator mekanik
8.      Lakukanfisioterapi dada

CIRCULATION

PRIMER SURVEY

Akral :       Hangat       Dingin

 
Sianosis :      Ya       Tidak


 
CRT :       < 2detik        >2 detik

Frekuensi Nadi : x/menit

 
Nadi :       Teraba       Tidak teraba


Irama :       Teratur     Tidak teratur

 
Kekuatan :      Kuat       Lemah

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

MAP : - mmHg

Suhu Kulit : 37ºC
 

Turgor Kulit :       Normal       Tidak Normal

 
Pendarahan :       Ya         Tidak ada, cc

Keluhan Lain :-



DISABILITY

PRIMER SURVEY


Respon :      Alert       Verbal       Pain 


Unrespon

 
Kesadaran :       CM       Delirium  


Somnolen
44
 
5
6
GCS :       Eye       Verbal       Motorik



Pupil :       IsokorUnisokor        Pinpoint


Medriasis


Reflekcahaya : Ada Tidakada

Kekuatanotot :-

Keluhan lain :sesaknafas



EXPOSURE



Deformitas :       YaTidak


Contusio    :       YaTidak

 
Abrasi        :       YaTidak


Penetrasi    :       YaTidak


Laserasi      :      YaTidak
 

Edema        : YaTidak

Nyeri          :

P : -

Q : -

R : -

S : -

T : -

Keluhan Lain: -


FOLEY CATETER



Fimosis : YaTidak
 

Distensi VU : YaTidak

Warna urine : -

Jumlah Urine : ml dalamjam


Alat bantu : YaTidak , berupa

Keluhan lain :-



GASTRIC TUBE



Alat Bantu :YaTidak

Warna : -

Jumlah : -cc

Keluhan lain :--



HEART MONITOR


Saturasioksigen : 90%
Interpretasi EKG : -




IMAGING


Hasilpemeriksaan diagnostic Rontgen : Gambaran Tb Parukronis




ANAMNESA


Menggunakan model SAMPLE

PRIMER SURVEY
S : sesaknafas
A : pasientidakmemilikialergiterhadapmakanan
M : Pasiensedangmengkonsumsi OAT selama 1 minggu
P : Pasientidakmederitapenyakitberbahayasebelumnya
L : pagiharimakannasisetengahporsi
E : batuk-batukselama ±2 minggu, sertasesaknafas


PEMERIKSAAN FISIK
Diagnosakeperawatan :


Kepala : Mesochepal
Mata : Tidak ada edema palpebra, pupil anisokor kanan 2
mm dan kiri 2 mm, ada reaksi cahaya, konjungtiva ananemis seklera an ikterik
Mulut : Lidah bersih, tidak terdapat sekret di mulut, membran mukosa kering
Hidung : Simetris, tidak ada sekret, nafas cepat, tidak ada polip.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid

Dada :
Paru-paru
Inspeksi :Simetris, tidak ada retraksi dinding dada, penggunaan otot bantu nafas
Palpasi :Tidak ada pembesaran kelenjar pleura
Perkusi : -
Auskultasi : terdengarronchi
KriteriaHasil :




Intervensi :


Jantung
Inspeksi : -
Palpasi : -
Perkusi : -
Auskultasi : -

Abdomen
Inspeksi :Datar
Auskultasi :Peristaltikusus 10x/menit
Palpasi :Tidakterabaadanyamassa
Perkusi :Tidakkembung, bunyi abdomen timpani



PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

     RONTGEN, tanggal 25 -5 -2016

     CT-SCAN, tanggal -

     USG, tanggal -

     EKG, tanggal  25 - 5- 2016

     ENDOSKOPI, tanggal -

Darahlengkap, tanggal -

Elektrolit, tanggal -

     Lain-lain


Interpretasihasilpemeriksaandiagnostic

TERAPI YANG DIBERIKAN/TERAPI LANJUTAN

InisialPasien : TN. A






Namaobat


Dosis

Cara pemberian

Waktupemberian

Fungsi/indikasi
Cefoperazone
3x1 gr
IV
16.0024.00 08.00
antibiotik
Methylprednisolon
2x6,25mg
IV
16.00  04.00
antiinflamasi
Ambroxol
3x1 tab
Oral
16.00 06.00 12.00
Obatbatuk
Omeprazol
1x1 vial
IV
16.00
Antipepticum



































































TANDA TANGAN PENGKAJI




NAMA TERANG :
















B.     ANALISA DATA
NO
TGL,
JAM
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
1









2
25 MEI 2016
14.30






25 MEI 2016 14.30
S :klienmengatakansesakdanbatuklebih ±2minggu.
O O :klientampakbatuk, bunyinapasronkhi, stridor


S :klienmengatakannapasnyasesak.
O : takipneadenganmemakaipernapasanperut (RR = 30 x/menit), tampakadabantuanototpernapasansternokleidomastoideus, perubahan GDA (nadioksimetri, misalnyahipoksemia, hiperkapnia)

Bersihanjalannapastakefektif






Polanafastidakefektif







Obstruksijalannafas










Kelelahanototpernafasan








C.    PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Bersihanjalannafastakefektifb.dobstruksijalannafas.
2.      Polanafastidakefektifb.dkelelahanototpernafasan.









D.    INTERVENSI
NO
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
NOC
NIC
1


























2
Bersihanjalannafastakefektifb.dobstruksijalannafas














Polanafastidakefektifb.dkelelahanototpernafasan
Setelahdilakukantindakan
Keperawatanselama 1 jam
Diharapkanjalannafaskembaliefektifdengankriteriahasil :
1.Mempunyai jalannafas
yang paten
2.Dapat mengeluarkan
secret secaraefektif
3.Irama danfrakuensi
nafasdalambatas
   normal
4.Mempunyai fungsiparu
dalambatas normal
5.Mampu merencanakan
untukperawatan di
rumah

Setelahdilakukantindakan
keperawatanselama 1 jam diharapkanpolanafastidakterganggudengankriteriahasil :
1.Pola nafasefektifdengan
   RR dalambatas normal
   ( 16 – 24x/mnt )
2.Irama nafasteratur
3.Pasien mampu
mengontrolsesak
nafasnyadengantekhnik
nafasdalamselama 3  
menit
4.Pasien mengatakannafas
tidaksesaklagi
1.Kaji tandadangejala
ketidakefektifan
pernafasan
2.Baringkan pasiendalam
posisi fowler tinggiuntuk
memaksimalkan
ekspansi dada
3.Ajarkan pasiententang
batukefektifdantekhnik
nafasdalamuntuk
memudahkankeluarnya
sekresi
4.Berikan oksigensesuai
   advice dokter
5.Kolaborasi dengan
dokteruntukpemberian
   bronchodilator

1.Kaji karakteristikpola
nafas (   frekuensi,
kedalamandanirama
nafas )
2.Observasi tanda – tanda
pernafasan,penggunaan
ototbantu,retraksi dada
dancupinghidung
3.Pantau pernafasantiap
   4 jam dandicatat
4.Tempatkan pasiendalam
posisi semi fowler
5.Ajarkan nafasdalam
melalui abdomen selama
periodedistensi
pernfasan
6.Jelaskan alat bantu yang
digunakan ( oksigen )
7.Kolaborasi dengan
dokterdalampemberian
oksigen





























E.     IMPLEMENTASI
NO
DX
HARI,
TANGGAL,
JAM
IMPLEMENTASI
RESPON
1



































2

RABU
25MEI 2016
       15.00

































    RABU
25 MEI 2016
     16.00

1.Mengkaji tandadangejala
ketidakefektifan
pernafasan

2.Membaringkan pasien
dalamposisi fowler tinggi
untukmemaksimalkan
ekspansi dada

3.Mengajarkan pasien
tentangbatukefektifdan
tekhniknafasdalamuntuk
memudahkankeluarnya
sekresi

4.Memberikan oksigensesuai
   Advice dokter

5.Berkolaborasi dengan
dokteruntukpemberian
bronchodilator



1.Mengkaji karakteristik
polanafas ( frekuensi,
kedalamandanirama
nafas )




2.Mengobservasi tanda –
tandapernafasan,
penggunaanotot bantu,
retraksi dada dan
cupinghidung

3.Mengajarkan nafasdalam
melalui abdomen selama
periodedistensipernafasan


4..Menjelaskan alat bantu
   yang digunakan ( O2 danberkolaborasidengan
dokterdalampemberian
oksigen

DS : Pasienmengatakansesaknafasberkurang

DO : RR : 24x/mnt
-          T    : 120/80

DS : Pasienmengatakanmerasanyaman

DO : Pasiendalamposisi
Semi fowler


DS : Pasienmengatakanmengertitentangteknikbatukefektif
DO : -Pasienmampu
mendemontrasikan
batukefektifdantekhniknafasdalam
DS : - Pasienmerasanyaman
DO : O2 terpasang

DS : Pasienmengatakanbatukberkurang
DO : -Pasienmauminum
obatdantidakalergi
-          Secret dapatkeluar

DS :
DO : RR  : 24x/mnt
-          Frekuensi,irama,
daniramakedalaman
nafasdalambatas normal


DS :
DO : Nafascupinghidung
( - )
-          Penggunaanotot – ototpernafasan ( - ) 

DS : Pasienmengatakanmengertitekniknafasdalammelalui abdomen
DO : Pasienmerasanyaman

DS : Pasienmengatakan
sesakberkurang
DO : O2 terpasang




















F.     EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF
NO
HARI,
TANGGAL,
JAM
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
SOAP
1


























2
   RABU 
25 MEI 2016
     16.00
























    RABU
25 MEI 2016
     17.00
Bersihanjalannafastakefektifb.dobstruksijalan
nafas























Polanafastidakefektifb.d
kelelahanototpernafasan















S : Pasienmengatakansesak
nafasberkurang

O : -    TD : 120/80 mmHg
-          RR : 24x/mnt
-          Pasientidaksesak
-          Berbicaralancar
-          Dapatbatuksecara
efektif

A : Masalahbersihanjalan
nafastakefektifteratasi
sebagian

P : -     Lanjutkanintervensi
-          Pantaubersihanjalan
dankolaborasidengan dokterdalampemberianobat.


S : Pasienmengatakansesak
nafasberkurang


O : -   TD : 120/80 mmHg
       -   RR : 24x/mnt
       -   Iramanafasteratur
       -   Pergerakanotot dada
berkurang
-          Mampumendemontrasikan
batukefektifdantekhnikrelaksasi

A : Masalahpolanafastidak
efektifsudahteratasi
sebagian

P : -     Lanjutkanintervensi
-          Kolaborasidengandokterdalampemberianoksigen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar