Sabtu, 10 Desember 2016

LAPORAN PENDAHULUAN DHF




KONSEP DASAR
DENGUE HAEMORHAGIC FEVER

A.   Pengertian
DHF (Dengue Haemorhagic Fever) atau DBD (Demam Berdarah Dengue) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia. 
Demam berdarah Dengue adalah Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthropadborn Virus) dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides albipices dan Aedes Aegypti).
Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syock, nyeri otot dan sendi dan kematian (Cristianti, 2000).


B.   Etiologi
Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

C.   Patofisiologi      
    Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi


H. PATHWAY
Virus Dengue
 Stimulus sel makrofag  untuk       Melalui gigitan nyamuk
            pirogen andogen           Beredar dalam aliran darah
Masuk ke hipotalamus                    Viremia
Mengacaukan termoregulasi                   Bereaksi dengan antibody
                 Hiperpireksia       Pengaktifan sistem komplemen dan
HIPERTERMI
               pelepasan anvilaktosin C3a & C5a              

Melepaskan histamin yang bersifat vasoaktif               
   Hospitalisasi          Permeabilitas dinding pembuluh darah
Perubahan status    informasi       Kebocoran plasma intertisium
     kesehatan                         inadekuat     Jumlah cairan intravaskular                Aidosis metabolik
RESIKO SYOK

ANSIETAS

DEFISIENSI PENGETAHUAN
Hematokrit                                                      
  Suplai O2 ke jaringan tidak adekuat
{ hipoksia jaringan }

Mobilitas usus          Metabolisme anaerob
Menstimulasi medula vomiting     Penimbunan asam laktat
Mual , Muntah                      Ujung saraf teriritasi oleh asam laktat
NYERI
Anoreksia      Dehidrasi
KEKURANGAN  VOLUME CAIRAN
Intake nutrisi berkurang
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KERANG DARI KEBUTUHAN TUBUH
                                                                                                            Energi
                                                                                    Kelemahan , Aktivitas terbatas
INTOLERANSI AKTIVITAS

 
D.   Manifestasi klinis
     Demam tinggi selama 5-7 hari
     Perdarahan terutama perdarahan di bawah kulit
     Anoreksia, mual dan muntah, diare, konstipasi
     Sakit kepala
     Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,   gelisah, nadi cepat dan lemah)
     Hematuria, melena, epistaksis, hematemesis
     Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar geteh bening.

E.   Klasifikasi DBD
      Derajat I         : Demam, uji torniqet positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi
      Derajat II        : Perdarahan spontan di kulit
      Derajat III       : Kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin lembab, gelisah)
      Derajat IV      : Renjatan berat (denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur)

F.    Pemeriksaan Penunjang
      Darah
1.    Trombosit menurun.
2.    HB meningkat lebih 20 %
3.    HT meningkat lebih 20 %
4.    Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5.    Protein darah rendah
6.    Ureum PH bisa meningkat
7.    NA dan CL rendah
      Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1.    Rontgen thorax : Efusi pleura.
2.    Uji test tourniket (+)
 
G.   Penatalaksanaan Terapeutik

      Tirah baring
      Pemberian makanan lunak
      Pemberian cairan melalui infuse
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
      Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
      Anti konvulsi jika terjadi kejang
      Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
      Monitor adanya tanda-tanda renjatan
      Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
      Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
      Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.


 I. Diagnosa keperawatan
a.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus.
b.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.
c.    Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis penyakit.
d.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia , mual dan muntah.
e.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
f.     Resiko syok berhubungan dengan hipovilemik
g.    Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
h.    Defisiensi pengetahuan berhubungan degan kurang familier dengan sumber informasi.

 J. Intervensi keperawatan
a.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Menunjukkan suhu tubuh dalam rentang normal.
-       TTV normal.

      Fever Treatment :
-       Observasi tanda-tanda vital tiap 3  jam.



-       Beri kompres hangat pada bagian lipatan tubuh ( Paha dan aksila ).

-       Monitor intake dan output


-       Berikan obat anti piretik.


      Temperature Regulation
-       Beri banyak minum ( ± 1-1,5 liter/hari) sedikit tapi sering





-       Ganti pakaian klien dengan bahan tipis menyerap keringat.

 Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
-       Kompres hangat dapat mengembalikan suhu normal memperlancar sirkulasi.
-       Untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan tubuh.
-       Dapat menurunkan demam




-       Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
-       Pakaian yang tipis menyerap keringat dan membantu mengurangi penguapan tubuh akibat dari peningkatan suhu dan dapat terjadi konduksi.

b.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Menunjukkan keseimbangan elektrolit dan asam basa
-       Menunjukkan keseimbangan cairan
-       Turgor kulit baik
-       Tanda-tanda vital dalam batas normal
      Fluid Managemen
-       Kaji keadaan umum klien dan tanda-tanda vital.

-       Kaji input dan output cairan.


-       Observasi adanya tanda-tanda syok

-       Anjurkan klien untuk banyak minum.



-       Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan I.V.

-       Mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya.
-       Mengetahui balance cairan dan elektrolit dalam tubuh/homeostatis.
-       Agar dapat segera dilakukan tindakan jika terjadi syok.
-       Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh

-       Pemberian cairan I.V sangat penting bagi klien yang mengalami deficit volume cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.

c.    Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Dapat mengontrol nyeri
-       Mengetahui tingkat nyeri
-       Ekspresi wajah rileks.
      Pain management
-       Lakukan pengkajian nyeri secara kompherensif.



-       Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.




-       Berikan posisi yang nyaman dan ciptakan suasana ruangan yang tenang.


-       Berikan suasana  gembira bagi pasien




      Analgetic administration

-       Berikan analgesik sesuai tipe dan beratnya nyeri .

-       Mengetahui nyeri yang dialami pasien sehingga perawat dapat menentukan cara mengatasinya.
-       Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan masalah klien.
-       Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat membuat perasaan yang nyaman pada pasien.
-       Dengan suasana gembira pasien dapat sedikit mengalihkan perhatiannya terhadap nyeri.


-       Obat analgesik dapat menekankan rasa nyeri.

d.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia , mual dan muntah.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Menunjukkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
-       Memperlihatkan adanya selera makan
      Nutrition managemen
-       Kaji keadaan umum klien
-       Beri makanan sesuai kebutuhan tubuh klien.
-       Anjurkan orang tua klien untuk memberi makanan sedikit tapi sering.

-       Anjurkan orang tua klien memberi makanan TKTP dalam bentuk lunak


      Nutrition Monitoring

-       Timbang berat badan klien tiap hari.


-       Monitor mual dan muntah pasien

-       Memudahkan untuk intervensi selanjutnya
-       Merangsang nafsu makan klien sehingga klien mau makan.
-       Makanan dalam porsi kecil tapi sering memudahkan organ pencernaan dalam metabolisme.
-       Makanan dengan komposisi TKTP berfungsi membantu mempercepat proses penyembuhan.



-       Berat badan merupakan salah satu indicator pemenuhan nutrisi berhasil.
-       Untuk mengetahui status nutrisi pasien.

e.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Dapat berpartisipasi dalam aktivitas fisik
-       Dapat melakukan aktivitas sehari-hari
-       TTV normal
      Activity Therapy
-       Kaji hal-hal yang mampu dilakukan klien.

-       Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan klien




-       Beri penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu dan meningkatkan kekuatan fisik klien.



-       Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL klien
-       Jelaskan pada keluarga dan klien tentang pentingnya bedrest ditempat tidur.

-      Mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya.
-      Bantuan sangat diperlukan klien pada saat kondisinya lemah dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa mengalami ketergantungan pada orang lain.
-      Dengan penjelasan, pasien termotivasi untuk kooperatif selama perawatan terutama terhadap tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya.

-      Keluarga merupakan orang terdekat dengan klien
-      Untuk mencegah terjadinya keadaan yang lebih parah


f.     Resiko syok berhubungan dengan hipovilemik
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       TTV dalam batas normal
-       Natrium serum, kalium serum, kalsium serum, magnesium serum dalam batas normal.
-       Hematokrit dalam batas normal 
      Syok prevention
-       Monitor keadaan umum klien.





-       Observasi tanda-tanda vital


-       Monitor input dan output pasien


-       Anjurkan pada pasien/ keluarga untuk segera melapor jika ada tanda­-tanda perdarahan.



      Syok managemen
-       Cek hemoglobin, hematokrit, trombosit


-       Monitor gas darah dan oksigenasi

-       Memantau kondisi klien selama masa perawatan terutama saat terjadi perdarahan sehingga tanda pra syok, syok dapat ditangani.
-       Tanda vital dalam batas normal menandakan keadaan umum klien baik
-       Mengetahui balance cairan dan elektrolit dalam
-       Keterlibatan keluarga untuk segera melaporkan jika terjadi perdarahan terhadap pasien sangat membantu tim perawatan untuk segera melakukan tindakan yang tepat

-       untuk acuan melakukan tindak lanjut terhadap perdarahan.
-       Untuk mengetahui adanya asodosis metabolik.


g.    Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
-       TTV normal
-       Menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas
      Anxiety Reduction
-       Kaji tingkat kecemasan




-       Jelaskan prosedur pengobatan perawatan.



-       Beri kesempatan pada orang tua untuk bertanya tentang kondisi pasien.


-       Beri penjelasan tiap prosedur/ tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien dan manfaatnya bagi pasien






-       Beri dorongan spiritual.

-       Mengetahui kecemasan orang tua klien dan memudahkan menentukan intervensi selanjutnya.
-       Untuk menambah pengetahuan dan informasi kepada klien yang dapat mengurangi kecemasan orang tua.
-       Untuk memperoleh informasi yang lebih banyak dan meningkatkan pengetahuan dan mengurangi stress.
-       Memberikan penjelasan tentang proses penyakit, menjelaskan tentang kemungkinan pemberian perawatan intensif jika memang diperlukan oleh pasien untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal
-       Memberi ketenangan kepada klien dengan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.


h.    Defisiensi  pengetahuan berhubungan degan kurang familier dengan sumber informasi.
Tujuan & Kriteria Hasil
{ NOC }
Intervensi
{ NIC }
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, pasien akan :
-       Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit , kondisi , prognosisdan program pengobatan
-       Mampu melaksanakan yang dijelaskan secara benar
      Teaching: Disease Proses
-       Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF
-       Kaji latar belakang pendidikan klien/ keluarga.



-       Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
-       Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.


-       Berikan kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sehubungan dengan penyakit yang diderita klien.


-       Sebagai data fdasar pemberian informasi selanjutnya.

-       Untuk memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga sehingga dapat dipahami.
-       agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.


-       Dengan mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya, klien akan kooperatif dan kecemasannya menurun.
-       Mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.






DAFTAR PUSTAKA

     Judith M. Wilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa Keperawatan Nanda NIC NOC, Jakarta, EGC
     Nurarif, Amin Huda % Kusuma, Hardhi, (2013), Aplikasi Asuhan Keperawatan NANDA NIC-NOC, Jakarta, Medi Action Publishing.
     Herdman, T. Heather. 2009. Diagnosa Keperawatan Nanda Internasional. EGC. Jakarta
     Pasaribu, Syahril. 1992. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara : Medan
     Hendrayanto. 2004. Ilmu Penyakait Dalam : jilid 1. Jakarta : FKUI
     Doenges, EM. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. (2001), Jakarta, EGC.
     Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar