J.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Pola nafas
tidak efektif b.d imaturitas (defisiensi surfaktan dan ketidak-stabilan
alveolar).
2. Hipotermia
b.d berada di lingkungan yang dingin
3.
Resiko infeksi
b.d Prosedur
Infasif
K. INTERVENSI
KEPERAWATAN
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
NOC
|
NIC
|
1
|
Pola nafas tidak efektif b.d imaturitas (defisiensi
surfaktan dan ketidak-stabilan alveolar).
|
Status Respirasi :
Ventilasi (0403) :
1. Tidak bernafas mengguna-kan otot
pernafasan tambahan
2. Pernafasan 25 - 60 kali per menit
Batasan karakteristik:
a. Pernapasan pasien 30-60X/menit.
b. Pengembangan dada simetris.
c. Irama pernapasan teratur
d. Tidak ada retraksi dada saat
bernapas
e. Inspirasi dalam tidak ditemukan
f. Saat bernapas tidak memakai otot
napas tambahan
g. Bernapas mudah
h. Tidak ada suara napas tambahan
|
Manajemen
Jalan Nafas (3140) :
a. Bebaskan jalan nafas dengan posisi
leher ektensi jika memungkinkan.
b. Posisikan klien untuk
memaksimalkan ventilasi dan mengurangi dispnea
c. Auskultasi suara nafas
d. Monitor respirasi dan status
oksigen
Monitor Respirasi (3350) :
b. Monitoring kecepatan, irama,
kedalaman dan upaya nafas.
c. Monitor pergerakan, kesimetrisan
dada, retraksi dada dan alat bantu pernafasan
d. Monitor adanya cuping hidung
e. Monitor pola nafas : bradipnea,
takipnea, hiperventilasi, respirasi kusmaul, apnea
f. Monitor adanya lelemahan otot
diafragma
g. Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan dan ketidak adanya ventilasi dan bunyi nafas
|
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
NOC
|
NIC
|
2
|
Hipotermia b.d berada di lingkungan yang dingin
|
Termoregulasi Neonatus (0801) :
a.
Suhu axila 36-37˚ C
b.
Warna kulit merah muda
Batasan karakteristik:
1.
Penurunan suhu tu-buh di bawah ren-tang normal
2.
Pucat
3.
Menggigil
4.
Kulit dingin
5.
Dasar kuku sianosis
6. Pengisian
kapiler lambat
|
Pengobatan Hipotermi (3800) :
a.
Pindahkan bayi dari lingkungan yang dingin ke dalam
lingkungan / tempat yang hangat (didalam inkubator)
b.
Segera ganti pakaian bayi yang dingin dan basah
dengan pakaian yang hangat dan kering, berikan selimut.
c.
Monitor gejala dari hopotermia : fatigue, lemah,
apatis, perubahan warna kulit
d.
Monitor intake dan output
|
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
NOC
|
NIC
|
3
|
Resiko infeksi b.d
Batasan karakteristik:
1.
Prosedur Infasif
2.
Ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan
patogen
3.
Trauma
4.
Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan
5.
Ruptur membran amnion
6.
Agen farmasi (imunosupresan)
7.
Malnutrisi
8.
Peningkatan paparan lingkungan patogen
9.
Imonusupresi
10. Ketidakadekuatan
imum buatan
11. Tidak
adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon
inflamasi)
12. Tidak
adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan
kerja silia.
|
Immune
Status, Knowledge : Infection control, Risk control
Kriteria
Hasil :
1.
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2.
Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor
yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
3.
Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya
infeksi
4.
Jumlah leukosit dalam batas normal
5.
Menunjukkan perilaku hidup sehat
|
Infection
Control (Kontrol infeksi)
1.
Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2.
Pertahankan teknik isolasi
3.
Batasi pengunjung bila perlu
4.
Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan
saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
5.
Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
6.
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
kperawtan
7.
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
8.
Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan
alat
9.
Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk umum
10.
Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
11.
Tingktkan intake nutrisi
12.
Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection
Protection (proteksi terhadap infeksi)
1.
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2.
Monitor hitung granulosit, WBC
3.
Monitor kerentanan terhadap infeksi
4.
Batasi pengunjung
5.
Saring pengunjung terhadap penyakit menular
6.
Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar