Sabtu, 10 Desember 2016

LAPORAN KASUS CHF



   TINJAUAN TEORI

A.    DEFINISI
Congestive Heart Failure (CHF) adalah suatu kondisi dimana jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah guna mencukupi kebutuhan sel-sel tubuh akan nutrient dan oksigen secara adekuat  (Udjianti Wajan Juni, 2011:153 ).
Beberapa definisi gagal jantung ditujukan pada kelainan primer dari sindrom tersebut, yaitu keadaan ketika jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi yang cukup bagi kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian vena dalam keadaan normal. Namun beberapa definisi lain menyatakan bahwa gagal jantung bukanlah suatu penyakit yang terbatas pada satu sistem organ melainkan suatu sindrom klinis akibat kelainan jantung. Keadaan ini ditandai dengan suatu bentuk respon hemodinamika, renal, neural dan hormonal yang nyata. Di samping itu, gagal jantung merupakan suatu keadaan patologis dimana kelainan fungsi jantung menyebabkan kegagalan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan, atau hanya dapat memenuhi kebutuhan jaringan dengan meningkatkan tekanan pengisian (Muttaqin Arif, 2012).
Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Ruhyanudin Faqih, 2007).

B.     ETIOLOGI
Mekanisme fisiologi yang menyebabkan gagal jantung menurut (Ruhyanudin Faqih, 2007) mencakup keadaan-keadaan yang :
1.      Meningkatkan preload : regurgitasi aorta, cacat septum ventrikel.
2.      Meningkatkan afterload : stenosis aorta, hipertensi sistemik.
3.      Menurunkan kontraktilitas ventrikel : IMA, kardiomiopati.
4.      Gangguan pengisian ventrikel : stenosis katup atrioventrikuler, perikarditif konstriktif, tamponade jantung.
5.      Gangguan sirkulasi : aritmia melalui perubahan rangsangan listrik yang memulai respon mekanis.
6.      Infeksi sistemik/ infeksi paru : respon tubuh terhadap infeksi akan memaksa jantung untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan metabolisme yang meningkat.
7.      Emboli paru, yang secara mendadak akan meningkatkan resistensi terhadap ejeksi ventrikel kanan.

C.MANIFESTASI KLINIS
1.    Gagal jantung kiri : kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis yang dapat terjadi meliputi : dispnea, ortopnea, batuk, mudah lelah, takikardia, insomnia.
a.    Dispnea dapat terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli yang mengganggu pertukaran gas. Dispnea bahkan dapat terjadi pada saat istirahat atau dicetuskan oleh gerakan minimal atau sedang.
b.    Ortopnea kesulitan bernafas saat berbaring, beberapa pasien hanya mengalami ortopnea pada malam hari, hal ini terjadi bila pasien, yang sebelumnya duduk lama dengan posisi kaki dan tangan di bawah, pergi berbaring ke tempat tidur. Setelah beberapa jam cairan yang tertimbun diekstremitas yang sebelumnya berada di bawah mulai diabsorbsi, dan ventrikel kiri yang sudah terganggu, tidak mampu mengosongkan peningkatan volume dengan adekuat. Akibatnya tekanan dalam sirkulasi  paru meningkat dan lebih lanjut, cairan berpindah ke alveoli.
c.    Batuk yang berhubungan dengan ventrikel kiri bisa kering dan tidak produktif, tetapi yang tersering adalah batuk basah yaitu batuk yang menghasilkan sputum berbusa dalam jumlah yang banyak, yang kadang disertai bercak darah.
d.    Mudah lelah dapat terjadi akibat curah jantung yang kurang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme, juga terjadi akibat meningkatnya energi yang digunakan untuk bernapas.
e.    Insomnia yang terjadi akibat distress pernapasan dan batuk.
2.    Gagal jantung kanan : bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasikan semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. Manifestasi klinis yang tampak dapat meliputi edema ekstremitas bawah, peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena leher, asites, anoreksia, mual dan nokturia.
a.    Edema dimulai pada kaki dan tumit juga secara bertahap bertambah ke tungkai, paha dan akhirnya ke genetalia eksterna serta tubuh bagian bawah.
b.    Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena di hepar. Bila proses ini berkembang, maka tekanan dalam pembuluh darah portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar rongga abdomen, suatu kondisi yang dinamakan ascites. Pengumpulan cairan dalam rongga abdomen ini dapat menyebabkan tekanan pada diafragma dan distress pernafasan.
c.    Anoreksia dan mual terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga abdomen.
d.    Nokturia terjadi karena perfusi renal yang didukung oleh posisi penderita pada saat berbaring. Diuresis terjadi paling sering pada malam hari karena curah jantung membaik saat istirahat.
e.    Kelemahan yang menyertai gagal jantung sisi kanan disebabkan karena menurunnya curah jantung, gangguan sirkulasi, dan pembuangan produk sampah katabolisme yang tidak adekuat dari jaringan (Smeltzer, 2002 : hal 805).

D.  PATOFISIOLOGI
Bila reservesi jantung normal untuk berespons terhadap stress tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh, maka jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya terjadi gagal jantung. Demikian juga, pada tingkat awal, disfungsi komponen pompa secara nyata dapat mnegakibatkan gagal jantung. Jika reservasi jantung normal mengalami kepayahan dan kegagalan, respons fisiologis tertentu pada penurunan cucrah jantung adalah penting. Semua respons ini menunjukkan upaya tubuh untuk mempertahankan perfusi organ vital tetap normal. Terdapat empat mekanisme respons primer terhadap gagal jantung meliputi :
1.    Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatis
Menurunnya volume sekuncup pada gagal jantung akan membangkitkan respons simpatis kompensatoris. Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatis merangsang pengeluaran katekolamin dan saraf-saraf adrenergic jantung dan medulla adrenal. Denyut jantung dan kekuatan kontraksi akan meningkat untuk meningkatkan curah jantung. Arteri perifer juga melakukan vasokontriksi untuk menstabilkan tekanan arteri dan redistribusi volume darah dengan mengurangi aliran darah ke orgab-organ yang rendah metabolismenya seperti kulit dan ginjal. Hal ini bertujuan agar perfusi ke jantung dan otak dapat dipertahankan. Venokontriksi akan meningkatkan aliran darah balik vena ke sisi kanan jantung, untuk selanjutnya menambah kekuatan kontraksi sesuai dengan hokum starling.
Pada keadaan gagal jantung, baroresptor diaktivasi sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas simpatis pada jantung, ginjal dan pembuluh darah perifer. Angiotensin II dapat meningkatkan aktivitas simpatis tersebut.
Aktivitas sistem saraf simpatis yang berlebihan menyebabkan peningkatan kadar noradrenalin plasma, yang selanjutnya akan menyebabkan vasokontriksi, takikardia, serta retensi garam dan air. Aktivitas simpatis yang berlebihan juga dapat menyebabkan nekrosis sel otot jantung. Perubahan ini dapat dihubungkan dengan observasi yang menunjukkan bahwa penyimpanan norepinefrin pada miokardium mnejadi berkurang pada gagal jantung kronis.
2.      Meningkatnya beban awal akibat aktivasi neurohormon
Aktivasi sistem rennin - angiotensin - aldosteron (RAA) menyebabkan retensi natrium dan air oleh ginjal, meningkatkan volume ventrikel dan regangan serabut. Peningkatan beban awal ini akan menambah kontraktilitas miokardium sesuai dengan hokum starling. Mekanisme pasti yang mengakibatkna aktivasi sistem RAA pada gagal jantung masih belum jelas. Sistem RAA bertujuan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit yang adekuat serta mempertahankan tekanan darah.
Renin adalah enzim yang disekresikan oleh sel-sel juxtaglomerulus, yang terletak berbatasan dengan arteriol renal eferen dan bersebalahan dengan macula densa pada tubulus distal. Renin merupakan enzim yang mengubah angiotensinogen (sebagian besar berasal dari hati) angiotensin I.
Angiotensin converting enzyme (ACE) yang terikat pada membrane plasma sel endotel akan memecah dua asam amino dan angiotensin I untuk membentuk angiotensin II. Angiotensin II memiliki beberapa fungsi penting untuk memelihara homeostasis sirkulasi, yaitu merangsang konstriksi arteriol pada ginjal dan sirkulasi sistemis, serta mereabsorbsi natrium pada bagian proksimal nefron.
Angiotensin II juga menstimulasi korteks adrenal untuk menskresi akdosteron, yang akan merangsang reabsorbsi natrium (dalam pertukaran dengan kalium) pada bagina distal dari nefron, serta di usus besar, kelenjar saliva dan kelenjar keringat. Renin diskresikan pada keadaan menurunnya tekanan darah, kekurangan natrium dan peningkatan aktivitas simpatis ginjal.
Angiotensin I sebagina besar kemudian diubah di paru-paru menjadi angiotensin II, suatu zat presor yang poten, oleh angiotensin converting enzyme (ACE). ACE juga dapat memecah bradikinin dan bekerja pada sejumlah peptide lain. Angiotensin II dipecah secara cepat oleh enzim non-spesifik yang disebut angiotensinase. Angiotenisn II memegang peran utama dalam sistem RAA karena meningkatkan tekanan darah dengan beberapa cara seperti vasokontriksi, retensi garam dan cairan dan takikardia.
Peptida natriretik atrial (PNA) disekresi oleh jantung kemudian masuk ke dalam sirkulasi. Sekresinya terutama dipengaruhi oleh peningkatan tekanan pada dinding atrium atau ventrikel, biasanya akibat peningkatan tekanan pengisian atrium atau ventrikel. PNA menyebabkan dilatasi dari arteri yang mengalami konstriksi akibat neurohormon lain serta meningkatkan ekskresi garam dan air.
3.      Hipertrofi ventrikel
Respon terhadap kagagaln jantung lainnya adalah hipertrofi ventrikel atau bert         embahnya ketebalan dinding ventrikel. Hipertrofi meningkatkan jumlah sarkomer dalam sel-sel miokardium, bergantung pada jenis bebasn hemodinamika yang mengakibatkna gagal jantung. Sarkomer dapat bertambah secara parallel atau serial. Sebagai contoh, suatu beban tekanan yang ditimbulkan oleh adanya stenosis aorta, akan disertai penambahan ketebalan dinding tanpa penambahan ukuran runag di dalamnya. Respons miokardium terhadap beban volume seperti pada regurgitasi aorta, ditandai dengan dilatasi dan bertambahnya ketebalan dinding. Kombinasi ini diduga merupakan akibat dari bartambahnya jumlah sarkomer yang tersusun secara serial. Kedua pola hipertrofi ini dikenal sebagai hipertrofi konsentris dan hipertrofi eksentris.
4.      Volume cairan berlebih
Remodelling jantung terjadi agar dapat menghasilkan volume sekuncup yang besar. Karena setiap sarkomer mempunyai jarak pemendekan puncak yang terbatas, maka peningkatan volume sekuncup dicapai dengan peningkatan kumlah sarkomer seri, yang akan menyebabkan peningkatan volume ventrikel. Pelebaran ini membutuhkan ketegangan dinding yang lebih besar agar dapat menimbulkan tekanan intraventrikel yang sama sehingga membutuhkan peningkatan jumlah myofibril parallel. Sebagai akibatnya, terjadi peningkatan ketebalan dinding ventrikel kiri. Jadi, volume cairan berlebih menyebabkan pelebaran runag hipertrofi eksentrik.
Keempat respons ini adalah upaya untuk mempertahankan curah jantung. Mekanisme-mekanisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini dan pada keadaan istirahat. Tetapi, kelainan pada kerja ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada saat beraktivitas. Dengan berlanjutnya gagal jantung, maka kompensasi akan menjadi semakin kurang efektif (Muttaqin Arif, 2012).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Electrocardiography (ECG) : didapatkan gambaran perpanjangan interval QRS karena perubahan massa otot ventrikel yang akan meningkatkan lama aktivitas ventrikel. Meningginya gelombang R karena peningkatan massa otot jantung yang dilalui potensial listrik. Adanya massa otot yang semakin menebal maka kesempatan repolarisasi akan diberikan pada endocardium terlebih dahulu. Keadaan ini akan mengakibatkan gambaran RS – T mengalami depresi dan gelombang T terbalik pada sadapan 5 dan 6. Pada sadapan 1 dan 2 tampak adanya gambaran gelombang S yang sangat dalam dan didapatkan R yang meninggi melebihi 20 mm.
2.      Sonogram (echocardiogram) dapat menunjukkan dimensi pembesaran ventrikel, perubahan dalam fungsi/ struktur katup atau area penurunan kontraktilitan ventrikuler.
3.      Kateterisasi jantung : tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung kanan maupun kiri dan stenosis katup maupun insufisiensi. Juga mengkaji patensi arteri koroner. Zat kontras yang disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/ perubahan kontraktilitas.
4.      X-ray Thoraks : ditemukan adanya pembesaran jantung yang disertai adanya pembendungan cairan di paru karena hipertensi pulmonal. Tempat adanya infiltrate precordial kedua paru dan efusi pleura.
5.      Laboratorium secara umum dapat ditemukan penurunan Hb dan hematokrit karena adanya hemodilusi. Jumlah leukosit meningkat, bila sangat meninggi mungkin disebabkan oleh adanya infeksi endokarditis yang akan memperberat jantung. Keadaan asam basa tergantung pada keadaan metabolism, masukan kalori, keadaan paru dan fungsi ginjal. Kadar natrium darah sedikit menurun walaupun kadar natrium total bertambah. Berat jenis urine meningkat. Enzim hepar mungkin meningkat dalam kongesti hepar. Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksia dengan peningkatan pCO2. BUN dan kreatinin menunjukkan penurunan perfusi ginjal. Albumin/ transferin serum mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein atau penurunan sintesis protein dalam hepar yang mengalami kongesti. Kecepatan sedimentasi menunjukkan adanya inflamasi akut.6.      Ultrasonography (USG) : didapatkan gambaran cairan bebas dalam rongga abdomen dan gambaran pembesaran hepar dan lien. Pembesaran hepar dan lien kadang sulit diperiksa secara manual saat disertai asites (Doenges Marilyn E., dkk., 2000).

F. PENATALAKSANAAN
Pada tahap simtomatik dimana sindrom gagal jantung sudah terlihat jelas seperti cepat capek atau fatigue, sesak nafas (dyspnea in effort, orthopnea), kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites, hepatomegali dan oedema sudah jelas, maka dengan diagnosis gagal jantung mudah di buat. Tetapi bila syndrome tersebut belum terlihat jelas seperti pada tahap disfungsi ventrikel kiri/LV disfunction (tahap asimtomatik), maka keluhan fatik dan keluhan di atas yang hilang timbul tidak khas, sehingga harus di topang oleh pemeriksaan foto rontgen, echocardigrafi dan pemeriksaan Brain Natriuretic Peptide.
Diuretik oral maupun parenteral tetap merupakan ujung tombal pengobatan gagal jantung sampai edema atau asites hilang (tercapai euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil sampai optimal dapat dimulai setelah diuretic dan ACE-inhibitor tersebut diberikan.
Digitalis diberikan bila ada aritmia supra-ventrikuler  (fibrilasi atrium atau SVT lainnya) atau ketiga obat di atas belum memberikan hasil yang memuaskan. Intoksikasi sangat mudah terjadi bila fungsi ginjal menurun (ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (kurang dari 3,5 meq/L).
Aldosteron antagonis di pakai untuk memperkuat efek diuretic atau pada pasien hipokalemia, dan ada beberapa studi yang menunjukkan penurunan mortalitas dengan pemberian jenis obat ini.
Pemakaian obat dengan efek diuretic-vasodilatasi seperti Brain N Atriuretic Peptide (Nesiritide) masih dalam penellitian. Pemakaian alat bantu seperti Cardiac Resychronization Therapy (CRT) maupun pembedahan, pemasangan ICD (Intra Cardiac Defibrillator) sebagai alat mencegah mati mendadak pada gagal jantung akibat iskemia maupun non-iskemia. Dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas hidup, namun mahal. Transplantasi sel dan stimulasi degenerasi miokard, masih terkendala dengan masih minimalnya jumlah miokard yang dapat ditumbuhkan untuk mengganti miokard yang rusak dan masih memerlukan penelitian lanjut(Sudoyo Ary W., 2007).

G. KOMPLIKASI
Menurut patric davay (2005), komplikasi gagal jantung kongestif adalah sebagai berikut :
1.    Efusi pleura
Di hasilkan dari peningkatan tekanan kapiler. Transudasi cairan terjadi dari kapiler masuk ke dalam ruang pleura. Efusi pleura biasanya terjadi pada lobus bawah darah.
2.    Aritmia
Pasien dengan gagal jntung kongestif mempunyai risiko untuk mengalami aritmia, biasanya disebabkan karena tachiaritmias ventrikuler yang akhirnya menyebabkan kematian mendadak.
3.    Trombus ventrikuler kiri
Pada gagal jntung kongestif akut dan kronik, pembesaran ventrikel kiri dan penurunan kardiac output beradaptasi terhadap adanya pembentukan thrombus pada ventrikel kiri. Ketika thrombus terbentuk, maka mengurangi kontraktilitas dari ventrikel kiri, penurunan suplai oksigen dan lebih jauh gangguan perfusi. Pembentukan emboli dari thrombus dapat terjadi dan dapat disebabkan dari Cerebrivaskular accident (CVA).
4.    Hepatomegali
Karena lobus hati mengalami kongestif dengan darah vena sehingga menyebabkan perubahan fungsi hati. Kematian sel hati, terjadi fibrosis dan akhirnya sirosis.






I.       PATHWAY

Disfungsi Miokard                   Beban tekanan                         Beban sistolik                          Peningkatan             Beban volume
(AMI) Miokarditis                   berlebihan                                                berlebihan                                                keb. Metabolism      berlebihan










 
Kontraktilitas↑                         Beban systole↑                        Preload↑
                                               
                                               Kontraktilitas↓                        

                                                Hambatan Pengosongan
                                                Ventrikel
                                                                                                                           
                                                COP↓                                          


 
                                                Beban Jantung meningkat                                                                                 Gagal jantung kanan
                                                                                CHF

                                                                                CHF
                          Gagal pompa Ventrikel Kiri                                                            Gagal pompa Ventrikel Kanan

                          Forward Failure                                                              Backward Failure
                                                                                                                    LVED naik                          Tekanan Diastole↑
Suplai Darah jar.                                    Suplai O2 otak↓     Renal flow↓                               Tek. Vena Pulmonalik↑           Bendungan atrium kanan
Metab. Anaerob                       Sinkop                     RAA↑                      Tek. Kapiler paru↑                  
Asidosis Metabolik                  Penurunan perfusi   Aldosteron                        Edema paru  Beban ventrikel        Bendungan vena sistemik
                                                Jaringan                                                                   Kanan                     
Penimbunan as. Laktat                                             ADH↑     
dan ATP↓

Fatigue                                                     Retensi Na+H2O              Ronkhi Basah  Hipertrofi Ventrikel Lien         Hepar


 
Intoleransi aktifitas                                  Kelebihan volume       Iritasi mukosa       Penyempitan lumen  Splenomegali  Hepatomegali
(Pemenuhan ADL)                                   Cairan Vaskuler         Reflek Batuk                                         
                                Gangguan Pertukaran Gas                        Penumpukan secret                                  Mendesak diafrgma
                                                                                                                                                                Sesak Nafas
                                                                                                                                                Pola Nafas Tidak Efektif                 
ASUHAN KEPERAWATAN TN. R DENGAN CHF
DI RUANG ICU RSUD BREBES

Nama mahasiswa        :
NIM                            :

Tanggal pengkajian     :
Pukul                           :
A.    IDENTITAS PASIEN
Inisial Pasien               :Tn. R
Usia                             :64 Tahun
Jenis kelamin               :Laki-laki
Pendidikan                  :SMP
Pekerjaan                     :Tani
Agama                         :Islam
Alamat                                    :
Diagnosa Medis          : CHF
No RM                        : 920164
Penanggung Jawab    
Inisial nama                 : Ny.P
Usia                             : 33 Tahun
Jenis Kelamin              : Perempuan
Pendidikan                  : SMA
Pekerjaan                     : Wiraswasta
Agama                         : Islam
Alamat                                    :
Hub dengan pasien     : Anak
B.  PENGKAJIAN
1. Wawancara
a. Keluhan utama :
Pasien mengatakan mengalami sesak nafas.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengalami sesak nafas sejak seminggu yang lalu sebelum masuk rumah sakit sesak dirasakan terus menerus, membaik jika pasien duduk atau pasien tidur dengan dua bantal, tidak mual, tidak muntah, dan tidak nafsu makan sehingga pada tanggal 20 Juni 2016 pasien dibawa ke RSUD Brebes untuk dilakukan pemeriksaan, setelah dilakukan pemeriksaan pasien diharuskan opname di ICU dan pasien dibawa ke ICU jam 09.48 WIB untuk menjalani perawatan lebih instensif.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mempunyai riwayat penyakit gagal ginjal, dan baru ini dirawat di ICU untuk penyakit yang dikeluhkan.
d. Riwayat penyakit keluarga
Anggota keluarga pasien tidak ada yang mengalami atau menderita penyakit yang sama dengan pasien dan juga keluarga pasien tidak ada yang memiliki penyakit keturunan.
e. Riwayat pekerjaan      
            Pasien bekerja sebagai petani.
f. Riwayat geografi
            Pasien tinggal di lingkungan yang bersih
g. Riwayat alergi
Pasien tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan, obat, maupun udara.
h. Kebiasaan social
Keluarga mengatakan pasien sudah jarang mengikuti kegiatan sosial yang biasa dilakukan
i. Kebiasaan merokok
            Pasien memiliki kebiasaan merokok      
C. PEMERIKSAAN FISIK
      1. Keadaan umum       :  Compos mentis                                     
      2. Keluhan nyeri          :  Nyeri dada
      3. B1 (Breathing) pernafasan
            Inspeksi                       : sesak nafas
          Palpasi                     : -
          Perkusi                    : -
          Auskultasi               :
          Respiratory rate       : 30 x/menit
          Oksigenasi               : nasal kanul

            4. B2 (Blood) kardiovaskuler
      Inspeksi                       : Adanya udema ekstremitas, ujung jari kebiruan, bibir pucat abu-abu
          Palpasi                     : Denyut nadi perifer melemah
Perkusi                    :Batas jantung mengalami pergeseran yang menunjukkan adanya hipertrofi jantung (kardiomegali)
Auskultasi           : Tekanan darah menurun akibat penurunan volume sekuncup. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya ditemukan apabila gagal jantung adalah kelainan katup.Irama jantung disritmia. Bunyi jantung S3 (Gallop) adalah diagnostik, S4 dapat terjadi. S1 dan S2 mungkin melemah
Heart rate                         : 118 x/menit
          Irama nadi               : teratur
          Kualitas nadi           : cepat
          Akral                       : hangat
          JVP                                     : 120/80 mmHg
          EKG                        :Sinus tachikardi
      5. B3 (Brain) persyarafan
      Tingkat kesadaran       : Compos mentis
          GCS                        : E4 M6 V5
          Reaksi pupil            : +3/+3
          Reflek patologi       : -

      6. B4 (Bladder) perkemihan
      Distensi VU    : tidak tegang
         Urine                        : 300 – 500 cc/hari
          Warna urine             : gelap
          Alat bantu               : terpasang DC
      7. B5 (Bowel) pencernaan
      Inspeksi                       : anoreksia
          Auskultasi               :peristaltic cepat
          Palpasi                     : nyeri tekan pada kuadran atas abdomen
          Perkusi                    : kembung
          Kondisi mulut         : kering
         BAB (frekuensi,konsistensi) : lembek
         Alat bantu                : -
      8. B6 (Bone) musculoskeletal
      Kekuatan otot             : lemah
          ROM                       :
          Hemiplegi/parase     : -
          Turgor                     : jelek
          Kelainan vertebra    : -
Fraktur                        : -
Ekstremitas                         : - Pada ujung jari terjadi kebiruan dan pucat. Warna kulit pucat dan sianosis.
-       Terjadi udema pada kedua kaki

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan radiologi :
            Foto thorax PA, errect, simetris, kondisi dan inspirasi cukup, hasil:
-Corakan bronkovaskuler kedua pulmo meningkat dengan peribronkial cupping dan hillar hezzy ( + ). Tampak infiltrate parahiller dextra
- COR, CTR > 0,52 Apex bergeser ke laterocaudal
- Kedua diafragma licin, mendatar
- Kedua sinus CF lancip
- Tampak union fraktur 1/3 media dalam fiksasi internab1 buah nail, kallus ( + )
KESAN :
-Cardiomegali (LV) dengan udema pulmonum
- Bronkhitis
- Union Fracture dengan resobsi kallus belum sempurna dalam fiksasi interna 1 AA baik
      2. EKG tanggal           : Sinus Tachikardi
      3. AGD tanggal          : 20 – 05 – 16     12: 59
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Neutrofil
H 96.3
50 – 70
Limfosit
L 1,9
20 – 40
Monosit
L 1.7
2 – 8
Eosinofil
L 0.0
1.0 – 3.0
Basofil
0.1
0 – 1
Hemoglobin
14.2
12.0 – 16.0
Leukosit
H 20.31
4.00 – 10.00
Eritrosit
4.83
4/00 – 5.50
Hematokrit
42.2
40.0 – 48.0
MCV
87.4
81.0 – 96.0
MCM
29.4
27.0 – 31.0
MCHC
33.6
32.0 –37.0
Trombosit
L 77
150 -- 400
GOL – DA
A

Glukosa sewaktu
H 490
70 – 115
Ureum
H 157
10.00 – 50.00
Creatinin
H 1.60
0.60 – 1.10
SGOT
H 210
< 37
SGPT
H 375
< 37





E. PROGRAM TERAPI
     
Inisial pasien : Tn. R
Nama obat

Dosis
Cara pemberian
Waktu pemberian
Fungsi
Pantoprazol
Furosemid
Lavemir
Novorapid V
Forbiven Neb
Cefoperazon
CPG
1x1
2x1
1x20u
3x20 u
3x
2x1 gr
1x75mg
IV
IV
SC
SC
Nebulizer
IV
Oral
     06.00
06.00 , 18.00
    06.00
06.00 12.00 17.00
06.00 12.00 17.00
06.00 ,  18.00
     06.00
Anti peptikum
Diuretik
Anti diabetic
Anti diabetic
Anti sesak
Antibiotik
Obat jantung
     




F. ANALISA DATA
     
No
Tanggal, jam
Data
Problem
Etiologi
1.
20 Juni 2016
14.30 wib
DS:
·     - Pasien mengatakan klien “mudah lelah, nyeri dada kiri dan uluhati, sesak nafas, sering terbangun pada malam hari saat tidur.”
DO:
·      - Tekanan darah bisa meningkat (hipertensi/ hipotensi)
-          -nadi lemah
-          -terdengar suara gallop ventrikel dan gallop atrium (S3 clan S4)
-          - keringat dingin ronchi +3/+3
-          - sianosis nyeri dada
-          -edema tungkai+/+, EKG: ST depresi V2 dan V4, rasio R/S V1, V6 urine sedikit ±300 – 500 cc perhari, nafas cepat.





Resiko tinggi Penurunan perfusi jaringan jantung

Menurunnya kemampuan pompa ventrikel


2.
20 Juni  2016
14:30 WIB
DS:
·       - Pasien mengatakan nafasnya sesak dan sering terbangun pada malam hari karena sesak nafas dan batuk-batuk
DO:
·       - Ujung jari dan kuku tampak kebiruan
-          -ronchi (+3/+3)
-          - nafas cepat tampak tarikan dinding dada
·     - Ht: 42.2

Pola napas tidak efektif

Keletihan otot pernapasan
3.
20 Juni  2016
14.30 wib
·   DS:
·         - Pasien menyatakan bila berjalan terasa berat, sesak nafas, lebih enak tidur dengan posisi setengah duduk, kencing sedikit
DO:
·         -Tungkai tampak bengkak/ edema,
-jumlah kencing sedikit 300-500 cc/ hari,
- tampak bendungan vena jugularis, ronchi (+) respirasi nafas cepat, terdengar bunyi jantung S3 dan nadi lemah
·         Ht: 42.2
·         



-           
Kelebihan volume cairan


Kelebihan asupan cairan dan natrium

G. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
      1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan keletihan otot pernafasan         
      2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan dan natrium
      3. Resiko tinggi penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan menurunnya kemampuan pompa ventrikel





H. INTERVENSI                                                                           
     
No
Diagnosa keperawatan
NOC
NIC
1.













2.













3.





















Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan keletihan otot pernafasan











Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan dan natrium









R
Resiko tinggi penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan menurunnya kemampuan pompa ventrikel










Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola nafas menjadi efektif dengan kriteria hasil :
1.     - Tidak ada keluhan sesak
2.     - Tidak tampak tarikan dinding dada
3.      - Klien bisa istirahat pada malam hari
4.      - TTV dalam batas normal (RR 20-24 kali/ menit)


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi kelebihan volume cairan sistemik dengan kriteria hasil :
1.      - Klien tidak sesak napas
2.      - Intake dan output seimbang
3.      - Pitting edema tidak ada
4.      - Produksi urine › 600 ml/ hari


Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi penurunan curah jantung dengan kriteria hasil    : 
-          -Tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung,  melaporkan penurunan episode dispnea, angina, ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.

-         - Auskultasi bunyi nafas, catat adanya mengi.
2.      - Anjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam.
3.      - Dorong untuk perubahan posisi sering.
4.      - Koreksi keseimbangan asam basa.
5.      - Berikan tambahan O2 6 liter/ menit.
6.      - Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi


- Kaji adanya edema ekstremitas.
2.      - Kaji tekanan darah.
- Kaji distensi vena jugularis.
- Ukur intake dan output
-  Beri posisi yang membantu drainase ekstremitas, lakukan latihan gerak pasif.
7.      - Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi
-           
-          - Auskultasi nadi apikal, kaji frekuensi dan irama jantung.
-          - Catat bunyi jantung.
-          - Palpasi nadi perifer.
-          - Pantau TD.
-          - Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis.
-          - Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi).
-          - Berikan obat sesuai indikasi : diuretik
-          - Pantau  EKG dan
-            pemeriksaan laboratorium
Rasional :














I. IMPLEMENTASI
     
No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1`















2.

















3.



















SENIN
20-05-2016
14.30 WIB

14:35 WIB




14:40 WIB



17:00 WIB


SENIN
20-05-2016
15:15 WIB

15:25 WIB


15:30 WIB

16:00 WIB



17:00 WIB




SENIN
20-05-2016
17:10 WIB

17:30 WIB


17:45 WIB



18:00 WIB


19:00 WIB










- Mendengarkan bunyi nafas, mencatat adanya mengi.


2.      –Memganjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam.
3.      - mendorong untuk perubahan posisi semifowler.
4.     
5.     - Memberi tambahan O2 6 liter/ menit
.

6.      - Berkolaborasi pemberian obat nebulizer Forbiven neb

- Mengkaji adanya edema ekstremitas.


2.      –Mengkaji tekanan darah dan
mengkaji distensi vena jugularis.
- Mengukur intake dan output

-  Memberi posisi yang membantu drainase ekstremitas, lakukan latihan gerak pasif.
7.      - Berkolaborasi dalam pemberian obat furosemide, novarapid, Cefoperazon 1gram

-Menghitung nadi,tensimengkaji frekuensi dan irama jantung dan mencatat bunyi jantung.
-Mengkaji kulit terhadap pucat dan sianosis
-           
-          -Memberikan oksigen tambahan dengan kanula nasal.
-           
-          - Memberikan obat sesuai indikasi : diuretik

-          - Memantau EKG  dan
-          pemeriksaan hasil laboratorium.





DS:Pasien mengatakan masih sesak nafas.
DO:RR 30 x/menit.
DS:Pasien mengatakan mengerti..
DO:Pasien tampak melakukan batuk efektif dan nafas dalam.

-           
DS:Pasien mengatakan masih sesak nafas.
DO:Pasien tampak terpasang oksigen.
DS:Pasien mengatakan mau untuk dilakukan tindakan nebulizer.
DO:Tampak terpasang alat nebulizer di daerah hidung.

DS:Pasien mengatakan daerah tungkai bengkak.
DO:Tampak odema di tungkai



DS:Pasien mengatakan merasa nyaman
DO:T 120/80 mmhg


DS:-
DO:-

DS:Pasien mengatakan merasa nyaman`
DO:Pasien tampak melakukan latihan pasif


DS:Pasien mengatakan tidak ada reksi allergi.
DO:Injeksi masuk.




DS:Pasien mengatakan merasa nyaman.
DO:T:120/80 mmhg,RR:30 x/menit,N:100 x/menit.



DS:-
DO:Ujung jari dan kulit masih tampak kebiruan

DS: Pasien mengatakan masih sesek.
DO:Terpasang oksigen dengan kanul nasal.


DS:Pasien mau di injeksi.
DO:Obat masuk.


DS:-
DO:GDS:490,Ureum:157,Creatinin 1,60,SGOT:210,SGPT:375



















No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1`
















2.

















3.



















SELASA        21-05-2016        14.30 WIB


14:35 WIB




14:40 WIB



17:00 WIB


SELASA
21-05-2016
15:15 WIB

15:25 WIB


15:30 WIB


16:00 WIB



17:00 WIB



SELASA
21-05-2016
17:10 WIB


17:30 WIB


17:45 WIB



18:00 WIB



19:00 WIB
- Mendengarkan bunyi nafas, mencatat adanya mengi.



2.      –Memganjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam.
3.      - mendorong untuk perubahan posisi semifowler.
4.     
5.     - Memberi tambahan O2 4 liter/ menit
.

6.      - Berkolaborasi pemberian obat nebulizer Forbiven neb

- Mengkaji adanya edema ekstremitas.


2.      –Mengkaji tekanan darah dan
mengkaji distensi vena jugularis.
- Mengukur intake dan output


-  Memberi posisi yang membantu drainase ekstremitas, lakukan latihan gerak pasif.
7.      - Berkolaborasi dalam pemberian obat furosemide, novarapid, Cefoperazon 1gram
- Menghitung nadi,tensi mengkaji frekuensi dan irama jantung dan mencatat bunyi jantung.

-          -Mengkaji kulit terhadap pucat dan sianosis
-           
-          -Memberikan oksigen..



-          - Memberikan obat sesuai indikasi : diuretik


-          - Memantau EKG  dan
-           pemeriksaan hasil laboratorium.
DS:Pasien mengatakan sesak nafas berkurang.nyeri dada sebelah kiri berkurang.
DO:RR 28 x/menit.
DS:Pasien mengatakan mengerti..
DO:Pasien tampak melakukan batuk efektif dan nafas dalam.

-           
DS:Pasien mengatakan  sesak nafas berkurang.
DO:Pasien tampak terpasang oksigen.
DS:Pasien mengatakan mau untuk dilakukan tindakan nebulizer.
DO:Tampak terpasang alat nebulizer di daerah hidung.

DS:Pasien mengatakan daerah tungkai bengkak berkurang
DO:Tampak odema di tungkai berkurang.


DS:Pasien mengatakan merasa nyaman
DO:T 120/80 mmhg


DS:-
DO:-

DS:Pasien mengatakan merasa nyaman`
DO:Pasien tampak melakukan latihan pasif


DS:Pasien mengatakan tidak ada reksi allergi.
DO:Injeksi masuk.




DS:Pasien mengatakan merasa nyaman.
DO:T:120/80 mmhg,RR:28 x/menit,N:100 x/menit.



DS:-
DO:Ujung jari dan kulit masih tampak pucat

DS: Pasien mengatakan sesek berkurang.
DO:Terpasang oksigen dengan kanul nasal.


DS:Pasien mau di injeksi.
DO:Obat masuk.



DS:-
DO:GDS:300,Ureum:123,Creatinin 1,4


















No Dx
Hari, tanggal, jam
Implementasi
Respon
1`















2.


















3.



















RABU
22-05-2016        14.30 WIB


14:35 WIB




14:40 WIB



17:00 WIB


RABU
22-05-2016
15:15 WIB

15:25 WIB



15:30 WIB

16:00 WIB



17:00 WIB



RABU
22-05-2016
17:10 WIB


17:30 WIB


17:45 WIB


18:00 WIB


19:00 WIB












- Mendengarkan bunyi nafas, mencatat adanya mengi.



2.      –Memganjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam.
3.      - mendorong untuk perubahan posisi semifowler.
4.     
5.     - Memberi O2 2 liter/ menit
.


6.      - Berkolaborasi pemberian obat nebulizer Forbiven neb

- Mengkaji adanya edema ekstremitas.


2.      –Mengkaji tekanan darah dan
mengkaji distensi vena jugularis.

- Mengukur intake dan output

-  Memberi posisi yang membantu drainase ekstremitas, lakukan latihan gerak pasif.
7.      - Berkolaborasi dalam pemberian obat furosemide, novarapid, Cefoperazon 1gram

- Menghitung nadi,tensi mengkaji frekuensi dan irama jantung dan mencatat bunyi jantung.

-          -Mengkaji kulit terhadap pucat dan sianosis
-           
-          -Memberikan oksigen.


-          - Memberikan obat sesuai indikasi : diuretik

-          - Memantau EKG  dan
-           pemeriksaan hasil laboratorium.





DS:Pasien mengatakan sesak nafas berkurang,nyeri dada tidak ada.
DO:RR 26x/menit.
DS:Pasien mengatakan mengerti..
DO:Pasien tampak melakukan batuk efektif dan nafas dalam.

-           
DS:Pasien mengatakan sesak nafas berkurang.
DO:Pasien tampak terpasang oksigen.
DS:Pasien mengatakan mau untuk dilakukan tindakan nebulizer.
DO:Tampak terpasang alat nebulizer di daerah hidung.

DS:Pasien mengatakan daerah tungkai bengkak berkurang.
DO:Tampak odema di tungkai berkurang


DS:Pasien mengatakan merasa nyaman
DO:T 120/80 mmhg



DS:-
DO:-

DS:Pasien mengatakan merasa nyaman`
DO:Pasien tampak melakukan latihan pasif


DS:Pasien mengatakan tidak ada reksi allergi.
DO:Injeksi masuk.




DS:Pasien mengatakan merasa nyaman.
DO:T:120/80 mmhg,RR:26x/menit,N:96 x/menit.


DS:-
DO:Ujung jari dan kulit  tampak kemerahan

DS: Pasien mengatakan sesek berkurang.
DO:Terpasang oksigen


DS:Pasien mau di injeksi.
DO:Obat masuk.


DS:-
DO:GDS:250,Ureum:96,Creatinin 1,3,SGOT:





















J. EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF

No
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1.














2.














3.










 SENIN
20 - 05 -  2016
     19:00 WIB










 SENIN 
20 - 05 -2016
   19:00 WIB










SENIN
20 - 05 - 2016
   19:00 WIB
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan keletihan otot pernafasan           















Kelebihan volume cairan

berhubungan dengan kelebihan

Asupan cairan dan natrium














Resiko tinggi penurunan

perfusi jaringan jantung

berhubungan dengan menu-

runnya kemampuan pompa

ventrikel
-          S :  Pasien mengatakan masih             
      Sesak nafas,nyeri dada sebelah kiri
O : pasien nampak sesak,RR:30x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
-             - Pertahankan jalan nafas yang
-               Paten
-             - Observasi tanda-tanda    
-                Ventilasi
-             - Berikan terapi O2
-           - Monitor vital sign



S : Pasien mengatakan masih
     Sesak nafas.
     Pasien mengatakan daerah tungkai masih bengkak`
O : pasien Nampak sesak,Tampak odem ditungkai.RR:30x/menit.
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
-              - Kaji adanya edema
-                ekstremitas
-              - Catat intake dan out put
-              - Monitor vital sign



S : pasien mengatakan masih
     Sesak nafas
O : pasien masih sesak nafas,T:120/80 mmhg,RR:30 x/menit,N:100 x/menit,Ujung jari dan kuku tampak kebiruan,GDS:490,Ureum:157,Creatini:1,60
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutka intervensi
-             - catat bunyi jantung
-             - beri oksigen tambahan dengan
-               Kanul
-             - kolaborasi pemberian diuretic
-             - monitor vital sign
-           




No
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1.















2.















3.










SELASA
21–05-201619:00 WIB












SELASA 
21 - 05 -2016
19:00 WIB












SELASA
21 - 05 - 2016
19:00 WIB
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan keletihan otot pernafasan           













Kelebihan volume cairan

berhubungan dengan kelebihan

Asupan cairan dan natrium
















Resiko tinggi penurunan

perfusi jaringan jantung

berhubungan dengan menu-

runnya kemampuan pompa

ventrikel
-          S :  pasien mengatakan sesak nafas     
-                berkurang,nyeri dada sebelah kiri berkurang.
O : pasien nampak sesak,RR:26 x/menit.
A : Masalah  teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
-             - Pertahankan jalan nafas yang
-               Paten
-             - Observasi tanda-tanda    
-                Ventilasi
-             - Berikan terapi O2
-           - Monitor vital sign



S : Pasien Sesak nafas berkurang,
     Pasien mengatakan daerah tungkai bengkak`berkurang.
O : pasien Nampak sesak,Tampak odem ditungkai berkurang.RR:28x/menit.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
-              - Kaji adanya edema
-                ekstremitas
-              - Catat intake dan out put
-              - Monitor vital sign




S : pasien mengatakan Sesak nafas berkurang
O : Pasien masih sesak nafas,T:120/80 mmhg,RR:28 x/menit,N:100 x/menit,Ujung jari dan kuku tampak pucat,GDS:300,Ureum:123,Creatini:1,4
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutka intervensi
-             - catat bunyi jantung
-             - beri oksigen tambahan dengan
-               Kanul
-             - kolaborasi pemberian diuretic
-             - monitor vital sign
-           



No
Hari, tanggal, jam
Diagnosa keperawatan
SOAP
TTD
1.














2.















3.










RABU
22 - 05 -  2016
19:00 WIB











RABU
22 - 05 -2016
19:00 WIB












RABU
22 - 05 - 2016
19:00 WIB
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan keletihan otot pernafasan           












Kelebihan volume cairan

berhubungan dengan kelebihan

Asupan cairan dan natrium















Resiko tinggi penurunan

perfusi jaringan jantung

berhubungan dengan menu-

runnya kemampuan pompa

ventrikel
-          S :  pasien mengatakan Sesak nafas berkurang,nyeri dada tidak ada lagi.
O : pasien nampak sesak,RR:26x/menit.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
-             - Pertahankan jalan nafas yang
-               Paten
-             - Observasi tanda-tanda    
-                Ventilasi
-             - Berikan terapi O2
-           - Monitor vital sign



S : Pasien mengatakan  Sesak nafas berkurang,nyeri dada tidak ada.
     Pasien mengatakan daerah tungkai bengkak berkurang`
O : Pasien  nampak sesak,Tampak odem ditungkai berkurang,
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
-              - Kaji adanya edema
-                ekstremitas
-              - Catat intake dan out put
-              - Monitor vital sign



S : pasien mengatakan Sesak nafas berkurang.
O : pasien  nampak sesak nafas,T:120/80 mmhg,RR:26 x/menit,N:96 x/menit,Ujung jari dan kuku tampak kemerahan,GDS:250,Ureum:98,Creatini:1,3
A : Masalah  teratasi sebagian
P : Lanjutka intervensi
-             - catat bunyi jantung
-             - beri oksigen tambahan dengan
-               Kanul
-             - kolaborasi pemberian diuretic
-             - monitor vital sign
-           


ASUHAN KEPERAWATAN TN. R DENGAN CHF
DI RUANG ICU RSUD BREBES



logo_stikes_big













DI SUSUN OLEH

NAMA           :MULYANTO
NIM               
:15149041488211




PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) HARAPAN BANGSA PURWOKERTO
2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar