Sabtu, 10 Desember 2016

ASKEP GASTROENTERITIS GADAR



ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.D DENGAN DIAGNOSA MEDIS GASTROENTERITIS DI RUANG IGD
RSUD KABUPATEN BREBES

TINJAUAN TEORI
A.    DEFINISI
Diare adalah peningkatan dalam frekuensi buang air besar (kotoran), serta pada kandungan air dan volume kotoran itu.Para Odha sering mengalami diare.Diare dapat menjadi masalah berat.Diare yang ringan dapat pulih dalam beberapa hari. Namun, diare yang berat dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) atau masalah gizi yang berat (Yayasan Spiritia, 2011)
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).
Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua (USAID, 2009)
Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir (Suraatmaja, 2007).Diare disebabkan oleh transportasi air dan elektrolit yang abnormal dalam usus. Di seluruh dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita diare setiap tahunnya, dan 20% dari seluruh kematian pada anak yang hidup di negara berkembang berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan lambung dan usus (gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis) atau kolon dan usus (enterokolitis).Diare biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis (Wong, 2009).
Terdapat beberapa pendapat tentang definisi penyakit diare.Menurut Hippocrates definisi diare yaitu sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja, Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, diare atau penyakit diare adalah bila tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut Direktur Jenderal PPM dam PLP, diare adalah penyakit dengan buang air besar lembek/ cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari) (Sinthamurniwaty, 2006).
B.     ETIOLOGI
1.      Penyebab diare Yaitu: (Tantivanich, 2002; Sirivichayakul, 2002; Pitisuttithum, 2002)
a.      Virus :
Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70 – 80%). Beberapa jenis virus penyebab diare akut :
·         Rotavirus serotype 1,2,8,dan 9: pada manusia. Serotype 3 dan 4 didapati pada hewan dan manusia. Dan serotype 5,6, dan 7 didapati hanya pada hewan.
·         Norwalk virus : terdapat pada semua usia, umumnya akibat food borne atau water borne transmisi, dan dapat juga terjadi penularan person to person.
·         Astrovirus, didapati pada anak dan dewasa
·         Adenovirus (type 40, 41)
·         Small bowel structured virus
·         Cytomegalovirus
b.      Bakteri :
·         Enterotoxigenic E.coli (ETEC). Mempunyai 2 faktor virulensi yang penting yaitu faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri ini melekat pada enterosit pada usus halus dan enterotoksin (heat labile (HL) dan heat stabile (ST) yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit yang menghasilkan watery diarrhea. ETEC tidak menyebabkan kerusakan brush border atau menginvasi mukosa.
·         Enterophatogenic E.coli (EPEC). Mekanisme terjadinya diare belum jelas. Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel usus menyebabkan kerusakan dari membrane mikro vili yang akan mengganggu permukaan absorbsi dan aktifitas disakaridase.
·         Enteroaggregative E.coli (EAggEC). Bakteri ini melekat kuat pada mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan morfologi yang khas. Bagaimana mekanisme timbulnya diare masih belum jelas, tetapi sitotoksin mungkin memegang peranan.
·         Enteroinvasive E.coli (EIEC). Secara serologi dan biokimia mirip dengan Shigella. Seperti Shigella, EIEC melakukan penetrasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon.
·         Enterohemorrhagic E.coli (EHEC). EHEC memproduksi verocytotoxin (VT) 1 dan 2 yang disebut juga Shiga-like toxin yang menimbulkan edema dan perdarahan diffuse di kolon. Pada anak sering berlanjut menjadi hemolytic-uremic syndrome.
·         Shigella spp. Shigella menginvasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon, menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya ulkus. Shigella jarang masuk kedalam alian darah. Faktor virulensi termasuk : smooth lipopolysaccharide cell-wall antigen yang mempunyai aktifitas endotoksin serta membantu proses invasi dan toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin) yang bersifat sitotoksik dan neurotoksik dan mungkin menimbulkan watery diarrhea
·         Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). Manusia terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan (unggas, anjing, kucing, domba dan babi) atau dengan feses hewan melalui makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam dan air. Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak langsung person to person. C.jejuni mungkin menyebabkan diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus besar.Ada 2 tipe toksin yang dihasilkan, yaitu cytotoxin dan heat-labile enterotoxin. Perubahan histopatologi yang terjadi mirip dengan proses ulcerative colitis.
·         Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139. Air atau makanan yang terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Penularan melalui person to person jarang terjadi.
·         V.cholerae melekat dan berkembang biak pada mukosa usus halus dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan diare. Toksin kolera ini sangat mirip dengan heat-labile toxin (LT) dari ETEC. Penemuan terakhir adanya enterotoksin yang lain yang mempunyai karakteristik tersendiri, seperti accessory cholera enterotoxin (ACE) dan zonular occludens toxin (ZOT). Kedua toksin ini menyebabkan sekresi cairan kedalam lumen usus.
·         Salmonella (non thypoid). Salmonella dapat menginvasi sel epitel usus. Enterotoksin yang dihasilkan menyebabkan diare. Bila terjadi kerusakan mukosa yang menimbulkan ulkus, akan terjadi bloody diarrhea
c.       Protozoa :
·         Giardia lamblia. Parasit ini menginfeksi usus halus. Mekanisme patogensis masih belum jelas, tapi dipercayai mempengaruhi absorbsi dan metabolisme asam empedu. Transmisi melalui fecal-oral route. Interaksi host-parasite dipengaruhi oleh umur, status nutrisi,endemisitas, dan status imun. Didaerah dengan endemisitas yang tinggi, giardiasis dapat berupa asimtomatis, kronik, diare persisten dengan atau tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan endemisitas rendah, dapat terjadi wabah dalam 5 – 8 hari setelah terpapar dengan manifestasi diare akut yang disertai mual, nyeri epigastrik dan anoreksia. Kadang-kadang dijumpai malabsorbsi dengan faty stools,nyeri perut dan gembung.
·         Entamoeba histolytica. Prevalensi Disentri amoeba ini bervariasi,namun penyebarannya di seluruh dunia. Insiden nya mningkat dengan bertambahnya umur,dan teranak pada laki-laki dewasa. Kira-kira 90% infksi asimtomatik yang disebabkan oleh E.histolytica non patogenik (E.dispar). Amebiasis yang simtomatik dapat berupa diare yang ringan dan persisten sampai disentri yang fulminant.
·         Cryptosporidium. Dinegara yang berkembang, cryptosporidiosis 5 – 15% dari kasus diare pada anak. Infeksi biasanya siomtomatik pada bayi dan asimtomatik pada anak yang lebih besar dan dewasa. Gejala klinis berupa diare akut dengan tipe watery diarrhea, ringan dan biasanya self-limited. Pada penderita dengan gangguan sistim kekebalan tubuh seperti pada penderita AIDS, cryptosporidiosis merupakan reemerging disease dengan diare yang lebih berat dan resisten terhadap beberapa jenis antibiotik.
·         Microsporidium spp
·         Isospora belli
·         Cyclospora cayatanensis
d.      Helminths :
·         Strongyloides stercoralis. Kelainan pada mucosa usus akibat cacing dewasa dan larva, menimbulkan diare.
·         Schistosoma spp. Cacing darah ini menimbulkan kelainan pada berbagai organ termasuk intestinal dengan berbagai manifestasi, termasuk diare dan perdarahan usus..
·         Capilaria philippinensis. Cacing ini ditemukan di usus halus, terutama jejunu, menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan gejala klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen.
·         Trichuris trichuria. Cacing dewasa hidup di kolon, caecum, dan appendix. Infeksi berat dapat menimbulkan bloody diarrhea dan nyeri abdomen.
             2. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Untuk mengenal penyebab diare yang dikelompokan sebagai berikut: (Lebenthal, 1989; Daldiyono, 1990; Dep Kes RI, 1999; Yatsuyanagi, 2002)
                         a. Infeksi :
1)      Bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio, Bacillus Cereus, Clostridium perfringens, Staphilococ Usaurfus,Camfylobacter, Aeromonas)
2)    Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)
3)    Parasit
a)    Protozoa (Entamuba Histolytica, Giardia Lambia, Balantidium Coli, Crypto Sparidium)
b)    Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides, Blastissistis Huminis)
c)    Bacilus Cereus, Clostridium Perfringens
b.    Malabsorpsi: karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.
c.    Alergi: alergi makanan
d.    Keracunan :
1)    Keracunan bahan-bahan kimia
2)    Keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi :
a)    Jazad renik, Algae
b)    Ikan, Buah-buahan, Sayur-sayuran
e.    Imunodefisiensi / imunosupresi (kekebalan menurun) : Aids dll
f.    Sebab-sebab lain: Faktor lingkungan dan perilaku, Psikologi: rasa takut dan cemas


C.    MANIFESTASI KLINIS
                       1.  Menurut Suriadi (2001), Manifestasi klinis diare yaitu
                              a.    Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
                              b.    Kram perut
                              c.    Demam
                              d.    Mual
                              e.    Muntah
                              f.     Kembung
                              g.    Anoreksia
                              h.    Lemah
                              i.      Pucat
                              j.      Urin output menurun (oliguria, anuria)
                              k.    Turgor kulit menurun sampai jelek
                              l.      Ubun-ubun / fontanela cekung
                              m.   Kelopak mata cekung
                              n.    Membran mukosa kering
                       2.  Manifestasi klinis diare yaitu (Nelwan, 2001; Procop et al, 2003)
Diare akut karena infeksi dapat disertai keadaan muntah-muntah dan/atau demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang perut.
Diare yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut.Karena kehilangan cairan seseorang merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak.Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonas, perbandingan bikarbonas berkurang, yang mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernapasan sehingga frekwensi nafas lebih cepat dan lebih dalam (kussmaul). Reaksi ini adalah usaha tubuh untuk mengeluarkan asam karbonas agar pH dapat naik kembali normal. Pada keadaan asidosis metabolik yang tidak dikompensasi, bikarbonat standard juga rendah, pCO2 normal dan base excess sangat negatif.
Gangguan kardiovaskular pada hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah menurun sampai tidak terukur.Pasien mulai gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis.Karena kehilangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun dan akan timbul anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyulit berupa nekrosis tubulus ginjal akut, yang berarti pada saat tersebut kita menghadapi gagal ginjal akut. Bila keadaan asidosis metabolik menjadi lebih berat, akan terjadi kepincangan pembagian darah dengan pemusatan yang lebih banyak dalam sirkulasi paru-paru. Observasi ini penting karena dapat menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan intravena tanpa alkali.
                       3.  Gejala Diare menurut Kliegman (2006), yaitu:
Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir  ataupun darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu.Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare.Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Kliegman, 2006).
Menurut Kliegman, Marcdante dan Jenson (2006), dinyatakan bahwa berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh, diare dapat dibagi menjadi :
a.    Diare tanpa dehidrasi
Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi.
b.    Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%)
Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal.
c.    Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%)
Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering, air mata berkurang dan masa pengisian kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat.
d.    Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%)
            Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada produksi air mata, tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis, kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.
4. Sebagai akibat diare baik yang akut maupun khronis, maka akan terjadi: (FKUI, 2001 cit Sinthamurniwaty 2006)
a.    Kehilangan air dan elektrolit sehingga timbul dehidrasi dan keseimbangan asam basa Kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi) serta gangguan keseimbangan asam basa disebabkan oleh:
1)    Previous Water Losses : kehilangan cairan sebelum pengelolaan, sebagai defisiensi cairan.
2)    Nomial Water Losses : kehilangan cairan karena fungsi fisiologik.
3)    Concomittant Water Losses : kehilangan cairan pada waktu pengelolaan.
4)    Intake yang kurang selama sakit : kekurangan masukan cairan karena                anoreksia atau muntah.
Kekurangan cairan pada diare terjadi karena:
1)    Pengeluaran usus yang berlebihan
a)    Sekresi yang berlebihan dari selaput lendir usus (Secretoric diarrhea)karena, gangguan fungsi selaput lendir usus, (Cholera E. coli).
b)    Berkurangnya penyerapan selaput lendir usus, yang disebabkan oleh berkurangnya kontak makanan dengan dinding usus, karena adanya hipermotilitas dinding usus maupun kerusakan mukosa usus.
c)    Difusi cairan tubuh kedalam lumen usus karena penyerapan oleh tekanan cairan dalam lumen usus yang hiperosmotik; keadaan ini disebabkan karena adanya substansi reduksi dari fermentasi laktosa yang tidak tercerna enzim laktase (diare karena virus Rota)
2)    Masukan cairan yang kurang karena :
a)    Anoreksia
b)    Muntah
c)    Pembatasan makan (minuman)
d)    Keluaran yang berlebihan (panas tinggi, sesak nafas)
b.    Gangguan gizi sebagai "kelaparan" (masukan kurang dan keluaran berlebihan)
Gangguan gizi pada penderita diare dapat terjadi karena:
1)    Masukan makanan berkurang karena adanya anoreksia (sebagai gejala penyakit) atau dihentikannya beberapa macam makanan o1eh orang tua, karena ketidaktahuan. Muntah juga merupakan salah satu penyebab dari berkurangnya masukan makanan.
2)    Gangguan absorpsi. Pada diare akut sering terjadi malabsorpsi dari nutrien mikro maupun makro.Malabsorpsi karbohidrat (laktosa, glukosa dan fruktosa) dan lemak yang kemudian dapat berkembang menjadi malabsorpsi asarn amino dan protein. Juga kadang-kadang akan terjadi malabsorpsi vitamin baik yang larut dalam air maupun yang larut dalam lemak (vitamin B12, asam folat dan vitamin A) dan mineral trace (Mg dan Zn).
                        Gangguan absorpsi ini terjadi karena:
a)    Kerusakan permukaan epitel (brush border) sehingga timbul deplisit enzim laktase.
b)    Bakteri tumbuh lampau, menimbulkan:
(1)  Fermentasi karbohidrat
(2)  Dekonjugasi empedu.
            Kerusakan mukosa usus, dimana akan terjadi perubahan struktur mukosa usus dan kemudian terjadi pemendekan villi dan pendangkalan kripta yang menyebabkan berkurangnya permukaan mukosa usus.
Selama diare akut karena kolera dan E. coli terjadi penurunan absorpsi karbohidrat, lemak dan nitrogen. Pemberian masukan makan makanan diperbanyak akan dapat memperbaiki aborpsi absolut sampai meningkat dalam batas kecukupan walaupun diarenya sendiri bertambah banyak. Metabolisme dan absorpsi nitrogen hanya akan mencapai 76% dan absorpsi lemak hanya 50%.
3)    Katabolisme
Pada umumnya infeksi sistemik akan mempengaruhi metabolisme dan fungsi endokrin, pada penderita infeksi sistemik terjadi kenaikan panas badan. Akan memberikan dampak peningkatan glikogenesis, glikolisis, peningkatan sekresi glukagon, serta aldosteron, hormon anti diuretic (ADH) dan hormon tiroid. Dalam darah akan terjadi peningkatan jumlah kholesterol, trigliserida dan lipoprotein. Proses tersebut dapat memberi peningkatan kebutuhan energy dari penderita dan akan selalu disertai kehilangan nitrogen dan elektrolit intrasel melalui ekskresi urine, peluh dan tinja.
4)    Kehilangan langsung
Kehilangan protein selama diare melalui saluran cerna sebagai Protein loosing enteropathy dapat terjadi pada penderita campak dengan diare, penderita kolera dan diare karena E. coli.Melihat berbagai argumentasi di atas dapat disimpulkan bahwa diare mempunyai dampak negative terhadap status gizi penderita.
c.    Perubahan ekologik dalam lumen usus dan mekanisme ketahananisi usus
Kejadian diare akut pada umumnya disertai dengan kerusakan mukosa usus keadaan ini dapat diikuti dengan gangguan pencernaan karena deplesi enzim.Akibat lebih lanjut adalah timbulnya hidrolisis nutrien yang kurang tercerna sehingga dapat menimbulkan peningkatan hasil metabolit yang berupa substansi karbohidrat dan asam hidrolisatnya. Keadaan ini akan merubah ekologi kimiawi isi lumen usus, yang dapat menimbulkan keadaan bakteri tumbuh lampau, yang berarti merubah ekologi mikroba isi usus. Bakteri tumbuh lampau akan memberi kemungkinan terjadinya dekonjugasi garam empedu sehingga terjadi peningkatan asam empedu yang dapat menimbulkan kerusakan mukosa usus lebih lanjut. Keadaan tersebut dapat pula disertai dengan gangguan mekanisme ketahanan lokal pada usus, baik yang disebabkan oleh kerusakan mukosa usus maupun perubaban ekologi isi usus.

D.    PATOFISIOLOGI
Fungsi utama dari saluran cerna adalah menyiapkan makanan untuk keperluan hidup sel, pembatasan sekresi empedu dari hepar dan pengeluaran sisa-sisa makanan yang tidak dicerna. Fungsi tadi memerlukan berbagai proses fisiologi pencernaan yang majemuk, aktivitas pencernaan itu dapat berupa: (Sommers,1994; Noerasid, 1999 cit Sinthamurniwaty 2006)
1.  Proses masuknya makanan dari mulut kedalam usus.
2.  Proses pengunyahan (mastication) :menghaluskan makanan secara mengunyah dan mencampur.dengan enzim-enzim di rongga mulut
3.  Proses penelanan makanan (diglution) :gerakan makanan dari mulut ke gaster
4.  Pencernaan (digestion) :penghancuran makanan secara mekanik, percampuran dan hidrolisa bahan makanan dengan enzim-enzim
5.  Penyerapan makanan (absorption): perjalanan molekul makanan melalui selaput lendir usus ke dalam. sirkulasi darah dan limfe.
6.  Peristaltik: gerakan dinding usus secara ritmik berupa gelombang kontraksi sehingga makanan bergerak dari lambung ke distal.
7.  Berak (defecation) :pembuangan sisa makanan yang berupa tinja.
Dalam keadaan normal dimana saluran pencernaan berfungsi efektif akan menghasilkan ampas tinja sebanyak 50-100 gr sehari dan mengandung air sebanyak 60-80%. Dalam saluran gastrointestinal cairan mengikuti secara pasif gerakan bidireksional transmukosal atau longitudinal intraluminal bersama elektrolit dan zat zat padat lainnya yang memiliki sifat aktif osmotik.Cairan yang berada dalam saluran gastrointestinal terdiri dari cairan yang masuk secara per oral, saliva, sekresi lambung, empedu, sekresi pankreas serta sekresi usus halus.Cairan tersebut diserap usus halus, dan selanjutnya usus besar menyerap kembali cairan intestinal, sehingga tersisa kurang lebih 50-100 gr sebagai tinja.
Motilitas usus halus mempunyai fungsi untuk:
                                         1.  Menggerakan secara teratur bolus makanan dari lambung ke sekum
                                         2.  Mencampur khim dengan enzim pankreas dan empedu
                                         3.  Mencegah bakteri untuk berkembang biak.
Faktor-faktor fisiologi yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu dengan lainnya. Misalnya bertambahnya cairan pada intraluminal akan menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis, sehingga meningkatkan gerakan peristaltik usus dan akan mempercepat waktu lintas khim dalam usus. Keadaan ini akan memperpendek waktu sentuhan khim dengan selaput lendir usus, sehingga penyerapan air, elektrolit dan zat lain akan mengalami gangguan.
Berdasarkan gangguan fungsi fisiologis saluran cerna dan macam penyebab dari diare, maka patofisiologi diare dapat dibagi dalam 3 macam kelainan pokok yang berupa:
1.  Kelainan gerakan transmukosal air dan elektrolit (karena toksin)
            Gangguan reabsorpsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat menyebabkan diare, misalnya pada kejadian infeksi. Faktor lain yang juga cukup penting dalam diare adalah empedu. Ada 4 macam garam empedu yang terdapat di dalam cairan empedu yang keluar dari kandung empedu. Dehidroksilasi asam dioksikholik akan menyebabkan sekresi cairan di jejunum dan kolon, serta akan menghambat absorpsi cairan di dalam kolon. Ini terjadi karena adanya sentuhan asam dioksikholik secara langsung pada permukaan mukosa usus.Diduga bakteri mikroflora usus turut memegang peranan dalam pembentukan asam dioksi kholik tersebut.Hormon-hormon saluran cerna diduga juga dapat mempengaruhi absorpsi air pada mukosa.usus manusia, antara lain adalah: gastrin, sekretin, kholesistokinin dan glukogen. Suatu perubahan PH cairan usus juga.dapat menyebabkan terjadinya diare, seperti terjadi pada Sindroma Zollinger Ellison atau pada Jejunitis.
                                         2.  Kelainan cepat laju bolus makanan didalam lumen usus (invasive diarrhea)
            Suatu proses absorpsi dapat berlangsung sempurna dan normal bila bolus makanan tercampur baik dengan enzim-enzim saluran cerna dan. berada dalam keadaan yang cukup tercerna. Juga.waktu sentuhan yang adekuat antara khim dan permukaan mukosa usus halus diperlukan untuk absorpsi yang normal. Permukaan mukosa usus halus kemampuannya berfungsi sangat kompensatif, ini terbukti pada penderita yang masih dapat hidup setelah reseksi usus, walaupun waktu lintas menjadi sangat singkat.Motilitas usus merupakan faktor yang berperanan penting dalam ketahanan local mukosa usus. Hipomotilitas dan stasis dapat menyebabkan mikro organisme berkembang biak secara berlebihan (tumbuh lampau atau overgrowth) yang kemudian dapat merusak mukosa usus, menimbulkan gangguan digesti dan absorpsi, yang kemudian menimbulkan diare. Hipermotilitas dapat terjadi karena rangsangan hormon prostaglandin, gastrin, pankreosimin; dalam hal ini dapat memberikan efek langsung sebagai diare. Selain itu hipermotilitas juga dapat terjadi karena pengaruh enterotoksin staphilococcus maupun kholera atau karena ulkus mikro yang invasif o1eh Shigella atau Salmonella.Selain uraian di atas haruslah diingat bahwa hubungan antara aktivitas otot polos usus,gerakan isi lumen usus dan absorpsi mukosa usus merupakan suatu mekanisme yang sangat kompleks.
                                         3.  Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus (virus).
            Dalam beberapa keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi kapasitas dari pencernaan dan absorpsinya akan menimbulkan diare. Adanya malabsorpsi dari hidrat arang, lemak dan zat putih telur akan menimbulkan kenaikan daya tekanan osmotik intra luminal, sehingga akan dapat menimbulkan gangguan absorpsi air. Malabsorpsi hidrat arang pada umumnya sebagai malabsorpsi laktosa yang terjadi karena defesiensi enzim laktase. Dalam hal ini laktosa yang terdapat dalam susu tidak sempurna mengalami hidrolisis dan kurang di absorpsi oleh usus halus. Kemudian bakteri-bakteri dalam usus besar memecah laktosa menjadi monosakharida dan fermentasi seterusnya menjadi gugusan asam organik dengan rantai atom karbon yang lebih pendek yang terdiri atas 2-4 atom karbon.Molekul-molekul inilah yang secara aktif dapat menahan air dalam lumen kolon hingga terjadi diare.Defisiensi laktase sekunder atau dalam pengertian yang lebih luas sebagai defisiensi disakharidase (meliputi sukrase, maltase, isomaltase dan trehalase) dapat terjadi pada setiap kelainan pada mukosa usus halus. Hal tersebut dapat terjadi karena enzim-enzim tadi terdapat pada brush border epitel mukosa usus. Asam-asam lemak berantai panjang tidak dapat menyebabkan tingginya tekanan osmotik dalam lumen usus karena asam ini tidak larut dalam air..

E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Laboratorium yang dapat dilakukan pada diare adalah sebagai berikut :
1.  Lekosit Feses (Stool Leukocytes): Merupakan pemeriksaan awal terhadap diare kronik. Lekosit dalan feses menunjukkan adanya inflamasi intestinal.Kultur Bacteri dan pemeriksaan parasit diindikasikan untuk menentukan adanya infeksi. Jika pasien dalam keadaan immunocompromisedd, penting sekali kultur organisma yang tidak biasa seperti Kriptokokus,Isospora dan M.Avium Intracellulare. Pada pasien yang sudah mendapat antibiotik, toksin C difficle harus diperiksa.
2.  Volume Feses: Jika cairan diare tidak terdapat lekosit atau eritrosit, infeksi enteric atau imfalasi sedikit kemungkinannya sebagai penyebab diare. Feses 24 jam harus dikumpulkan untuk mengukur output harian. Sekali diare harus dicatat (>250 ml/day), kemudian perlu juga ditentukan apakah terjadi steatore atau diare tanpa malabsorbsi lemak.
3.  Mengukur Berat dan Kuantitatif fecal fat pada feses 24 jam: Jika berat feses >300/g24jam mengkonfirmasikan adanya diare. Berat lebih dari 1000-1500 gr mengesankan proses sektori. Jika fecal fat lebih dari 10g/24h menunjukkan proses malabsorbstif.
4.  Lemak Feses : Sekresi lemak feses harian < 6g/hari. Untuk menetapkan suatu steatore, lemak feses kualitatif dapat menolong yaitu >100 bercak merak orange per ½ lapang pandang dari sample noda sudan adalah positif. False negatif dapat terjadi jika pasien diet rendah lemak. Test standard untuk mengumpulkan feses selama 72 jam biasanya dilakukan pada tahap akhir. Eksresi yang banyak dari lemak dapat disebabkan malabsorbsi mukosa intestinal sekunder atau insufisiensi pancreas.
5.  Osmolalitas Feses : Dipeerlukan dalam evaluasi untuk menentukan diare osmotic atau diare sekretori. Elekrolit feses Na,K dan Osmolalitas harus diperiksa. Osmolalitas feses normal adalah –290 mosm.Osmotic gap feses adalah 290 mosm dikurangi 2 kali konsentrasi elektrolit faeces (Na&K) dimana nilai normalnya <50 mosm. Anion organic yang tidak dapat diukur, metabolit karbohidrat primer (asetat,propionat dan butirat) yang bernilai untuk anion gap, terjadi dari degradasi bakteri terhadap karbohidrat di kolon kedalam asam lemak rantai pendek. Selanjutnya bakteri fecal mendegradasi yang terkumpul dalam suatu tempat. Jika feses bertahan beberapa jam sebelum osmolalitas diperiksa, osmotic gap seperti tinggi. Diare dengan normal atau osmotic gap yang rendah biasanya menunjukkan diare sekretori.Sebalinya osmotic gap tinggi menunjukkan suatu diare osmotic.
6.  Pemeriksaan parasit atau telur pada feses : Untuk menunjukkan adanya Giardia E Histolitika pada pemeriksaan rutin. Cristosporidium dan cyclospora yang dideteksi dengan modifikasi noda asam.
7.  Pemeriksaan darah : Pada diare inflamasi ditemukan lekositosis, LED yang meningkat dan hipoproteinemia. Albumin dan globulin rendah akan mengesankansuatu protein losing enteropathy akibat inflamasi intestinal. Skrining awal CBC,protrombin time, kalsium dan karotin akan menunjukkan abnormalitas absorbsi. Fe,VitB12, asam folat dan vitamin yang larut dalam lemak (ADK). Pemeriksaan darah tepi menjadi penunjuk defak absorbsi lemak pada stadium luminal, apakah pada mukosa, atau hasil dari obstruksi limfatik postmukosa. Protombin time,karotin dan kolesterol mungkin turun tetapi Fe,folat dan albumin mengkin sekali rendaah jika penyakit adalah mukosa primer dan normal jika malabsorbsi akibat penyakit mukosa atau obstruksi limfatik.
8.  Tes Laboratorium lainnya: Pada pasien yang diduga sekretori maka dapat diperiksa seperti serum VIP (VIPoma), gastrin (Zollinger-Ellison Syndrome), calcitonin (medullary thyroid carcinoma), cortisol (Addison’s disease), anda urinary 5-HIAA (carcinoid syndrome).
9.  Diare Factitia : Phenolptalein laxatives dapat dideteksi dengan alkalinisasi feses dengan NaOH yang kan berubah warna menjadi merah. Skrining laksatif feses terhadap penyebab lain dapat dilakukan pemeriksaan analisa feses lainnya. Diantaranya Mg,SO4 dan PO4 dapat mendeteksi katartik osmotic seperti MgSO4,mgcitrat Na2 SO4 dan Na2 PO4.
Pemeriksaan Penunjang Lain
1.  Biopsi Usus Halus
Biopsi usus halus diindikasikan pada (a) pasien dengan diare yang tidak dapat dijelaskan atau steatore,(b) anemia defisiensi Fe yang tidak dapat dijelaskan yang mungkin menggambarkan absorbsi Fe yang buruk pada celiac spure dan (c) Osteoporosis idiopatik yang menggambarkan defisiensi terisolasi terhadap absorbs kalsium.
2.  Enteroskopi Usus Halus
Memerlukan keterampilan khusus yang dapat membantu menidentifikasi lesi pada usus halus.
3.  Protosigmoidoskopi dengan Biopsi Mukosa
Pemeriksaan ini dapat membantu dalam mendeteksi IBD termasuk colitus mikroskopik, melanosis coli dan indikasi penggunaan kronis anthraguinone laksatif
4.  Rangkaian Pemeriksaan Usus Halus
Pemeriksaan yang optimal diperlukan bagi klinisi untuk mengetahui segala sesuatu ayng terjadi di abdomen. Radiologis dapat melakukan flouroskopi dalam memeriksa keseluruhan bagian usus halus atau enteroclysis yang dapat menjelaskan dalam 6 jam pemeriksaan dengan interval 30 menit. Tube dimasukkan ke usus halus melewati ligamentum treitz, kemudian diijeksikan suspensi barium melalui tube dan sesudah itu 1-2 liter 0,5% metil selulosa diinjeksikan.
5.  Imaging
            Penyebab diare dapat secara tepat dan jelas melalui pemeriksaan imaging jika diindikasikan.Klasifikasi pada radiografi plain abdominal dapat mengkonfirmasi pankreatitis kronis.Studi Seri Gastrointestinal aatas atau enterokolosis dapat membantu dalam mengevaluasi Chron’s disease, Limfoma atau sindroma carcinoid.Kolososkopi dapat membantu mengevaluasi IBD.Endoskopi dengan biopsy usus halus berguna dalam mendiagnosa dugaan malabsorbsi akibat penyakit pada mukosa.Endoskopi dengan aspirasi duodenum dan biopsy usus halus berguna pada pasien AIDS, Cryptosporidium, Mccrosporida, Infeksi M Avium Intraseluler.CT Abdpminal dapat menolong dalam mendeteksi pankreatitis kronis atau endokrin pancreas.
6.  Beberapa Tes Untuk Malabsorbsi (Daldiyono, 1990 cit Sutadi, 2003)
a.    Tes Untuk Menilai Abnormalitas Mukosa
1)    The d-xylose absorption test: Absorbsi xylose tidak lengkap dimetabolisme di usus halus bagian proksimal, Abnormalitas ini ditandai jika eksresi pada ginjal rendah kurang dari 4 gram urine setelah pemberian 25 gr dosis oral. False positif terjadi pada renal insufisiensi, hipertensi portal dan penggunaan NSAID.
2)    Breath Hidrogen Test : Hidrogen dihasilkan dari fermentasi bakteri dari karbohidrat, dimana akan meningkat pada pertumbuhan bakteri dan intolerans laktosa. Hidrogen Breath Test akan mencapai pucaknya 2 jam setelah pertumbuhan bakteri dan 3-6 jam pada pasien dengan defisiensi lactase atau insufisiensi pancreas. Membedakan defisiensi lactase dan insufisiensi pancreas, pemberian enzim pancreas akan menurunkan Breath hydrogen.
b.    Test Menilai Fungsi pancreas
1)    Schiling test : Protease pancreas dari ikatan R-protein diperlukan untuk pembelahan B12 sebelum bergabung dengan factor intrinsic dimana pada insufisiensi pancreas berat kan menurunkan absorbsi B12. Label yang digunakan adalah Cobalamin (CO) dengan isotop yang berbeda. CO ini mengikat R protein dan factor intrinsic. Pada insufisiensi pancreas CO tidak diabsorbsi.
2)    Test Stimulasi Pankreas : Pankreas dapat distimulasi dengan CCK intravena atau sekretin atau makanan yang mengandung lemak,protein dan karbohidrat. Cairan pancreas diaspirasi melalui kateter dari duodenum sebagai bikarbonat atau enzim pancreas spesifik.Tidak adanya peningkatan bikarbonat atau enzim pancreas setelah distimulasi menunjukkan insufisiensi pancreas.
c.    Test Menilai Pertumbuhan Bakreri
Kultur bakteri kuantitatif : Dilakukan intubasi pada duodenum atau jejunum proksimal kemudian diinjeksikan NaCl steril kedalam lumen dan kemudian ddiaspirasi. Terdapatnya >105 bakteri/ml menunjukkan pertumbuhan bakteri.

F.     PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program LINTAS Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare) yaitu:
1.  Berikan Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang.Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang.Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus.
Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi :
a.    Diare tanpa dehidrasi
Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih :
·         Keadaan Umum       : baik
·         Mata                           : Normal
·         Rasa haus                : Normal, minum biasa
·         Turgor kulit                : kembali cepat
Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sbb :
·         Umur < 1 tahun        : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret
·         Umur 1 – 4 tahun     : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret
·         Umur diatas 5 Tahun          : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret
b.    Diare dehidrasi Ringan/Sedang
Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:
·         Keadaan Umum       : Gelisah, rewel
·         Mata                           : Cekung
·         Rasa haus                : Haus, ingin minum banyak
·         Turgor kulit                : Kembali lambat
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
c.    Diare dehidrasi berat
Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:
·      Keadaan Umum       : Lesu, lunglai, atau tidak sadar
·      Mata                           : Cekung
·      Rasa haus                : Tidak bisa minum atau malas minum
·      Turgor kulit                : Kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di infus.
Laporan Pendahuluan Diare
Laporan Pendahuluan Diare
ORALIT
2.  Berikan obat Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.(Black, 2003). Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 % (Hidayat 1998 dan Soenarto 2007).Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.
            Dosis pemberian Zinc pada balita:
·         Umur < 6 bulan : ½ tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari
·         Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.
            Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
            Cara pemberian tablet zinc:
·         Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare.
Laporan Pendahuluan Diare
ZINK
3.    Pemberian ASI / Makanan :
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak uis 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering.Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.
4.  Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri.Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera.
Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat.Obat anti muntah tidak di anjurkan kecuali muntah berat.Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang bebahaya dan bisa berakibat fatal.Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).
5.  Pemberian Nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat tentang :
a.    Cara memberikan cairan dan obat di rumah
b.    Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
·         Diare lebih sering
·         Muntah berulang
·         Sangat haus
·         Makan/minum sedikit
·         Timbul demam
·         Tinja berdarah
·         Tidak membaik dalam 3 hari.
Menurut Kapita Selekta Kedokteran (2000) dan SPM Kesehatan Anak RSUD Wates (2001), Penatalaksanaan Medis diare yaitu:
                              1.    Resusitasi cairan dan elektrolit
                                     a.    RencanaPengobatan A, digunakan untuk :
·         Mengatasi diare tanpa dehidrasi
·         Meneruskan terapi diare di rumah
·         Memberikan terapi awal bila anak diare lagi
                                    Tiga cara dasar rencana Pengobatan A :
      1)    Berikan lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi (oralit, makanan cair : sup, air matang). Berikan cairan ini sebanyak anak mau dan terus  diberikan hingga diare berhenti.
Kebutuhan oralit per kelompok umur
Umur
Ddiberikan Setiap Bab
Yang Disediakan
< 12 bulan
50-100 ml
400 ml / hari (2 bungkus)
1-4 tahun
100-200 ml
600-800 ml / hari (3-4 bungkus)
> 5 tahun
200-300 ml
800-1000 ml / hari (4-5 bungkus)
Dewasa
300-400 ml
1.200-2.800 ml / hari
      Cara memberikan oralit :
·         Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak < 2 tahun
·         Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua
·         Bila anak muntah, tunggu 10 menit, kemudian berikan cairan lebih sedikit (sesendok teh tiap 1-2 menit)
·         Bila diare belanjut setelah bungkus oralit habis, beritahu ibu untuk memberikan cairan lain atau kembali ke petugas untuk mendapatkan tambahan oralit.
                                          2)    Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi :
·         Teruskan pemberian ASI
Untuk anak < 6 bln dan belum mendapatkan makanan padat dapat diberikan susu yang dicairkan dengan air yang sebanding selama 2 hari.
·         Bila anak > / = 6 bulan atau telah mendapat makanan padat :
v  Berikan bubur atau campuran tepung lainnya, bila mungkin dicampur dengan kacang-kacangan, sayur, daging, tam-bahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur tiap porsi.
v  Berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menambah kalium
v  Dorong anak untuk makan berikan sedikitnya 6 kali sehari
v  Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti dan berikan makanan  tambahan setiap hari selama 2 minggu.
v  Bawa anak kepada petugas bila anak tidak membaik selama 3 hari atau anak mengalami : bab sering kali, muntah berulang, sangat haus sekali, makan minum sedikit, demam, tinja berdarah

                       b.    Rencana Pengobatan B
                  Dehidrasi tidak berat (ringan-sedang); rehidrasi dengan oralit 75 ml / kg BB dalam 3 jam pertama atau bila berat badan anak tidak diketahui dan atau memudahkan dilapangan, berikan oralit sesuai tabel :
Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama :
Umur
< 1 tahun
1-5 tahun
> 5tahun
Dewasa
Jumlah oralit
300 ml
600 ml
1.200 ml
2.400 ml
            Setelah 3-4 jam, nilai kembali, kemudian pilih rencana A, B, atau C untuk melanjutkan pengobatan :
·         Bila tidak ada dehidrasi ganti ke rencana A
·         Bila ada dehidrasi tak berat atau ringan/sedang, ulangi rencana B tetapi tawarkan  makanan, susu dan sari bu-ah seperti rencana A
·         Bila dehidrasi berat, ganti dengan rencana C
                        c.    Rencana Pengobatan C
                  Dehidrasi berat : rehidrasi parenteral / cairan intravena segera. Beri 100 ml/kg BB cairan RL, Asering atau garam  normal(larutan yang hanya mengandung glukosa tidak boleh diberikan).
Umur
30 ml/kg BB
70 ml/kg BB
< 12 bulan
1 jam pertama
5 jam kemudian
> 1 tahun
½ jam pertama
21/2 jam kemudian
1.      Rehidrasi parenteral :
v  RL atau Asering untuk resusitasi / rehidrasi
v  D1/4S atau KN1B untuk maintenan (umur < 3 bulan)
v  D1/2S atau KN3A untuk maintenan (umur > 3 bulan)
v  Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba
v  Nilai kembali tiap 1-2 jam. Bila rehidrasi belum tercapai percepat tetesan infuse
v  Juga berikan oralit 5 ml/kg BB/jam bila penderita bisa minum. Biasanya setelah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak)
v  Setelah 3-6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi, kemudian pilih rencana A, B, C  untuk melanjutkan pengobatan.
 2. Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas (loperamid, difenoksilat, kodein, opium),  adsorben  (norit, kaolin, smekta).
                              3.    Obat anti muntah : prometazin , domperidon, klorpromazin
4.    Antibiotik hanya diberikan untuk disentri dan tersangka kolera : Metronidazol 50 mg/kgBB/hari
      5.    Hiponatremia (Na > 155 mEq/L), dikoreksi dengan D1/2S. Penurunan kadar Na tidak boleh lebih dari 10 mEq per hari karena bisa menyebabkan edema otak
                              6.    Hiponatremia (Na < 130 mEq/L), dikoreksi dengan RL atau NaCl
      7.    Hiperkalemia (K > 5 mEq/L), dikoreksi dengan kalsium glukonas perlahan-lahan 5-10 menit sambil memantau detak jantung
                              8.    Hipokalemia (K, 3,5 mEq/L), dikoreksi dengan KCl

G.    KOMPLIKASI
Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.(Hendarwanto, 1996; Ciesla et al, 2003)
Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ.Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal. (Nelwan, 2001; Soewondo, 2002; Thielman & Guerrant, 2004)
Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC.Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti diare, tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi.
Sindrom Guillain – Barre, suatu demielinasi polineuropati akut, adalah merupakan komplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik, khususnya setelah infeksi C. jejuni. Dari pasien dengan Guillain – Barre, 20 – 40 % nya menderita infeksi C. jejuni beberapa minggu sebelumnya.Biasanya pasien menderita kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis untuk mengaktifkan otot pernafasan.Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain – Barre tetap belum diketahui.
                  Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena Campylobakter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp
                  Menurut SPM Kesehatan Anak IDAI (2004) dan SPM Kesehatan Anak RSUD Wates (2001), Komplikasi Diare yaitu:
·         Kehilangan air dan elektrolit : dehidrasi, asidosis metabolic
·         Syok
·         Kejang
·         Sepsis
·         Gagal Ginjal Akut
·         Ileus Paralitik
·         Malnutrisi
·         Gangguan tumbuh kembang
























H.    PATHWAY

Pathway Diare







ASUHAN KEPERAWATAN NY. D DENGAN GASTROENTERITIS DIRUANG IGD RSUD KABUPATEN BREBES

Nama Mahasiswa        :
NIM                            :
Tanggal Pengkajian     :
Pukul                           :
A.    PENGKAJIAN
Text Box: IDENTITAS
No RM     : 065860
Nama        : NY.D
Agama      : Islam
Pekerjaan  : Petani

Diagnosa medis : GEA
Jenis Kelamin       : P
Status Perkawinan : Kawin
Sumber Informasi : TN. S

Umur : 67 Th
Pendidikan : -
Alamat : BANGSRI     Rt.03Rw. 09 Brebes

RESPON : Alert/ Verbal/ Pain/ Unrespon
TRIAGE  : Kuning

GENERAL IMPRESSION
Text Box: PRIMER SURVEY
Keluhan Utama :BAB cair sudah 2 hari, mual, muntah



Mekanisme Cedera :-



Text Box: √Orientasi (Tempat, Waktu, Orang) :  Baik         Tidak Baik

AIRWAY











Text Box: √Jalan Nafas :       Paten       Tidak Paten






 
Onstruksi    :       Lidah       Cairan






 
                           Benda Asing       Spasme

Suara Nafas :      Snoring        Gurgling

                            Stridor
 Keluhan Lain : -


BREATHING


Text Box: √Gerakan dada :       Simetris        Asimetris

Irama Nafas :       Cepat         Dangkal   

Text Box: √Normal






 
Bunyi Nafas :      Vesikuler       Wheezing                                   

Ronchi





Text Box: √



 
Pola Nafas :        Teratur         Tidak Teratur






Text Box: √


 
Retraksi otot dada :       Ada       Tidak ada

Text Box: √Cuping Hidung :        Ada         Tidak ada

Text Box: √Sesak Nafas :        Ada          Tidak ada

RR : 26 x/menit

Keluhan Lain :   -



CIRCULATION
Diagnosa Keperawatan :
1.      Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh b/d output cairan yang berlebihan.


Text Box: PRIMER SURVEY
Text Box: √Akral :       Hangat       Dingin






Text Box: √


 
Sianosis :       Ya       Tidak








 
CRT :       < 2detik        >2 detik

Frekuensi Nadi : 80x/menit





Text Box: √



 
Nadi :       Teraba         Tidak teraba

Text Box: √Irama :       Teratur        Tidak teratur





Text Box: √

 
Kekuatan :      Kuat        Lemah

Tekanan Darah :80/60  mmhHg

MAP : mmHg

Suhu Kulit : 36ºCelcius


 
Text Box: √Turgor Kulit :       Normal       Tidak Normal







Text Box: √

 
Pendarahan :        Ya         Tidak ada, cc

Keluhan Lain :

Kriteria Hasil :
Intervensi :
·         Pasang infuse, berikan ciaran jika pasien dehidrasi
·         Periksakan dara lengkap, urin dan elektrolit
·         Catat temperature
·         Lakukan kultur jika pyreksia
·         Lakukan monitoring ketat
·         Berikan cairan per oral
·         Jika ada mual dan muntah, berikan antiemetik IV.


DISABILITY

Text Box: PRIMER SURVEY
Text Box: √Respon :      Alert       Verbal       Pain 

Unrespon


 
Text Box: √Kesadaran :       CM       Delirium  

Somnolen


 
GCS :       Eye       Verbal       Motorik

Text Box: √Pupil :       Isokor       Unisokor        Pinpoint

Medriasis

Text Box: √Reflek cahaya :        Ada        Tidak ada

Kekuatan otot : +

Keluhan lain :



EXPOSURE


Text Box: √Deformitas :       Ya       Tidak

Text Box: √Contusio    :       Ya       Tidak


 
Text Box: √Abrasi        :       Ya       Tidak

Text Box: √Penetrasi    :       Ya       Tidak

Text Box: √Laserasi      :      Ya        Tidak

Text Box: √Edema        :      Ya        Tidak

Nyeri          :

P : kelemahan fisik terjadi setelah melakukan aktivitas ringan sampai berat

Q : klien merasakan nyeri di bagian perut

R : kelemahan dan nyeri yang dirasakan sangat mempengaruhi aktivitas pasien

S : kemampuan aktivitas pasien menurun

T : durasi kelemahan lama, nyeri perut hilang timbul

Keluhan Lain :-


FOLEY CATETER


Text Box: √Fimosis :       Ya       Tidak


Text Box: √
 
Distensi VU :       Ya       Tidak

Warna urine :

Jumlah Urine : ….ml dalam …..jama

Text Box: √Alat bantu :       Ya       Tidak , berupa

Keluhan lain :



GASTRIC TUBE


Alat Bantu : Ya Tidak

Warna : -

Jumlah : cc

Keluhan lain : -



HEART MONITOR


Saturasi oksigen : 90 %
Interpretasi EKG : -




IMAGING


Hasil pemeriksaan diagnostic (Rontgen, CT scan, MRI)




ANAMNESA


Menggunakan model SAMPLE


S : BAB cair sudah 2 hari, mual, muntah
A : Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan dan obat-obatan
M : Pasien sedang tidak mengkonsumsi obat apapun
P : -
L : pasien terakhir makan bubur pagi hari setengah porsi
E : BAB cair sudah 2hari,mual, muntah menyebabkan pasien lemah



PEMERIKSAAN FISIK
Diagnosa keperawatan :
1.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
2.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Text Box: PRIMER SURVEY
Kepala ( mata: cekung, bibir : kering, mulut : tidak ada stomatitis, hidung : simetris,leher : tidak terdapat distensi vena jugularis )

Dada :
Paru-paru
Inspeksi :
Palpasi :
Perkusi :
Auskultasi :
Kriteria Hasil :
·         Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50  c, RR : < 40 x/mnt )
·         Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
·         Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
·         Nafsu makan meningkat
·         BB meningkat atau normal sesuai umur
·         Nyeri dapat teratasi
·         Dapat istirahat dengan baik

Intervensi :
1.      Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
2.      Pantau intake dan output
3.      Timbang berat badan setiap hari
4.      Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
5.      Kolaborasi :
·         Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
·         Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
·         Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
6.      Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
7.      Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
8.      Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
9.      Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
10. Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
a.       terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b.      obat-obatan atau vitamin ( A)
11. Kaji tanda-tanda vital.
12.  Kaji tingkat rasa nyeri.
13.  Atur posisi yang nyaman bagi klien.
14.  Beri kompres hangat pada daerah abdomen


Jantung
Inspeksi :-
Palpasi :-
Perkusi :-
Auskultasi :-

Abdomen
Inspeksi : kulit keriput,cekung
Auskultasi : bising usus dan peristaltic meningkat
Palpasi : TURGOR jelek
Perkusi : -



PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

     RONTGEN, tanggal

     CT-SCAN, tanggal

     USG, tanggal

     EKG, tanggal

     ENDOSKOPI, tanggal

     Darah lengkap, tanggal

     Elektrolit, tanggal

     Lain-lain


Interpretasi hasil pemeriksaan diagnostic

TERAPI YANG DIBERIKAN/TERAPI LANJUTAN

Inisial Pasien :






Nama obat


Dosis

Cara pemberian

Waktu pemberian

Fungsi/indikasi
Infus RL 500
60 Tpm
IV
14.00
Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
Infus RL 500
20 Tpm
IV
14.30
Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
Ceftriaxone 1 gr
2 x 1 gr
IV
14.45 – 02.45
ANTIBIOTIK
Ranitidin 1 amp
2 x 1 amp
IV
14.45 – 02.45
ANTI MUAL
Ondancentron 1 amp
2 x 1 amp
IV
14.45 – 02.45
Anti pepticum
New diatab tab
3 x 1 tab
oral


Paracetamol tab 500mg
3 x 1 tab
oral






















































TANDA TANGAN PENGKAJI




                MULYANTO














B.     ANALISA DATA
NO
TGL,
JAM
DATA
PROBLEM
ETIOLOGI
1












2








3
03-06-2016     
Ds: Klien mengatakan sering BAB cair
Do:
-      K: Lemas
-      T: 80/60 mmHg
-      RR: 20x/mt
-      N: 68x/mnt
-      S: 38˚

Ds : Klien mengatakan badannya terasa lemas
Do:
-       -  Kehilangan berat badan
-       - Mulut dan bibir kering
-        - Nafsu makan menurun

Ds : Klien mengatakan nyeri pada abdomen
Do :
-       - Peningkatan prestaltik
-      - Terdengar bising usus
-      - Ada nyeri tekan pada abdomen




Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh





Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh




Gangguan rasa nyaman nyeri


output cairan yang berlebihan.






mual dan muntah.






. distensi abdomen




C.    PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
3.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen





D.    INTERVENSI
NO
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
NOC
NIC
1





































2.










































3.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

















Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.























Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.




Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
·         Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50  c, RR : < 40 x/mnt )
·         Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
·         Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali










Setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil:
·         Nafsu makan meningkat
·         BB meningkat atau normal sesuai umur






























Setelah dilakukan tindaka keperawatan selama di rumah sakit nyeri berkurang
Kriteria hasil :
·         Nyeri dapat teratasi
·         Dapat istirahat dengan baik

1.      Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
2.      Pantau intake dan output
3.      Timbang berat badan setiap hari
4.      Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
      5. Kolaborasi :
·         Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
·         Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
·         Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)


NIC :
1.      Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
2.      Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
3.      Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
4.      Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
5.      Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
·         terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
·         obat-obatan atau vitamin ( A)




NIC :
1. Kaji tanda-tanda vital.
-      2. Kaji tingkat rasa nyeri.
-     3. Atur posisi yang nyaman bagi klien.
-     4. Beri kompres hangat pada daerah abdomen














E.     IMPLEMENTASI
NO
DX
HARI,
TANGGAL,
JAM
IMPLEMENTASI
RESPON
1





















































2































3
    JUMAT
03 -06 -2016
    14.20



















































  14.40































14.55
1.      Memantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit






2.      Memantau intake dan output




3.      Menganjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr


4.      Berkolaborasi:
·         Memberikan cairan dalam jumlah kecil (30-60 ml) perjam pada tahap awal
·         Terapi :
-          Infus RL
-                         Ceftriaxon 2x1g
-          Ranitidin 2x1amp
-          Ondancentron 2x1ap







1.      Mendiskusikan dan menjelaskan tentang pembatasan diet
makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)

2.      Menciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat

3.      Memberikan diet makanan dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering




1.            Mengkaji nyeri pada abdomen dan bising usus

2.            Mengatur posisi yang nyaman bagi klien.


DS:Klien mengatakan rasa ingin  BAB dan muntah berkurang
DO:T: 80/60 mmHg
RR: 20x/mt
N: 68x/mnt
S: 38˚


DS : Klien mengatakan haus
DO :Klien tampak agak sedikit tenang dan hanya muntah sedikit
-Turgor kulit buruk

DS : Keluarga mengatakan mengerti




DS : klien mengatakan nyaman
DO : Klien mau minum   




DS :Klien mengatakan nyaman DO :Terpasang infus RL 60 TPM dan tidak terjadi alergi





DS:Klien mengatakan mengerti
DO:Wajah mengangguk






DS :Klien mengatakan mengerti
       Dan mau makan
DO :Klien terlihat nyaman   




DS : Klien mengatakan mau makan
DO : Makanan habis setengah porsi
-Klien tampak lemas


DS : Klien mengatakan nyeri hilang dan timbul
DO : Klien meringis kesakitan

DS : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang
DO : Wajah klien Nampak tenang
-Bising usus 40x
- Dapat beristirahat  dengan baik













F.     EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF
NO
HARI,
TANGGAL,
JAM
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
SOAP
1


















2


















3




   JUMAT
03 -06 -2016
    15.20
















  15.40


















   15.55
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.








Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.









Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen


S:Klien mengatakan rasa ingin BAB dan muntah berkurang
O:  T: 80/60 mmHg
RR: 20x/mt
N: 68x/mnt
S: 38˚
-Klien tampak agak sedikit tenang dan hanya muntah sedikit
-Turgor kulit buruk
A: Masalah teratasi sebagian
P:Melanjutkan pemberian terapi


S: klien mengatakan mual muntah setelah makan
O:-Klien tampak lemas
-Klien makan menghabiskan setengah porsi
A: masalah teratasi sebagian dan klien di pindah ke ruang keperawatan
P: planing di lanjutkan di ruang keperawatan.


S : klien mengatakan nyeri berkurang
O :-Bising usus 40x
- klien tampak sedikit agak nyaman
- Dapat beristirahat  dengan baik
A: Masalah teratasi sebagian
P: Melanjutkan terapi obat






DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily Lynn. Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC, 2009.
Doengoes, E Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 Jakarta; EGC.
Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.
Nursalam Dr.et. Al. 2005 Asuhann Keperawatan Bayi dan Anak. Edisi I Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer C Suzanne, Brenda G Bare, Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta; EGC.
Sudoyo, W. Aru, dkk., Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi IV, Pusat Penerbitan
Departemen Penyakit Dalam FKUI, Jakarta 2006.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta; EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar