KONSEP DASAR
DENGUE HAEMORHAGIC FEVER
A. Pengertian
DHF (Dengue Haemorhagic Fever) atau
DBD (Demam Berdarah Dengue) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat
menghisap darah manusia.
Demam berdarah Dengue adalah Infeksi akut yang disebabkan oleh
arbovirus (arthropadborn Virus)
dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides albipices dan Aedes Aegypti).
Dengue
Hemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan
bertendensi menimbulkan syock, nyeri otot dan sendi dan kematian (Cristianti,
2000).
B. Etiologi
Virus dengue
yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
C. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke
dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi
ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial
seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada
DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat
penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding
kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta
aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler.
Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler
dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga
peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai
akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia
jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah
perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia,
gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan
proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran
darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati
yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi
H. PATHWAY
Virus
Dengue
Stimulus sel makrofag untuk Melalui
gigitan nyamuk
pirogen
andogen Beredar dalam aliran darah
Masuk
ke hipotalamus Viremia
Mengacaukan
termoregulasi Bereaksi dengan antibody
Hiperpireksia Pengaktifan sistem komplemen dan
|
HIPERTERMI
|
pelepasan anvilaktosin C3a &
C5a
Melepaskan histamin yang bersifat
vasoaktif
Hospitalisasi Permeabilitas dinding pembuluh darah
Perubahan status informasi Kebocoran
plasma intertisium
kesehatan inadekuat Jumlah
cairan intravaskular
Aidosis metabolik
|
RESIKO SYOK
|
|
ANSIETAS
|
|
DEFISIENSI PENGETAHUAN
|
Hematokrit
Suplai O2 ke jaringan tidak adekuat
{
hipoksia jaringan }
Mobilitas
usus Metabolisme anaerob
Menstimulasi medula vomiting Penimbunan asam laktat
Mual
, Muntah Ujung saraf
teriritasi oleh asam laktat
|
NYERI
|
Anoreksia Dehidrasi
|
KEKURANGAN VOLUME CAIRAN
|
Intake nutrisi berkurang
|
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KERANG
DARI KEBUTUHAN TUBUH
|
Energi
Kelemahan
, Aktivitas terbatas
|
INTOLERANSI AKTIVITAS
|
D. Manifestasi klinis
Demam
tinggi selama 5-7 hari
Perdarahan terutama perdarahan di
bawah kulit
Anoreksia, mual dan muntah, diare,
konstipasi
Sakit kepala
Tanda-tanda renjatan (sianosis,
kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, nadi cepat dan lemah)
Hematuria, melena, epistaksis,
hematemesis
Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar
geteh bening.
E. Klasifikasi DBD
Derajat I : Demam, uji
torniqet positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi
Derajat II : Perdarahan spontan
di kulit
Derajat III : Kegagalan
sirkulasi (nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin lembab, gelisah)
Derajat IV : Renjatan berat
(denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur)
F. Pemeriksaan Penunjang
Darah
1. Trombosit
menurun.
2. HB meningkat
lebih 20 %
3. HT meningkat
lebih 20 %
4. Leukosit
menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5. Protein
darah rendah
6. Ureum PH
bisa meningkat
7. NA dan CL
rendah
Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1. Rontgen
thorax : Efusi pleura.
2. Uji test
tourniket (+)
G. Penatalaksanaan
Terapeutik
Tirah baring
Pemberian makanan lunak
Pemberian cairan melalui infuse
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat,
nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan ,
mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl
109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
Anti konvulsi jika terjadi kejang
Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
Monitor adanya tanda-tanda renjatan
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
I. Diagnosa
keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi virus.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kehilangan volume cairan aktif.
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses
patologis penyakit.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia , mual dan muntah.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
f. Resiko syok berhubungan dengan
hipovilemik
g. Ansietas berhubungan dengan
perubahan status kesehatan
h. Defisiensi pengetahuan berhubungan
degan kurang familier dengan sumber informasi.
J. Intervensi keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi virus.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Menunjukkan suhu tubuh dalam
rentang normal.
- TTV normal.
|
Fever
Treatment :
-
Observasi tanda-tanda vital
tiap 3 jam.
-
Beri kompres hangat pada
bagian lipatan tubuh ( Paha dan aksila ).
-
Monitor intake dan output
-
Berikan obat anti piretik.
Temperature
Regulation
-
Beri banyak minum ( ± 1-1,5
liter/hari) sedikit tapi sering
-
Ganti pakaian klien dengan bahan tipis menyerap
keringat.
|
Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien.
-
Kompres hangat dapat mengembalikan suhu normal
memperlancar sirkulasi.
-
Untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan
tubuh.
-
Dapat menurunkan demam
-
Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan
tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
-
Pakaian yang tipis menyerap keringat dan membantu
mengurangi penguapan tubuh akibat dari peningkatan suhu dan dapat terjadi
konduksi.
|
b. Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kehilangan volume cairan aktif.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Menunjukkan keseimbangan
elektrolit dan asam basa
- Menunjukkan keseimbangan cairan
- Turgor
kulit baik
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
|
Fluid Managemen
- Kaji
keadaan umum klien dan tanda-tanda vital.
- Kaji input
dan output cairan.
- Observasi
adanya tanda-tanda syok
- Anjurkan
klien untuk banyak minum.
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan I.V.
|
-
Mengetahui dengan cepat
penyimpangan dari keadaan normalnya.
-
Mengetahui balance cairan dan
elektrolit dalam tubuh/homeostatis.
-
Agar dapat segera dilakukan
tindakan jika terjadi syok.
-
Asupan cairan sangat diperlukan
untuk menambah volume cairan tubuh
-
Pemberian cairan I.V sangat
penting bagi klien yang mengalami deficit volume cairan untuk memenuhi
kebutuhan cairan klien.
|
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses
patologis penyakit.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Dapat mengontrol nyeri
- Mengetahui tingkat nyeri
- Ekspresi wajah rileks.
|
Pain management
-
Lakukan
pengkajian nyeri secara kompherensif.
-
Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.
-
Berikan posisi yang nyaman dan ciptakan suasana ruangan yang tenang.
-
Berikan suasana gembira bagi pasien
Analgetic administration
-
Berikan analgesik sesuai tipe dan beratnya nyeri .
|
- Mengetahui nyeri yang dialami pasien sehingga perawat dapat menentukan
cara mengatasinya.
- Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan
intervensi yang sesuai dengan masalah klien.
- Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat membuat perasaan yang
nyaman pada pasien.
- Dengan suasana
gembira pasien
dapat sedikit mengalihkan perhatiannya
terhadap nyeri.
- Obat analgesik dapat menekankan rasa nyeri.
|
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia , mual dan muntah.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Menunjukkan kebutuhan nutrisi
terpenuhi.
- Memperlihatkan adanya selera makan
|
Nutrition
managemen
-
Kaji keadaan umum klien
-
Beri makanan sesuai kebutuhan
tubuh klien.
-
Anjurkan orang tua klien untuk
memberi makanan sedikit tapi sering.
-
Anjurkan orang tua klien
memberi makanan TKTP dalam bentuk lunak
Nutrition
Monitoring
-
Timbang berat badan klien tiap
hari.
-
Monitor mual dan muntah pasien
|
-
Memudahkan untuk intervensi selanjutnya
-
Merangsang nafsu makan klien sehingga klien mau
makan.
-
Makanan dalam porsi kecil tapi
sering memudahkan organ pencernaan dalam metabolisme.
-
Makanan dengan komposisi TKTP berfungsi membantu
mempercepat proses penyembuhan.
-
Berat badan merupakan salah
satu indicator pemenuhan nutrisi berhasil.
-
Untuk mengetahui status nutrisi pasien.
|
e. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Dapat berpartisipasi dalam
aktivitas fisik
- Dapat melakukan aktivitas
sehari-hari
- TTV normal
|
Activity
Therapy
-
Kaji hal-hal yang mampu dilakukan klien.
-
Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai
dengan tingkat keterbatasan klien
-
Beri penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu
dan meningkatkan kekuatan fisik klien.
-
Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL klien
-
Jelaskan pada keluarga dan klien tentang pentingnya
bedrest ditempat tidur.
|
- Mengetahui
tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya.
- Bantuan
sangat diperlukan klien pada saat kondisinya lemah dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari tanpa mengalami ketergantungan pada orang lain.
- Dengan
penjelasan, pasien termotivasi untuk kooperatif selama perawatan terutama
terhadap tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya.
- Keluarga
merupakan orang terdekat dengan klien
- Untuk
mencegah terjadinya keadaan yang lebih parah
|
f. Resiko syok berhubungan dengan
hipovilemik
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ... x 24 jam, pasien akan :
- TTV dalam batas normal
- Natrium serum, kalium serum,
kalsium serum, magnesium serum dalam batas normal.
- Hematokrit dalam batas normal
|
Syok
prevention
-
Monitor keadaan umum klien.
-
Observasi tanda-tanda vital
-
Monitor input dan output pasien
-
Anjurkan pada pasien/ keluarga untuk segera melapor
jika ada tanda-tanda perdarahan.
Syok
managemen
-
Cek hemoglobin, hematokrit, trombosit
-
Monitor gas darah dan oksigenasi
|
-
Memantau kondisi klien selama masa perawatan
terutama saat terjadi perdarahan sehingga tanda pra syok, syok dapat
ditangani.
-
Tanda vital dalam batas normal menandakan keadaan
umum klien baik
-
Mengetahui balance cairan dan
elektrolit dalam
-
Keterlibatan keluarga untuk segera melaporkan jika
terjadi perdarahan terhadap pasien sangat membantu tim perawatan untuk segera
melakukan tindakan yang tepat
-
untuk acuan melakukan tindak lanjut terhadap
perdarahan.
-
Untuk mengetahui adanya asodosis metabolik.
|
g. Ansietas berhubungan dengan
perubahan status kesehatan
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Mampu mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala cemas
- TTV normal
- Menunjukkan teknik untuk
mengontrol cemas
|
Anxiety
Reduction
-
Kaji tingkat kecemasan
-
Jelaskan prosedur pengobatan
perawatan.
-
Beri kesempatan pada orang tua untuk bertanya
tentang kondisi pasien.
-
Beri penjelasan tiap prosedur/ tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien dan manfaatnya bagi pasien
-
Beri dorongan spiritual.
|
-
Mengetahui kecemasan orang tua klien dan memudahkan
menentukan intervensi selanjutnya.
-
Untuk menambah pengetahuan dan informasi kepada
klien yang dapat mengurangi kecemasan orang tua.
-
Untuk memperoleh informasi yang lebih banyak dan
meningkatkan pengetahuan dan mengurangi stress.
-
Memberikan penjelasan tentang proses penyakit,
menjelaskan tentang kemungkinan pemberian perawatan intensif jika memang
diperlukan oleh pasien untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal
-
Memberi ketenangan kepada klien
dengan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
|
h. Defisiensi pengetahuan berhubungan degan kurang familier
dengan sumber informasi.
|
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
|
Intervensi
{ NIC }
|
Rasional
|
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
- Pasien dan keluarga menyatakan
pemahaman tentang penyakit , kondisi , prognosisdan program pengobatan
- Mampu melaksanakan yang dijelaskan
secara benar
|
Teaching: Disease Proses
- Kaji
tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF
- Kaji latar
belakang pendidikan klien/ keluarga.
- Jelaskan
tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan
bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
- Jelaskan
semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.
- Berikan
kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui
sehubungan dengan penyakit yang diderita klien.
|
- Sebagai data
fdasar pemberian informasi selanjutnya.
- Untuk
memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga
sehingga dapat dipahami.
- agar
informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman.
- Dengan
mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya, klien akan
kooperatif dan kecemasannya menurun.
- Mengurangi
kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.
|
DAFTAR PUSTAKA
Judith M. Wilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa Keperawatan
Nanda NIC NOC, Jakarta, EGC
Nurarif, Amin Huda % Kusuma, Hardhi, (2013), Aplikasi Asuhan Keperawatan
NANDA NIC-NOC, Jakarta, Medi Action Publishing.
Herdman, T. Heather. 2009. Diagnosa Keperawatan Nanda Internasional.
EGC. Jakarta
Pasaribu, Syahril. 1992. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara : Medan
Hendrayanto. 2004. Ilmu Penyakait Dalam : jilid 1. Jakarta : FKUI
Doenges, EM. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made
Kariasa, dkk. (2001), Jakarta, EGC.
Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar